Polaroid

MAJLIS KE TUJUH

Sikap Syi’ah Itsna Asyriyah terhadap Asy Syahid Dzunnurain, Utsman Bin Affan radhiyallahu ‘anhu

Utsman Bin Affan termasuk sahabat angkatan pertama, orang ketiga setelah Umar dan Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu. Nabi Shollalahu ‘alahi wasallam menikahkannya dengan dua putri beliau secara berturut yang dengannya Utsman mendapatkan hubungan besan yang sangat mulia dengan Rasulullah Shollalahu ‘alahi wasallam hingga beliau menujulukinya dzu nurain ( yang memiliki dua cahaya). Seorang sahabat yang sangat pemalu, memiliki moral dan budi tinggi, lembut wataknya, halus budi bahasanya, legawa jiwanya, halus tabiatnya, suka berbuat kebaikan dan sangat pengsih, seorang Quraisy yang paling bijak dan memiliki pandangan yang sangat mulia.

            Kaumnya mencintainya karena akhlaknya yang mulia dan perilakunya yang terpuji sehingga kecintaan mereka menjadi satu permisalan, ada  seorang wanita quraisy  yang menimang anaknya sambil berkata :

            Aku mencintaimu juga Ar Rohman

            Seperti cinta Qurisy pada Utsman

            Beliau masuk Islam dan menjadi orang yang paling bertakwa, wara’ ( menjaga diri dari yang haram bahkan makruh)  dermawan dan murah hati, turut berperang bersama Rasulullah dalam berbagai peperangan. Menjabat khalifah setelah Abu Bakar dan Umar lalu mengajak manusia mengikuti sirah  Nabinya Shollalahu ‘alahi wasallam dan dua sahabatnya serta menauladani mereka sehingga umat bisa bersatu bersamanya.

            Meluasnya daerah yang bisa dibuka dan ditaklukkan dimasa pemerintahannya serta intervensi berbagai kelompok dalam kedaulatan Negeri Islam menjadi sebab juga konsekwensi dari masuknya para pendengki yang memusuhi Islam yang kemudian membentuk komplotan. Pembesar komplotan ini adalah seorang Yahudi bernama Abdullah bin Saba’. Ia memprovokasi manusia dengan mengatakan Utsman telah merubah sunnah Rasululah Shollalahu ‘alahi wasallam dan dua sahabatnya, maka berkumpulah disekitarnya para pembeo dan kaki tangan setan, mereka mendatangi Madinah lalu membunuh Khalifah Ar Rasyid Utsman bin Affan, para sahabat yang menyaksikan tidak bisa berbuat apapun karena sumpah beliau agar mengekang tangan dan jangan menumpahkan setetes darah  pun.. Hati mereka pun menangis sebelum mata melelehkan airmata, kesedihan tak terperi bagai menyaksikan anak sendiri dibunuh didepan mata.

            Sejak saat itu kaum muslimin terus menerus menangis hari demi hari bulan demi bulan atas khalifah yang terdzalimi tapi sangat penyabar, menebus kaum muslimin dengan dirinya, menjaga darah mereka dengan darahnya.. Maka merekapun ridha padanya, mengasihinya dan bersaksi atas semua pengorbanannya, keutamaannya serta kepribadianya….. semoga Allah meridhoinya. Ti tidak demikan halnya Kaum Syi’ah, meski melihat semua itu mereka tetap menusuknya  dengan lidah tajam mereka dengan berbagai tuduhan menyakitkan tanpa melihat kedekatan beliau dengan Rasulullah Shollalahu ‘alahi wasallam dan keistimewaannya.

 Diantara tuduhan itu :

1.      Hinaan mereka terhadap ahklak beliau.

Kebaikan akhlak Utsman telah ditetapkan oleh banyak riwayat yang jumlahnya mencapai batas mutawatir ma’nawi hingga jika  seseorang  mengingkari kebaikan akhlaknya dan pengorbanannya yang mulia itu  niscaya manusia seluruhnya akan bangkit menentangnya dan mencelanya seraya berkata ,” Sungguh orang ini adalah pendusta”.

