The Soda Pop

MAJLIS KEDELAPAN

Sikap kaum Syi’ah Al Itsna Asyriyah terhadap sahabat lain yang mendapat kabar gembira menjadi Ahli Jannah

Bertemukah engkau dengan ahlu ilmi dan khibrah

Wahai penanya, siapakah hamba terbaik?

Quraisy terbaik adalah ahlu Hijrah

Hamba yang paling baik seluruhnya quraisy

Delapan, bersatu menolongnya

Sebaik-baik ahli hijrah terdahulu

Talhah dan dua yang bersinar

Ali, Utsman,dan Zubeir

Dan Syaikhani tetangga kubur Ahmad

Maka janganlah kalian berbangga

Setelah mereka, karena mereka telah menjadi sepuluh

Amir dari Fihr danIbnu Zaid

 

Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam memberi kabar gembira bagi sepuluh sahabat yang paling utama dengan Jannah dalam sabdanya ,” Sepuluh orang masuk Jannah, Abu Bakar di Jannah, umar di Jannah, Utsman di Jannah, Ali di jannah, Talhah di Jannah, Az Zubair di Jannah, Abdurrahman bin Auf di Jannah, Sa’ad di jannah, Sa’id di Jannah dan Abu Ubaidah Bin Al Jarrah di jannah.[225]

Kaum Syi’ah mengingkari hadits ini meskipun derajatnya sahih dan menganggapnya maudhu’ ( palsu).[226] Mereka juga menganggap sepuluh orang itu selain Ali semuanya munafiq dan mengamalakan amalan kaum munafik. Tentang tuduhan mereka atas tiga Khulafa’ Ar Rasyidin Al Mahdiyin telah kami paparkan di muka. Akan saya ringkas beberapa contoh perkataan mereka tentang enam lainya dari sepuluh orang yang dijanjikan atas meeka surga.

 

Pertama: Sikap Syi’ah Itsna Asyriyah terhadap Talhah bin Ubaidillah dan Zubair Bin Al awam radhiyallahu ‘anhu .

Talhah Bin Ubaidillah At Taimi Al Qursyi dan Zubair Bin Al Awam Al Asadi Al Qursyi adalah sahabat angkatan pertama dan termasuk sepuluh orang ynag dijanjikan Jannah. Bahkan keduanya menjadi tetanga Nabi Shollalahu ‘alahi wasallam di jannah seperti dalam Haditsnya yang diriwayatkan Amirul Mukminin Ali Bin bi Thalib Ia berkata,” Telingaku menengar  Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda,” Talhah dan Zubeir menjadi teanggaku di Jannah”.[227]

Keduanya memeluk Islam dipermulaan lalu berjuang menolong Rasulullah Shollalahu ‘alahi wasallam dengan lisan dan kekuatan, mengikuti berbagai macam peperangan bersama Rasulullah Shollalahu ‘alahi wasallam dan mersakan berbagai ujian. Msing-masng dari keduanya memiliki perjalanan hidup istimewa yang tidak dimliki orang lain :

      Adapun Zubair, Ia adalah orang yang pertama kali menghunus pedang di jalan Allah[228]. Dia adalah   Hawari-nya Nabi Shollalahu ‘alahi wasallam.[229]

Sedangkan keistimewaan talhah: Beliau melindungi Rasululah Shollalahu ‘alahi wasallam pada pernag Uhud dengan tangannya hingga lumpuh[230], Beliau juga membungkukkan badanya untuk Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam untuk dinaiki hngga tatkala sampai pada sebuah batu beliau sudah tidak mampu lagi naik, saat itu Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda,” Wajib atas Talhah”[231]. Artinya Talhah telah melakukan sesuatu yang mewajibkan dirinya masuk Jannah. Bertempur mati-matian melindungi Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam, melindungi beliau sendirian, badanya menjadi tameng panah-panah Quraisy hingga terluka parah. Abu Bakar Ash Shidiq  jika mengigat hari perang Uhud berkata,” Hari itu milik Talhah”.[232]  Masih banyak lagi kisah tentang kiprah Talhah yang tidak cukup empat untuk menyebutkannay. Kaum Syi’ah, sebagaimana para pendahulunya membenci Para sahabat Nabi Shollalahu ‘alahi wasallam terutama orang-orang mulia diantara mereka. Mereka berusaha menghapuskan fadhilah yang ada pada sahabat dengan menyematkan aib dan  berbagai tuduhan palsu, demikian pulalah yang mereka lakuakan atas diri Talhah dan Zubair radhiyallahu ‘anhu.

Akan saya sebutkan dengan ringkas beberapa penjelasan sikap Syi’ah terhadap kedua sahabat ini.

