Insane

MAJLIS KE EMPAT

Sikap Kaum Syi’ah Itsna Asyriyah terhadap Khalifah Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu

            Tapi sepenuh hati aku cinta

            Dan tahu bahwa itu benar adanya

            Pada Rasul dan Ash Shidiq ku mencinta

            Demi balasan yang baik keesokannya

Demi Allah, seseorang akan merasa tak berdaya dan lemah, tak tahu dari mana harus memulai dan sampai dimana mengakhiri, ketika ia akan menulis kisah perjalanan seorang  yang bumi tak pernah memberi tumpuan dan langit tak pernah memberi naungan pada seorang lelaki yang lebih mulia darinya setelah para Nabi dan Rasul. Lelaki yang Allah himpun padanya segala keutamaan dan segala keistemawaan makhluq hingga keseluruhan pribadinya berupa kebaikan.

            Ialah Ash Shidiq, sahabat yang pertama kali masuk Islam, orang  khusus disisi Nabi Shollalahu ‘alahi wasallam dan mutlak menjadi sahabat yang paling utama. Ia membenarkan Rasul tatkala manusia mendustakannya, tak sedikitpun ragu dalam menerima dakwah beliau ketika saudara dekat beliau sendiri ragu bahkan enggan. Ia berkorban untuk Rasul dengan jiwa dan hartanya, hingga Rasul bersabda,” Sesungguhnya Allah mengutusku kepada kalian dan kalian katakan bahwa aku berdusta sedang Abu Bakar berkata,” Ia benar”, dan ia berkorban untukku dengan jiwa dan hartanya.[47]

            Berapa banyak sahabat lain yang memeluk Islam lewat tangan beliau RA, dan berapa banyak budak yang telah ia bebaskan dengan hartanya hingga Rasul menjulukinya Ash Shiddiq (yang membenarkan) dan menjadikanya saudara seiman, Rasul menghadap  Rabnya dan ridha pada beliau,  semoga Allah meridhoi Abu Bakar.

            Tetapi kaum Syi’ah Itsna Asyriyah enggan melihat keutamaan dan kedekatan beliau dengan Rasul, hingga mereka melemparinya dengan kotoran aib dan cacat serta tuduhan miring akan keislaman juga akhlaq, menodai kehormatan dan melecehkan sifat amanah beliau, menusuknya dengan lisan yang amat tajam.       Akan saya sebutkan secara ringkas beberapa tuduhan menyakitkan dari kelompok ini yang hamba Allah yang paling baik sekalipun tidak selamat dari hantamannya.

            Diantaranya:

1.      Celaan Syi’ah akan kesungguhan Iman Abu Bakar.

Mereka mencela iman Abu Bakar dan mensifatinya dengan ‘lelaki jahat’ [48] yang melewatkan umurnya dengan kekafiran, menjadi hamba  berhala[49] dan penyembah patung[50] hingga tanduknya beruban dan bulu di belakang telinganya memutih.[51]

Tak hanya ini, mereka bahkan menganggap iman beliau seperti iman seorang Yahudi dan Nasrani karena beliau tidak mengikuti Muhammad dengan keyakinan bahwa beliau seorang Nabi melainkan seorang Malaikat.[52]  Oleh itu imannya tidak bisa dibenarkan. Ia juga terus menerus menyembah berhala sampai-sampai ia shalat dibelakang Nabi Shollalahu ‘alahi wasallam  sedang dilehernya ia gantungkan patung dan bersujud padanya”.[53]Ia juga membatalkan puasa dengan sengaja di siang hari bulan Ramadhan, minum khamr (arak) dan mengejek Nabi shollalahu ‘alahi wasallam”.[54]

             At Thusyi Asy Syi’i berkata ,” Diantara manusia ada yang meragukan keimanannya karena umat ada yang mengatakan ,” Ia tidak mengenal Allah sama sekali”.[55] Adapun Ibnu Tawus Asy Syi’i telah menetapkan bahwa Abu Bakar diragukan hidayah nya.[56]Demikian pula Al Majlisi.[57]