Saya sendiri tidak mengerti bagaimana bisa Kaum Syi’ah menghalalkan berbuat bohong dan mengatakan sesuatu yang menyanggah riwayat yang muawatir secara lafal maupun ma’na. Hingga orang yang membaca apa yang mereka tulis akan mencapnya dengan ‘kedustaan’?!. Lalu mereka mengatakan hal itu sebagai taqiyah . Saya tidak melihat selain bahwa taqiyah adalah legitimasi mereka untuk menyelisihi perkara-perkara yang mutawatir. Oleh karena itu kita lihat mereka mengarahkan berbagai tuduhan dan celaan terhadap  akhlak sahabat mulia Utsman Bin Affan dan mensifatinya ‘Seorang Pezina yang tercekik yang bermain dengan hasrat,perut dan kemaluannya’…..dst.

Mereka menamainya dengan ‘Na’tsal’ ( anjing hutan jantan) mereka menyebut beliau dengan nama itu karena menurut mereka ada kemiripan yang sangat antara Sahabat Utsman Bin Affan RA dengan anjing hutan jantan. Anjing hutan jantan jika memburu mangsanya ia menyetubuhinya terlebih dulu baru memakannya, sedang Utsman Bin Affan – beliau suci dari tuduhan ini- Ia menetapkan hukum had bagi seorang wanita lalu ia menjimaknya untuk kemudian menyuruh merajamnya –menurut mereka-.[185]

Menurut Syaih beliau tidak hanya berzina tapi juga bermain-main dengannya bahkan beliau adalah seorang banci.[186]

Merek menisbatkan sebuah perkataan dusta kepada Ali Ra bahwa ia berkata tentang Utsman,”Hasratnya hanya perut dan kemaluan: Diriwayatkan dari Al Kulaini dengan sanadnya dalam kitab Al Kafi dari Ali Bin Abi Thalib ia berkata dalam salah satu khutbahnya,” Dua orang telah mendahului, dan yang ketiga seperti burung gagak, hasratnya hanya  perut dan kemaluanya, celakalah ia jika sayapnya digunting dan kepalanya dipotong niscaya itu lebih baik baginya”[187].Al Majlisi dalam Syarhnya mengatakan ,” Yang ketiga adalah Utsman dan dua orang yang mendahuluinya adalah Abu Bakar dn Umar”[188]. Mereka juga mengatkan Utsman tidak pernah peduli halalkah yang makan atau haram : Al Kulaini menyadarkan riwayat dusta pada Ja’far Ash Shadiq ia berkata,” Sesungguhnya temannya Utsman tidak pernah peduli halalkah makanannya atau haram, karena temanya juga seperti itu”[189]. Maksud dari temannya adalah Utsman Bin Affan RA. Tuduhan-tuduhan ini mereka hujamkan atas orang yang Rasul kabarkan bahwa malaikat saja malu kepadanya.[190].

Dan juga beliau beritahukan kepada sejumlah besar manusia bahwa belaiu tidak pernah berzina baik di masa jahiliyah maupun Islam.[191]

Adapun yang mereka katakan bahwa Ali RA berkata bahwa “ Hasratnya hanya perut dan kemaluan “ adalah sama sekali bohong yang benar adalah bahwa beliau memuji Utsman dengan berkata,” Dia terbaik diantara kami dan persendian kami”.[192] Juga,” Dia termasuk yang beriman lalu bertakwa lalu beriman lalu bertakwa”.[193]

Perkatan beliau yang berisisi pujian kepadanya sangatlah banyak yang kesemuanya itu mengugurkan apa yang dinisbatkan Syi’ah atas diri beliau yang mengatakan,” Hasratnya hanya perut dan kemaluan” dan menjadi saksi akan kedustaan dan sikap mengada-ada kaum Syi’ah terhadap orang yang mereka anggap sebagai Imam mereka.

Ada satu riwayat yang juga menyanggah tuduhan itu yaitu ketika masa pemerintahannya beliau memberi makan orang-orang dengan makan para pejabat sedang beliau hanya makan cuka dan zaitun. Maka akankah perut yang hanya makan cuka dan zaitun dijadikan bahan olokan ?![194]

2.      Klaim Syi’ah Itsna asyriyah bahwa Utsman Bin Affan Adalah seorang munafik lagi kafir dan wajib berlepas diri darinya.

Mereka mengklaim  Utsman adalah seorang munafik yang menampakkan Islam dan menyembunyikan nifak.[195]

Ni’matullah Al Jaza’iri berkata :”Sesungguhnya Utsman dizaman Nabi Shollalahu ‘alahi wasallam adalah orang yang menampakkan keislaman dan menyembunyikan nifak.