1.      Klaim mereka bahwa Talhah dan Zubair adalah dua imam kafir, keduanya hidup dan mati dalam keadaan kafir. Mereka melandasi klaim ini dengan perkataan Imam Ali – yang menurut mereka- mengatakan,” Ketahuilah ! imam kafir dalam Islam ada lima : Talhah, Zubair, Mu’awiyah,amru bin Al Ash  dan Abu Musa Al Asyari”.[233] Para Imam mereka bahkan mengatakadengan jelas bahwa kedua sahabat ini hidup dan mat dalam keadaan kafir : Al Mufid – Ulama Besar Syi’ah- berkata,” Sesungguhnya kaum itu, talhah dan Zubair dan sejenisnya terus menerus dalam perbuatan mereka tanpa menyesal dan bertobat”.[234]

Muhammad Ali Al Hasani –seorang Syi’ah modern- berkata,” Zubair menjual diennya dengan dunianya, ia membolehkan segala sesuatu demi perut dan syahwatnya.Tak sedikitpun kalimat rasul yang berarti baginya..”[235]

Mereka mengatakan Imam Ali berkata,” Aku bersaksi bahwa Rasulullah Shollalahu ‘alahi wasallam bersabda bahwa engkau adalah ahli neraka”.[236]

Dan sebagainya. Kesemuanya menyelisi kabar dari rasul bahwa dua sahabat mulia ini adlaah ahli Jannah bahkan menjadi tetangga beliau Shollalahu ‘alahi wasallam .

Keduanya mendapat gelar Syahid dari Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam :

Diriwayatka Imam Imam Muslim dalam Sahihnya dari Abu Hurairah RA ,” Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam berada di gua hira’ bersama Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Talhah dan Zubair, saat itu batu gua bergerak, maka Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda,” Tenanglah, tak seorangpun berada diatasmu ini selain Nabi, Siddiq dan Syahid”.[237]

Ashidiq adalah Abu Bakar dan Syuhada’ adalah Umar, Utsman, Ali, Talhah dan Zubair. Syahidnya Talhah da Zubair menunjukkan bahwa keduanya adalah ahli Jannah bahkan memiliki kedudukan yang tinggi di Jannah. Allah telah berfirman dalam Al Qur’an bahwa AS Sidiqqin dan Asyuhada’serta orang-orang salih memiliki kedudukan yang tinggi di Jannah,

Dan barangsiapa yang mentaati Allah da Rasul-Nya mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugrahi ni’mat oleh Allah , yaitu : Nabi-nabi, para shiddiqin syuhada’, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman sebaik-baiknya (Annisa’ 69.)

Talhah dan Zubair kehidupannya terpuji dan mati dalam keadaan syahid, tak sekalipun keduanya menyelisihi perintah Rasul. Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam wafat dalam keadaan ridha pada keduanya. Semoga Allah meridhoi keduanya, dengan keadilanNya membalas orng-orang yang membenci mereka atau mengganti keduanya dengan kebaikan.

2.      Tuduhan Syi’ah bahwa Talhah anak hasil Zina –beliau suci dari tuduhan ini-.Mereka menisbahkan satu perkatan tentang Ibunda Talhah, As Su’bah binti Al Hadhrami kepada Muhammad bin Sa’ib Al Kalbi bahwa ia –Ibunda Talhah- memiliki bendera[238] di Makkah menjual dirinya kepada Abu Sufyan lalu Abu sufyan menggaulinya. Setelah itu Ia kawin dengan Ubaidullah bin Utsman Bin Amru Bin Ka’ab Bin Sa’ad Bin Taim – Bapak Talhah- lalu lahirlah Talhah Bin Ubaidullah setelah enam bulan. Abu Sufyan dan Ubaidullah pun berseteru tentang Talhah maka keduanya menyerahkan urusan tersebut pada ibunya dan ibunya pun menyambung nsabnya pada Ubaidullah. Dikatakan padanya : “Mengapa kamu meninggalkan Abu Sufyan?”. Ia berkata,” Tangan Ubaidullah telah membebaskannya sedang tangan Abu Sufyan seperti debu”.Al Kalbi berkata,”

Sudah bisa dipastikan tuduhan ini dusta yang tak perlu diperdebatkan lagi. Kaum Syi’ah melemparkan tuduhan ini tidak hanya kepada Talhah saja, mereka juga melemparkan tuduhan ini kepada para sahabat yang lain bahwa mereka anak zina – merek suci dari semua itu-. Penisbatan dusta besar ini kepada Hisyam Al Kalbi tidak bisa membebaskan mereka :

Al Kalbi adalah orang Syi’ah menurut kesepakatan ulama’ rijal , mereka berkata,” Dia mukhtasan deangan madzhab kita”. Dan dia menurut Ulama’ ahlu Sunnah,” Rafidhah yang matruk,tidak tsiqat ( bisa dipercaya).Dan tidak diterima perkataannya. Imam Ahmad Berkata,” Saya kira tak seorangpun yang mengambil haditsnya”.[239]Karena itu perkataannya tidak bisa diperlukan lagi juga perkataan orang yang menukil darinya, tidak perlujuga memuliakan mereka.