Soal batin beliau mereka mengklaim telah meneliti dan menurut analisa ini telah jelas bahwa ia kafir[58], mereka menyelewengkan sabda Rasul ,” Abu Bakar tak sedikitpun menggangguku” dengan anggapan batil mereka  dan berkata,” Ini ungkapan lampau artinya kekufuran Abu Bakar tak mempengaruhi Rasulullah shollalahu ‘alahi wasallam [59]

            Anggapan Syi’ah ini semuanya dusta semata, tak berhakekat dan tak berdalil, hanya menuruti rasa dengki atas Abu Bakar RA dan para sahabat Nabi yang lain. Ash Shidiq adalah Sahabat Rasulullah shollalahu ‘alahi wasallam sejak beliau diutus hingga wafat.

            Kaum Muslimin sepakat bahwa beliau adalah lelaki yang pertama kali masuk Islam, sedang Ali RA adalah anak kecil yang pertama kali berislam, wanita pertama adalah  Khadijah dan Zaid bin Haritsah adalah bekas budak yang pertama kali masuk Islam.[60]Ibnu Abbas ditanya,” Siapa yang pertama kali beriman ?” Beliau berkata,” Abu Bakar As Shidiq, tidakkah kau mendengar kata Hasan:

 

Jika engkau sedih mengingat saudaraku seiman

Maka ingatlah saudaramu Abu Bakar

Makhluk paling baik,sempurna dan adil setelah Nabi

Yang pertama kali menerima da’wahnya

            Orang kedua yang gigih dijalanNya

            Dan manusia pertama yang membenarkan Rasul

 

            Ketika Rasulullah shollalahu ‘alahi wasallam memaparkan Islam padanya, tak sedikitpun beliau ragu, beliau menerimanya dengan lapang dada. Rasulullah mengkisahkannya dalam sabda beliau, “Tidaklah aku menerangkan Islam pada seseorang melainkan ia enggan, kecuali Abu Bakar.”

            Syi’ah sendiri meriwayatkan kisah Islamnya Ali RA, bahwa beliau ragu dan berpikir ulang serta meminta Rasulullah agar perlahan dalam menyampaikan, beliau berkata pada Rasul,” Sesungguhnya agama ini menyelisihi agama bapakku, saya akan melihat dahulu”.-ini menurut Syi’ah-.

            Adapun dakwaan mereka mengenai Abu Bakar yang tidak beriman secara hakiki dan bahwa ia hidup terombang-ambing dalam keraguan dari hidayah adalah kedustaan menurut ijma’ kaum Muslimin. Tak ditemukan satu dalilpun yang bisa menguatkan tuduhan batil  ini. Kalau hanya tuduhan buta semata, sangat mungkin bagi orang membenci Amirul mukminin untuk berbuat hal serupa atas diri beliau. Akan tetapi beliau dan Abu Bakar sangatlah tidak pantas dinisbatkan pada tuduhan keji semacam itu. Keduanya adalah Sahabat mulia, penghulunya para wali Allah, dan manusia termulia setelah para Nabi dan Rasul…

            Yang menjadi bukti ketidakbenaran dari tuduhan bahwa iman As Shidiq tidak bisa dipercaya adalah riwayat mutawatir tentang pengkhususan Nabi atas beliau, kedekatannya yang sangat serta rasa cintanya pada beliau Shollalahu ‘alahi wasallam , sedang Nabi tidak mencintai kecuali yang baik: Bukhari dan selainya mentakhrij hadits dari Amru bin Al Ash bahwa ia bertanya pada Rasulullah ,” Siapakah orang yang paling anda cintai?”. Beliau menjawab,” Aisyah”. “ Dari kaum lelaki?”. “ Bapak Aisyah”, jawab beliau.