Al Kurky berkata ,” Sesungguhnya orang yang dihatinya tidak memusuhi Utsman, menghalalkan kehormatannya dan tidak meyakini kekafirannya maka dia adalah musuh Allah dan RasulNya, kafir terhadap apa yang diturunkan Allah.[196]

Jadi, masalahnya tidak hanya pengkafiran Utsman RA bahkan mereka juga mengkafirkan orang yang tidak membencinya, mengkafirkan, mencela dan merendahkan martabat beliau RA. Dan  yang mereka maksudkan adalah anda sekalian wahai kaum muslimin.

Tidak cukup itu mereka juga mewajibkan laknat dan berlepas diri dari beliau RA[197]. Siapa yang membaca literatur mereka akan melihat keanehan yang nyata.

Maka tak diragukan lagi perbutan semacam ini jelas dianggap menyelisihi Rasulullah Shollalahu ‘alahi wasallam dan Allah telah menjanjikan bagi siapa saja yang menyelisihi Rasulnya dengan fitnah didunia dan azab yang keras di akhirat dengan firmannya,:

Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau azab yang pedih (An Nur 63.)

Rasulullah Shollalahu ‘alahi wasallam memberikan kabar gembira pada Utsman RA dengan Jannah[198]. Menikahkannya dengan putri beliau, Ruqayyah [199] dan ketika Ruqayyah wafat Rasul menikahkan putrinya yang lain yakni Ummu Kultsum. Ketika Ummu Kultsum[200] pun wafat, bersedihlah Utsman saat itu Rasulullah Shollalahu ‘alahi wasallam bersabda,” Jika aku memiliki yang ketiga niscaya aku nikahkan ia dengan Utsman.”[201]

Telah kita ketahui bahwa seorang munafiq lagi kafir tidak akan masuk jannah  bahkan  diharamkan  atasnya, maka bagaimana bisa disatukan hukum kafir dan munafik kaum Syi’ah atas Utsman dengan kabar gembira dari Rasul bahwa Utsman adalah ahli surga?! Kemudian mengapa Rasul menikahkan dua putrinya secara berturut dengan Utsman sedang beliau –menurut mereka- adalah orang kafir munafik?!!!

Semua ini menunjukkan pada kita bahwa tuduhan Syi’ah menyelisihi Rasulullah Shollalahu ‘alahi wasallam yang memberinya busyro ( kabar gembira) berupa Jannah dan menikahkan dua putrinya dengannya setelah mengetahui dien, akhlak serta keutamaannya. Lalu Rasulullah pun wafat sedang beliau ridha terhadap Utsman RA.[202]

3.      Klaim Syi’ah bahwa Utsman telah membunuh putri Rsulullah Shollalahu ‘alahi wasallam

Mereka mengklaim Utsman telah membunuh Ruqayah putri Rasulullah Shollalahu ‘alahi wasallam, mereka berdalil dengan beberapa ayat dan berdusta dengan mengatakan ayat-ayat tersebut turun karenanya, diantaranya firman Allah dalam surat Al Balad ayat 5-10 :

Apakah manusia itu menyangka bahwa sekali-kali tidak seorangpun yang berkuasa atasnya?

Dia mengatakan,” aku telah menghabiskan harta yang banyak”.

Bukankah kami telah memberikan kepadanya dua buah mata?

Lidah dan dua buah bibir

Dakami telah tunjukkan kepadanya dua jalan?

Al Qummi meriwayatkan dengan sanadnya dari Abi Ja’far Al Baqir –Rahimallah, tidak mungkin kedustaan besar ini teriwayatkan darinya- tentang tafsir ayat ‘Ayahsabu…’.Beliau berkata “ Yaitu Utsman tentang pembunuhan atas putri Rasulullah Shallallahu alaihi waalihi. “Yaqulu ahlaktu…” yakni harta yang disiapkan Nabi untuk Jaisyu Al ‘Usrah.’”ayahsabu…” kerusakan yang ada pada dirinya.” ‘alam naj’al…” yakni Rasulullah dan keluarganya..” Walisanan” Yakni Amirul Mukminin ( Ali Ra ) .”wasyafatain” Al Hasan dan Al Husein RA. “ Wahadainahu An Najdain”