 

Kedua Sikap Syi’ah Itsna Asyriyah terhadap Sa’ad bin abi Waqqas Az Zuhri RA.

 

Sa’ad bin Abi Waqqas Az Zuhri seorang sahabat mulia, salah satu dari sepuluh orang yag diberi kabar gembira menjadi ahli Jannah. Beliau juga salah satu anggota Syuro yang berjymlah enam orang. Pada perang Uhud Rasulullah Shollalahu ‘alahi wasallam menjadikan kedua orang tuannya sebagai tebusannya-  fidakaAbi wa Umi-. Diriwayatkan Imam Muslim dalam Sahihnya dari Amirul Mukminin Ali Bin Abi Thalib RA,” Rasulullah belum pernah menjadikan kedua orang tuannya sebagai tebusan kecualikepada Sa'’d Bin Malik, beliau berkata padanya pada perang Uhud,” Lemparkanlah, demi Bapak dan Ibuku menjadi tebusanmu”.[240]

Bukhari dan Muslim mentakhrij satu hadits dari Sa’ad Bin Abi Waqqas RA beliau berkata,” Nabi menjadkan kedua orangtuanya sekaligus menjadi tebusanku pada perang uhud”.[241]Beliau adalah pamn Nabi Shollalahu ‘alahi wasallam , At tirmidzi meriwayatkan sebuah hadits dan menghasankannya dari Jabir bin Abdullah RA berkata,” Ketika Sa’ad datang , Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda,” Ia adalah pamanku, manakah paman kalian?”.[242]

At Tirmidzi menambahkan Sa’ad berasal dari Bani Zuhrah dan Ibunda Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam berasal dari Bani Zuhrah karena itulah Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam mengatakan ,” Ini Pamanku”.[243] Beliau Shollalahu ‘alahi wasallam juga mensifatinya dengan As Solah ( Yang salih) dan mendo’akan kebaikan untuknya.[244]

Firman Allah ayat 52 dari Surat Al An’am juga turun karenanya[245] :

“Dan janganlah kamu mengusir orang-orang yang menyeru Tuhannya dipagi haridan petang, sedang mereka menghendaki keredhaan-Nya.”

Setelaha ada tazkiyah ( rekomendasi) dari Rab semesta ini tak perlu lagi ada rekeomendasi dari seorangpun di dunia. Keutamaan beliau sangatlah banyak, jika ditulis akan menghabiskan banyak lembaran kitab.

Sebagaimana para pendahulu mereka dan memang sudah menjadi kebiasaan orang Syi’ah mencela dan menuduh para sahabat dengan berbagai hinaan, demikian pula terhadap Sa’ad. Lihatlah contoh-contoh berikut :

1.      Mereka berkata beliau adalah Qarunnya umat ini.

Abu Hasan Al Amiri berkata,” Sa’ad bin Abi Waqqas Qarunnya umat ini. Hal ini jelas dilihat dari murtadnya dirinya dan enggan membaiat Amirul Mukminin ( Ali RA)…”.[246]

Tuduhan ini menjadi bukti yang paling autentik akan batilnya tuduhan ini karena kontradiksi yang ada didalamnya, Sa’ad berbaiat pada Ali dan sama sekali tidak menolak untuk taat sebagaimana yang mereka katakan, bahkan dalam kitab Syi’ah terdapat perkataan Ali – karangan mereka- yang membatalkan klaim mereka sendiri, Ali berkata kepada Sa’ad dan orang-orang yang tidak i’tizal dari perang,” Mengapa kalian keluar dari berperang denganku sedang kalan telah membaiatku?![247]. Dan perkataan beliau ,”Bukankah kalian tealh membaiatku?” mereka menjawab,” Benar”[248]. Dan lain-lain.

Mereka telah berbaiat dan tetap menepatinya sebagaiaman yang diakui oleh kaum Syi’ah sendiri berdasarkan perkataan yag mereka nisbatkan kepada Imam Ali RA lalu bagaimana bisa mereka sepakat berbohong dengan mengatakan Sa’ad enggan berbaiat kepada Ali padahal dalam kitab mereka sendiri , mereka mengatakan bahwa Sa’ad telah berbaiat?!!

2.      Mereka mengatakan  Ali memberitahu Sa’ad bahwa di setiap helai rambut jenggotnya terdapat syetan yang sedang duduk.