            Sebelum hijrah dan sebelum Rasulullah mempersunting Aisyah pun para sahabat telah mengetahui bahwa Abu Bakar adalah orang yang paling Rasul cintai. Tatkala Khadijah meninggal dunia , Khaulah binti Hakim bin Umayah Al Auqas istri dari Utsman bin Madz’un – saat itu di Makkah - berkata,” Wahai Rasulullah, tidakkah engkau ingin menikah?”. “Dengan siapa?” kata Rasulullah Shollalahu ‘alahi wasallam .” Ia berkata,” Anda ingin gadis atau janda?”. “ Jika janda siapa dan jika gadis siapa?” lanjut Rasulullah. “ Ia berkata,” Jika gadis ia adalah anak orang paling  engkau cintai, Aisyah Binti Abi Bakar Ash Shiddiq...”.

            Al Faruq Umar bin Khatab berkata,” Abu Bakar adalah penghulu kami, orang terbaik dan yang paling dicintai Rasulullah Shollalahu ‘alahi wasallam diantara kami,”[61]

Jika kaum Syi’ah tidak merasa berdosa menusukkan tuduhan-tuduhan ini pada sahabat yang paling pertama masuk Islam dan paling dicintai Rasulullah shollalahu ‘alahi wasallam maka kepada sahabat lain yang martabatnya lebih rendah dari beliau mereka lebih berani lagi.

Maka hati-hatilah wahai para hamba Allah…jangan terpedaya dengan perkataan mereka, ataupun ada perasaan yang mengusik hatimu, karena demi Allah semua itu hanya dusta belaka, tak ada dalil yang menguatkan sama sekali. Yang ada hanya rasa dengki pada  diri beliau dan saudara-saudaranya para sahabat lain yang Allah pilih dari sekian banyak manusia sebagai sahabat Rasul Allah yang paling mulia . Jika mereka membenci Abu Bakar, berarti mereka telah membenci orang yang paling dicintai Nabi dan Rasulmu, jika memang  engkau mencintai Nabi Shollalahu ‘alahi wasallam niscaya engkau akan mencintai orang yang Beliau cintai, karena tanda dari cinta adalah engkau mencintai apa yang dicintai kekasihmu.

2.      Klaim Syi’ah bahwa Abu Bakar meyakini Muhamad adalah seorang penyihir bukan Rasul.

As Shofar, Al Qummiy dan Al Mufid meriwayatkan dari Kholid bin Nujaih[62]-orang Syi’ah- ia berkata,” Aku berkata pada Bapakku, Abdullah Ja’far As Shadiq  ,” Demi diriku menjadi tebusanmu! Adakah Rasul dan keluarganya menyebut Abu Bakar dengan ‘Ash Shidiq’?”. Ia Menjawab ,” Ya”. “ Bagaimana bisa?”. Ia berkata,” Ketika Rasul bersamanya didalam gua Rasulullah Shollalahu ‘alahi wasallam  berkata,” Sungguh aku melihat kapal Ja’far bin Abi Talib dihantam badai dan tersesat”. Ia berkata,” Ya Rasulullah Shollalahu ‘alahi wa alihi wasallam ! Benarkah engkau melihatnya?”. “ Benar,” jawab Rasulullah Shollalahu ‘alahi wasallam”. “Dapatkah engkau memperlihatkannya padaku?”tanyanya. “ Mendekatlah padaku,”kata Rasul. Kemudian ia mendekat dan Rasul mengusap kedua matanya lalu berkata,” Lihatlah!”. Lalu Ia pun membuka matanya dan melihat sebuah kapal yang terombang-ambing di laut lalu ia melihat istana Madinah dan berkata pada dirinya sendiri,” Sekarang aku percaya bahwa engkau adalah seorang penyihir” . Rasul berkata,”Kamu adalah Ash Shidiq”[63].