Al Kulaini menyandarkkan riwayat pada  Abu Basir dalam kitab Al kafi ia berkata,” Aku berkata pada Abu Abdullah ( Ali) “Adakah orang yang terlepas dari himpitan Kubur?” Beliau menjawab ,” Na’udzubillah min dzalik, sangat sedikit orang yang selamat dari himpitan kubur, Sesungguhnya Ruqayah ketika dibunuh oleh Utsman, Rasulullah berdiri diatas kiuburnya dan menatap langit sambil menitikkan airmata dan bersabda kepada manusia,” Aku teringat akan anak ini tapi aku tidak bisa bertemu, aku terharu dan memohonkan keselamatan atasnya dari himpitan kubur dan dikabulkan”.[203]

Soal bagaimana Utsman membunuhnya, Al Baidhawi Asy Syi’i berkata,” Ia memukulnya hingga mati.[204]Mereka juga mengatakan Ruqayah takut kepada Utsman dan berdo’a kepada Allah agar diselamatkan darinya dan dari perbuatannya. Syarafuddin An Najfi meriwayatkan dari  Abu Abdullah Ja’far bin Muhammad bin Li Ash Shadiq berkata tentang tafsir firman Allah

Dan Allah telah menjadikan istri Fir’aun perumpamaan bagi orang-orang yang beriman , ketika ia berkata:” Ya tuhanku bangunlah untukku sebuah rumah disisi-Mu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya dan selamatkanlah aku dari kaum yang zalim ( At Tahrim;11)

 “ Permisalan ini Allah tujukan kepada Ruqayah binti Muhammad yang diperistri Utsman Bin Affan. “ Dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan amal perbuatanya” yaitu dari yang ketiga Utsman”.[205]

Hasyim Ma’ruf Al Hasani – seorang Syi’ah Mu’ashirin- berkata,”Beberapa riwayat menunjukan bahwa Utsman bin Affan bukan sahabat yang baik dan tidak menjaga Rasulullah Shollalahu ‘alahi wasallam, Ia menikah dengan lebih dari satu wanita dan semua istrinya mati karena bekas pukulan kerasnya hingga meremukkan tulang rusuk…”.[206] Dengan demikian Syi’ah, salaf maupun kholafnya sepakat bahwa Utsman membunuh Ruqayah. Tuduhan batil  ini tentu saja tertolak dengan dalil-dalil sebagai berikut:

  1. Kita telah mengetahui akan sifatnya yang pemalu, Rasulullah bersabda,:

 

Umatku yang paling pengasih Abu Bakar, yang paling keras dalam diennya Umar dan yang paling jujur rasa malunya Utsman…”[207]

Dimuka telah kami sebutkan hadits bahwa Rasul mensifatinya dengan sifat pemalu hingga para malaikatpun merasa malu padanya.[208]

Rasa malu seluruhnya adalah kebaikan[209], seperti sabda Rasulullah Shollalahu ‘alahi wasallam

‘Wahuwa la ya’ti illa bikhoir[210]’ “ Ia tidak mendatangkan kecuali yang baik. Wahuwa minal iman” ia sebagian dari iman[211]. “ Ia tidak terdapat dalam apapun melainkan akan menghiasinya”[212]. Huwa disini adalah al Haya’ ( rasa malu) satu perilaku yang mendorong seseorang meniggalkan perbuatan buruk . Rasulullah bersabda,”

 

“Sesungguhnya  yang manusia dapati dari kalam nubuwah yang pertama “ jika tidak malu berbuatlah sesukamu”.[213]Jika manusia kehilangan rasa malunya maka tidak ada lagi yang menghalanginya dari berbuatan keji dan melanggar larangan, maka jika Allah memberikan sifat ini pada seseorang maka ia telah dikaruniai kebaikan yang sangat banyak.

  1. Dalil kedua: Hadits yang ditakhrij Imam Ahmad , Al Hakim , Ad Daulabi dari hadits Abu Hurairah bahwa Ruqayah RA berkata,” Rasulullah Shollalahu ‘alahi wasallam datang kepadaku, lalu aku menyisir rambutnya, beliau berkata,” Bagaimana Abu Abdulah – Utsman-? Aku berkata,” Ia sebaik-baik pria”. Beliau bersabda,” Muliakanlah ia, karena ia sahabatku yang paling mirip akhlaknya denganku”.[214] Dalam riwayat lain Ummu Kultsumlah yang mengatakan hal ini.[215]

Mana bukti bahwa Utsman telah membunuhya, dan bahwa Ruqayah berdo’a kepada Allah agar diselamatkan darinya dan dari perbuatannya!?.