Mereka juga menisbatkan riwayat dusta ini pada Abu Ja’far Al Baqir.[64] Sulaim bin Qais dalam kitabnya As Saqifah juga mengklaim ia mendengar kisah serupa dari Ali Bin Abi Thalib[65]. Inilah yang menjadi sebab Rasul memberi julukan “Ash Shidiq” pada Abu Bakar -menurut anggapan Syi’ah-.

Orangpun akan terheran-heran melihat akal mereka yang demikian lemah, buruknya tingkat pemahaman mereka serta perilaku mereka yang mudah membuat cerita palsu lagi batil demi mendukung aqidah mereka. Dalam cerita tersebut banyak sekali ditemukan hal-hal yang kontradiktif dari segi tempat ataupun waktu. Bagi  yang memperhatikan  akan sangat jelas kedustaan tersebut, bahkan orang yang minim pengetahuan dalam bidang Sirah Rasul dan para sahabat sekalipun akan mengetahuinya. Ditambah lagi isi cerita tersebut yang sangat membingungkan dan penuh ketololan serta kesamaran yang justru menunjukkan sifat dasar pembuatnya. Berbicara mengenai cerita dusta Kaum Syi’ah yang dinisbahkan pada para Imam yang suci ini ada dua sisi pandang:

Yang pertama, Memperlihatkan dengan jelas kedunguan kaum Syi’ah serta ketidaktahuan mereka akan sebab yang hakiki mengapa Abu Bakar disebut Ash Shidiq dan yang kedua menjelaskan kesamaran mereka dalam beristidlal dan adanya kontradiksi yang dalam cerita tersebut.

Maka tidaklah benar apa yang disangkakan orang Syi’ah bahwa sebab Abu Bakar dijuluki Ash Shidiq adalah sebagaimana yang mereka klaim melainkan beliau digelari demikian karena beliau bersegera membenarkan Nabi Shollalahu ‘alahi wasallam dan mendahului yang lainnya.

Al Hafidz Ibnu Hajar berkata,” Dijuluki Ash Shidiq karena beliau bersegera membenarkan Nabi Shollalahu ‘alahi wasallam. Dikatakan pula awal mula beliau digelari demikian ketika pagi hari dari malam terjadinya peristiwa Isra’. Hal ini sebagaimana terkandung dalam hadits riwayat Imam Bukhari dengan sanadnya dari Abu Darda’  dikabarkan dari Rasulullah Shollalahu ‘alahi wasallam bahwa beliau berkata,” Sesungguhnya Allah mengutusku kepada kalian dan kalian berkata “ kamu berdusta!” sedang Abu Bakar berkata,” Ia benar”. Dalam hadits ini terisyaratkan makna bahwa keislaman Abu Bakar mendahului semua sahabat Nabi Shollalahu ‘alahi wasallam .

Demikian pula yang diriwayatkan Al Hakim dalam Mustadrak, beliau berkata, “sanadnya sahih”, dari Aisyah Ra berkata,” Tatkala Nabi Shollalahu ‘alahi wasallam diisra’kan menuju Masjidul Aqsha orang-orang saling membicarakannya, dari mereka yang sebelumnya beriman dan membenarkanya ada yang ragu, lalu mereka mendatangi Abu Bakar dan berkata,” Apakah kamu tahu sahabatmu mengatakan bahwa Ia di Isra’kan semalam menuju  Masjidul Aqsha?” Abu Bakar berkata,” Benarkah ia mengatakan demikian?”. Mereka menjawab,” Ya”. “ Jika Ia berkata demikian maka ia benar” jawabnya. Mereka berkata,” Apakah anda percaya padanya bahwa ia pergi ke Masjidul Aqsha hanya semalam dan kembali sebelum subuh?”. “ Ya, bahkan aku akan percaya pada yang lebih dari itu. Aku membenarkannya perihal kabar dari langit baik pagi ataupun sore”. Oleh itu dia di juluki Ash Shidiq.

Rasulullah berulangkali menyebut gelar ini dan menerangkan bahwa yang dimaksudkan Ash Shiddiq adalah orang senantiasa membenarkan dan membenarkan dan membiasakan diri dengan sifat Sidq. Syaikhani – Bukhari dan Muslim- mentakhrij sebuah riwayat dari Abdullah bin Mas’ud Ra dan memarfu’kannya kepada Rasulullah Shollalahu ‘alahi wasallam ,” Hendaklah kalian bersifat sidq karena sidq itu menunjukan kalian pada kebaikan dan kebaikan menunjukkan jalan menuju Jannah, dan tidaklah seseorang bersikap sidq  membiasakan diri bersifat sidq melainkan akan ditulis disisi Allah sebagai orang yang Siddiq”.[66]

Keutamaan Abu Bakar bukan hanya terletak pada sikapnya yang selalu membenarkan Nabi tapi beliau mengtahui apa yang dikabarkan Nabi secara global maupun terperinci untuk kemudian beliau membenarkanya dan mempercayainya. Dengan begitu anggapan Syi’ah bahwa Abu Bakar dijuluki Ash Shiddiq adalah karena beliau – tatkala di gua- membatin bahwa rasulullah adalah seorang penyihir adalah sama sekali batil dengan dalil :

1.              Definisi As Sidq secara etimologi : Orang yang selalu membenarkan dan membuktikan perkataannya dengan amalan, batinnya sesuai dengan dzahirnya, serta selalu jujur dan sifat ini mendominasi dirinya …….[67].

Definisi ini ada pada riwayat dari Ibnu Mas’ud yang marfu’ yaitu tentang orang yang selalu bersikap sidq. Sedangkan orang Syi’ah mengklaimnya telah mengatakan bahwa rasul adalah tukang sihir. Mereka mendasarkan tuduhan ini dengan ketiadaan iman beliau dan sikap dzahir beliau yang menyelisihi batinnya, dan menurut mereka Rasulullah mengetahui kejahatan hatinya dan menghadiahinya gelar yang agung ini yang tidak diberikan selain pada orang yang memang selalu bersikap sidq dan mengetahuinya….

Maka bagaimana bisa hal ini terjadi, sedangkan seorang pembohong bukanlah As Shiddiq sebagaimana diriwayatkan dalam kitab mereka?! Pengarang Kitab Al Asy Atsiyat dengan sanadnya dari Ali bin Abi Talib, yang marfu’: “ Pendusta itu tidak bisa jujur dan menjadi saksi”.[68]

2.              Hijrah ke Habasyah terjadi beberapa tahun sebelum Nabi Hijrah ke Madinah seperti yang diceritakan para ahli sejarah[69], maka bagaimana mungkin Rasulullah melihat kapal Ja’far terombang-ambing dilaut dan memperlihatkannya pada Abu Bakar?! Padahal antara dua peristiwa itu ada rentang waktu yang sangat lama?! Sebab hijrah ke Habasyah terjadi beberapa tahun sebelum hijrah Rasul ke Madinah seperti yang kami sebutkan.

3.              Sebab penamaan Abu Bakar dengan gelar ini terdapat dalam sejumlah riwayat sahih yang mustafidz menurut ahli sunnah dan menjadi hujjah atas argumen ini dan membatalkannya. Telah kami sebutkan beberapa diantaranya.

Dengan sanggahan singkat ini jelaslah bahwa ash Shiddiq mendapat gelar ini karena beliau membenarkan Rasulullah Shollalahu ‘alahi wasallam dalam setiap apa yang beliau kabarkan dengan keyakinan yang sempurna secara ilmu, keinginan, perkataan dan perbuatan.  Dua tuduhan ini hanya sebagian kecil dari segepok tuduhan lain yang mereka hunjamkan atas diri Abu Bakar. Keduanya ibarat busa dalam banjir badang dari apa yang mereka tulis dalam kitab mereka.