Hadits diatas menyebutkan pujian Ruqayah atas Utsman bahwa ia adalah sebaik-baik lelaki lalu dibenarkan oleh bapaknya,Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam dan menambahkan satu sifat lain bahwa Utsman adalah sahabatnya yang paling       mirip akhlaknya dengan beliau. Maka barangsiapa yang mencela Utsman maka ia telah mencela orang yang menyerupakan akhlak Utsman seperti akhlaknya, yakni Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam yang maksum yang tidak berbicara dari hawa nafsu –nyawa dan darahku menjadi tebusannya-.

 

  1. Dalil ketiga : Rasulullah menikahkan putrinya yang lain, Ummu Kultsum dengan Utsman setelah saudaranya, Ruqayah meninggal. Sebagian Syi’ah mengakui hal ini, seperti Al Fadhl Bin AL Hasan At Tabrisi  yang berkata,” Utsman menikahi Ummu Kultsum setelah kematian istrinya Ruqayyah.[216] Al Qumi dan Al Abasi juga mengisyaratkan halserupa.[217]

Jika Utsman telah mmbunuh salah putri Rasulullah  mengapa rasulullah menikahkanya dengan putri beliau yang lain??!

Bagaimana dengan sabda beliau ketika putri keduanya juga meninggal,” Jika mereka ada sepuluh niscaya aku nikahkan mereka dengan Utsman, dan akau tidak menikahkan kecuali berdasar wahyu dari langit”.??[218]

Kenyataan ini saya paparkan pada anda sekalian saudaraku pembaca budiman , Apa yang telah Ulama’ sebutkan dalam kitab-kitab mereka ini menunjukkan kepada anda sekalian bahwa tuduhan Syi’ah ini tidak jauh berbeda dengan berbagai tuduhan lain yang mereka hujamkan pada hamba-hamba Allah yang terbaik, sahabat Nabi Shollalahu ‘alahi wasallam. Semua ini tak lebih dari buah pikiran yang terdikte dari keyakinan mereka yang bercokol dihati lalu menelurkan kebencian kepada generasi manusia yang paling baik. Hanya saja Ia ibarat rumah laba-laba, lemah dan mudah putus.

Al Uqaili dan Ibnu ‘Adi berkata dengan sanad keduanya dari Ibad bin Ibad bahwa Yunus bin Khabab Al Usaidi –seorang Syi’ah Rafidhoh- berkata,” Sesungguhnya Utsman telah membunuh dua putri Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam,”. Ibad menjawab,” Jika Ia membunuh yang satu mengapa Rasul menikahkannya dengan yang lain ?!”[219] . Maka orang syi’ah tadi tercengang dan tidak bisa menjawab.

Sebagian Syi’ah berpendapat yang dibunuh Utsman adalah Ummu Kultsum sehingga Rasul tidak menikahkannya lagi. Ni’matullah Al Jaza’iri berkata,” Utsman juga mempersunting Ummu Kultsum setelah istrinya Ruqayah wafat disebabkan pukulan kerasnya yang menyebabkan kematianya.[220] Tapi ini tidak diterima dikalangan Syi’ah sebab ini menyelisihi riwayat dari para Imam mereka yang mengatakan bahwa yang dibunuh Utsman adalah Ruqayah bukan Ummu Kultsum. Telah kami sebutkan hadits Rasulullah Shollalahu ‘alahi wasallam ,” Jika mereka ada sepuluh niscaya akan aku nikahkan mereka dengan Utsman”.  Hadits ini membatalkan klaim mereka bahwa Rasul tidak menikahkan Utsman lagi setelah membunuh putrinya.

4.      Dalil ke empat: Kisah ini sama sekali  tidak terdapat dalam kitab Ahli Sunah, hanya Kaum Syi’ah saja yang menyebutkannya…jika hal ini benar terjadi niscaya riwayat ini akan mengalir dari para perowi tarikh apalagi peristiwa ini terjadi di zaman Nabi Shollalahu ‘alahi wasallam, di depan mata dan didengar telinga beliau, lalu apakah beliau melupakanya dan tidak menegakkan had bunuh bagi pembunuh – ini jika dipahami dari maksud mereka-. Sedang Rasul adalah orang yang tegas dalam menegakkan had dan tidak pernah takut celaan para pencela dalam menegakkan hukum Allah, beliaulah yang berkata ketiak seorang wanita Al Makhzumiyah mencuri,” Jika ia Fatimah niscaya aku potong tangannya”. [221]

5.      Ayat-ayat yang dipakai sebagai landasan mereka ini dita’wilkan dengan takwil batini–menurut anggapan mereka- yang tak seorangpun bisa melakukannya kecuali malaikat yang dekat sekali dengan Rabnya atau Nabi yang diutus, atau hamba yang Allah uji hatinya kerana Iman. [222] Padahal Al Qur’an turun dengan bahasa Arab dan dipahami dengan bahasa Arab pula. Allah Berfrman

Sesungguhnya kami menurunkannya berupa Al Qur’an dengan bahasa Arab agar kamu memahaminya (Yusuf ;2)

Akan tetapi tafsir batini kaum Syi’ah adalah tafsir  yang sama sekali tidak bisa dinalar, hal ini mereka akui dan mereka nisbahkan kepada imam-imam mereka.[223]

Jika diperhatikan, sisi kebatinan yang mereka pakai dalam menakwilkan ayat-ayat ini sangat kentara sekali. Mereka mengatakan maksud “Dua mata” adalah Rasulullah Shollalahu ‘alahi wasallam dan Ali Bin Abi Thalib, “ Dua bibir”  adalah Al hasan dan Al Husein dan “ najdain” keduanya tidak tertuduh. Ini tidak masuk akal sama sekali dan mereka pun mengakuinya dalam kitab-kitab mereka. Dan jelas Al Qur’an tidak ditakwilkan dengan takwil semacam ini  .

Tak satu pun mufasir yang mengatakan ayat ini turun berkenan dengan Utsman seperti anggapan mereka.[224]Maka jelaslah kini wahai saudara muslimku, yang mencintai Rasulullah Shollalahu ‘alahi wasallam, Ahli bait dan para sahabat RA apa yang dituduhkan kaum Syi’ah atas para sahabat-sahabat terbaik juga  celaan, laknat dan kewajiban berlepas diri dari mereka hanyalah sesuatu yang muncul dari akidah bobrok yang dilandaskan pada kebencian atas para sahabat RA.

 


[185] As Shirat Al Mustaqim, Al Bayadhi 3/30.Ihqaqu Al Haq, At Tustury hal.306.

[186] idem

[187] Ar Raudhah min Al kafi, Al Kulaini hal 277-279. Al Jumal, Al Mufid hal 62. At Taraf, Ibnu Tawus hal 417.

[188] Mir’atu Al Uqul Syarh Raudhah, Al Majlisi 4/278-279.

[189] Ar Raudhah min Al Kafi, Al Kulaini hal 333.

[190] Sahih Muslim 4/1866-1867 kitab Fadhoilu Sahabah bab Min Fadholi Utsman bin ffan.

[191] Musnad Ahmad 1/61-62 kitab fadhoilu sahabah miliknya 1/464-466,495,496,508. Tabaqat Ibnu Sa’ad 3/67. Tarikhul madinah,Ibnu Syibh 2/358.

[192] Fadhoilu Sahabah, Imam Ahmad 1/468.

[193] Idem hal.1/474. Disahihkan oleh pentahqiq.

[194] Disebutkan oleh Al Muhib At Tabari dan berkata,” ditakhrij oleh pemilik Aswah wal Mala’i wal Fadhoili, Ar Riyadh An nadhrah 2/44.

[195] Al Anwar An Nu’mainyah 1/81

[196] Nufhatu Al Lahut, Al Kurky. q 57/alif.

[197] Al Mishbah, Al Kaf’amy hal.37. Ilmu Al Yakin, Al Kasyani 2/768. Al Fushul Al Muhimah, Al Hurr Al Amily hal.170. Mafatihu Al Jinan, Abbas Al Qummy hal.212.

[198] Sahih Al Bukhary 4/64 kitab Al Washaya bab “Idza waqafa ardhan”.