 


[47] Sahih Al bukhary.5/67-68, kitab Al Manaqib, bab Fadhli Abi Bakr

[48] Seperti disebutkan Al Jaza’iri  Asy Syi’i dalam Al Anwar An Nu’maniyah 4/60.

[49] Disebutkan Al Bayadhi Asy Syi’i dalam As Shirat Al Mustaqim 3/155. Al Kasyani Asy Syi’i dalam Ilmu Al Yaqin 2/707.

[50] Al Kurki dalam Nufhatu Al LahutFie La’ni jibti wa At Taghut qaf3 alif.

[51] Al Kurki dalam  Al Nufhatu Al Lahut, Fie la’nil Jibt wa At Taghut qof 3/alif.

[52] Seperti disebutkan Al Haidar Al Amaly  Asy Syi’i dalam kitab Al Kasykul hal104.

[53] Al Kurki dalam An Nafhatu Al Nufhatu Al Lahut, Al Kurky. Fie la’nil Jibt wa At Taghut qof 3/alif. Al Anwar An Nu’maniyah 1/53.

[54] Al Burhan, Al Bahrani 1/500.

[55] Talkhis Asy Syafi, At Tusi hal.407.

[56] At Tara’if Ibnu Tawus hal.32.

[57] Mir’atu Al Uqul –syarh Ar Raudhah- Al Majlisi3/429-430.

[58] Al Kufi dalam Kitabnya Al Istighatsah fie bida’i ats Tsalatsah hal.20.

[59] Al Byadhi dalam As Sirat Al Mustaqim 3/149.

[60] Fadha’ilu AS Sahabah, Imam Ahmad 1/223-227. Tarikh Damsyiq, Ibnu Asakir 9/529. 534-538. Ar Raudh Al Anaq, Ibnu Zanjawaih qof 3/-8/ba’,86/ba’. As Sirah  An Nabawiyah, Ibnu Katsier 1/435.

[61] Ditakhrij Al Hakim ia berkata “Sahih ‘ala syart syaikhani”, tetapi keduanya tidak mentakhrij. Adz Dzahabi juga sepakat. Al Mustadrak, Al Hakim 3/66.

[62] Orang Syi’ah, Al Ma Maqoni Asy Syi’i  menghasankan haditsnya ( Tanqihul Maqal, Al Maqani 1/393).

[63] Basha’iru Ad Darajat Al Kubra, As Safar hal 444. Tafsir Al Qummy, Tarf Hajariyah hal.157,tarf Haditsah 1/290. Al Ikhtishas, Al Mufid hal. 19. Mukhtasar Basha’iru Ad Darajat, Al Haly hal 29.

[64] Basha’iru Ad Darajat Al Kubra, As Safar hal 444.Raudatu Al Kafi, AL Kulaini tarf Hajariyah hal.338, tarf Haditsah. Tafsir As Shafi, Al Kasyani 1/702. Al Burhan, Al Harani 2/125-126. Mir’atu Al Uqul , AL Majlisi 4/338.

[65] As Saqifah, Sulaim bin Qais hal.224-225.

[66] Sahihul Bukhari 8/46 kitab Al Adab, bab firman Allah ( ya ayyuhalladzina amanu itaqullah wakunu ma'’ as sadikin) Dan Sahih Muslim 4/2013 kitab Al Bir, bab Qabhu Al Kidzb wa husnu As Sidq.

[67] Lihat As Sihah , Al Jauhari 4/1506. Al muhkam Al Muhith Al A’dzam, Ibnu Sayyidihi 6/118. Manalu ath Thalib, Ibnu Al Atsier hal274.

[68] Al Asy Atsiyat, Al Asy’ats Al Kufi hal.80.

[69] As Sirah An Nabawiyah, Ibnu Hisyam 1/321. As Sirah An Nabawiyah, Ibnu Katsier 2/3-9.

 

Islamic Media Ibnuisa
Kritik & Saran
Counter
HOME