[199] Sahih Al Bukhary 5/85. Kitab fadhailu Sahabah bab Manaqibu Utsman Bin Affan RA

[200] Adz Dzari’ah At Thahirah , Al Jaulaby  hal 59.

[201] Tabaqat Ibnu Sa’ad 3/56.

[202] Sahih Al Bukhari 3/213 kitab Al Jana’iz. Bab ma ja’a fie qabri utsman.

[203] Al Furu’ minal Kafi – tha’ Hajariyah- 2/222. Haqqul yaqin, Abdullah Sybr.2/83.

[204] Ash Shirat Al Mustaqim.3/34.

[205] Dinukil Al Bahrani dalam Al Burhan 3/354. Ada beberapa riwayat lain yang menyebutkan secara sharih bahwa yang dimaksud At Tsalits adalah Utsman. Mereka menyematkan gelar ini karena Utsman adalah orang ketiga yang merampas kekhalifahan. Tafsir Al Qummi –tha’ Hajariyah- hal.266. tha’ haditsah, 2/107. Tafsir Ash Shafi, Al Kasyani 2/173.,820. Al Burhan, Al Bahrani 3/133, 140-141,4/463-464.

[206] Sirah Al A’imah Al Itsna Asyriyah, Hasyim Al Husaini 1/67.

[207] Ditakhrij Ahmad dengan sanad shaih dan Ibnu Majah juga selainya, Sunan Ibnu Majah 1/55, Al Muqaddimah, bab fadhoilu Shabah, Musnad Ahmad 1/74. 3/184,281. Fadhoilu Shabah 1/49.4.

[208] Sahih Muslim 4/1867-1866 kitab fadhoilu sahabah bab fadhoilu Utsman bin ffan RA.

[209] Sahh Muslim 1/64 Kitabul Ima bab bayanu ‘adadi syu’abil iman.

[210] Sahih Al Bukhari 8/53 kitab Al Adab bab Al Haya’

[211] idem

[212] Jami’u At Tirmidzi Belaiu menghasankan 84/364. Kitab Al birr.

[213] Sahih Al Bukhari 8/53 kitab Al Adab bab Al Haya’

[214] Muhaqqiq Kitab Fadhoilu sahabah sanad dua riwayat dari Imam Ahmad. Fadhoiluu sahabah 1/510,514. Al Mustadrak, Al Hakim 4/48. Adz Dzuriyah Ath Thohirah An Nabawiyah, Ad Daulabi hal 55-56.

[215] Adz Dzuriyah Ath Thohirah An Nabawiyah, Ad Daulabi hal 51.

[216] I’lamul Wara, Al Fadhl Bin Al Hasan At Tabrisi hal 148.

[217] A Mishbah al Kaf’ami 37. Miftahul Jinan, Abas Al Qummi 212.

[218] Al Haitsami berkata,” Diriwayatkan Ath Tabrani dalam hadits yang panjang dalam sanadnya terdapat Abdurrahman dia seorang yang (layyin) lemah dan sisanya tsiqat ( terpercaya) beliau menyebutkan hadits lain, Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda,” Aku tidak menikahkan Ummu Kultsum dengan Utsman kecuali karena wahyu dari langit”. Al Haitsami berkata, “ sanadnya hasan didahului beberapa syawahid ( hadits penguat). Mujma’u Az Zawa’id. Al Haitsami 1/367.

[219] AD Dhu’afa, Al Uqaili 4/458. Al Kamil Ibnu ‘Adi 7/2629.  Lihat Mizanul I’tidal, Adz Dzahabi 4/479.

[220] Al Anwar An Nu’maniyah, Al Jaza’iri, 1/367..

[221] Sahih Al bukhari – Ta’ As Slafiyah- 3/28. Kitab Fadhoilu sahabah bab dzikru Usamah bin Zaid.

[222] Bashairu Darajah Al Kubra, As Shafar hal41-42..Ma’ani Al Akhbar, ash Shaduq hal188-189. Al Amali hal.4. Tafsir Furrat Al Kufi hal 161-162.

[223] Al Mizan fie Tafsieril Qur’an. Ath Thobathoba’i 3/73.

[224] Jami’ul Bayan, Ath Thabari 30/198-199. Tafsir Ibnu Katsier 4/512-513. Fathu AL Qadir, Asy Syaukani 5/443-444.

 

Islamic Media Ibnuisa
Kritik & Saran
Counter
HOME