Orang Yang berjuluk Ash Shaduq menyandarkan sebuah riwayat kepada Al As Bagh bin Nubatah[249] Imam Ali RA berkata dalam khutbahya,” Bertanyalah kepadaku sebelum kalian kehilangan aku, tidaklah kalian menanyakan sesuatau kapadaku melainkan aku akan beritahukan ada kalian”. Maka Sa’ad berdiri dan berkata,” Beritahukan padaku berapa jumlah rambut kepala dan jenggotku?”. Ali menjawab,” Demi Allah engakau telah menanyakan kepadaku satu masalah yang Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam telah memberitahuku bahwa engkau akan menanyakannya padaku. Tidaklah sehelai rambut kepala danjenggotmu tumbuh melainkan di akarnya ada setan yang sedang duduk dan dirumahmu ada seekor anak akmbing yangakan membunuh anakku”. saat itu Umar bin Sa’ad berjalan didepannya.[250]

Menueurt At  Tastari,” disetiap rambutmu ada malaikat yang melaknatmu dan disetiap lengkung jenggotmu ada setan yang duduk…”[251]

Ini hanya salah satu diantara sekian banyak kisah dusta tentang Ali RA, pengaragnya adalah Asbagh bin Nubatah dia Kadzab (pendusta) matrukul hadits ( haditsnya ditinggalkan) dan berkeyakinan raj’ah. Abu Bakar bin utsman berkata tentang dirinya,” Kadzab”. Ibnu Mu’in berkata,” Tidak Tsiqah” dan ,” sama sekali tidak bisa dipakai”. An Nasa’i  dan Ibnu Hibban berkata,” Matruk ( ditinggalkan)”. Ibnu Hibba menambahkan,” Ia terfitnah karena kecintaan berlebihan pada Ali dan mendatagkan bencana maka ia berhak untuk ditinggalkan”.

Ibnu ‘Adi berkata,” Jelas kelemahanya”. Abu Hatim berkata,” Layyinul Hadits ( lemah haditsnya)”.Al Uqaili berkata,” Ia mengatakan Raj’ah. Ad Daruquthni dan As Saji berkata,” Munkarul Hadits”. Dan kisah-kisah  ini semakin memperjelas kemungkarannya karena berlawanan dengan sikap Ali RA terhadap Sa’ad. Ali mencintai Sa’ad dan memuliakannya. Beliau juga meriwayatkan hadits Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam tentang penebusan Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam diri Sa’ad deangan dua orangtuanya. Jika Ali RA mendengar dari Rasulullah Shollalahu ‘alahi wasallam hal yang bertentangan dengan itu semua seperti yang mereka katakan niscaya beliau tidak akan menutupinya.

Saya tambahkan, dalam kisah ini ada kontradiksi berkaitan dengan lokasi dimana kisah diatas terjadi. Perkataan diatas dikatakan –menurut mereka- oleh Imam Ali ketika  berda diats mimbar Kufah sedangkan pada saat itu Sa’ad telah beri’tizal ke Madinahdan tidak bertemu Ali RA di Madinah.

Adapun landasan mereka menyalahkan Sa’ad karena anaknya, Umar Bin Sa’ad ikut memerangi Al Husein bin Ali lalu mereka membuat tuduhan dan celaan kepada bapaknya, lalu apa salah Sa’ad dalam hal ini?! Hal itu tidak terjadi melainkan setelah kematian beliau. Jika beliau tahu bahwa anaknya akan ikut memerangi cucu Rasulullah Shollalahu ‘alahi wasallam tentu beliau akan berharap mati sebelum menikah, atau tidak memiliki anak, atau jika saja bumi terbelah dan menelan ia dan anaknya, atau ia dilupakan begitu saja karena rasa cintanya pada Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam Ahli Baitnya. Sa’ad tidak berdoas dan tidak ada alasan bagi Syi’ah  untuk mencelanya dengan alasan ini karena firman Allah Surat “Dan orang-orang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain”. (Fatir 18.)

3.      Sikap mereka terhadap Abdurrahman bin Auf Az Zuhri RA.

Abdurrahmn bin Auf adalah seorang Sahabat Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam yang telah dijanjikan Jannah dan salah satu anggota Ahli Syura. Meski beliau adalah seorng sahabat Rasulullah Shollalahu ‘alahi wasallam  dan memiliki banyak kemuliaan, kaum Syi’ah tak segan untuk menghina beliau dengan tuduhan-tuduhan bohong. Allah lebih tahu bahwa beliau terlepas dari apa yang mereka tuduhkan . Akan saya sebutkan satu contoh hinaan terhadap sahabat mulia ini yang terdapat dalam buku-buku mereka:

Mereka mengatakan beliau memiliki satu pintu dineraka yang akan dimasukinya bersama dengan Fir’aun dan Hamman.

Ash Shaduq meriwayatkan –riwayat dusta- dari Ja’far Ash Shadiq beliau berkata,” Neraka itu memilki tujuh buah ointu yang akan dimasuki  Fir’aun, Hamman dan Qarun….”.[252]

Telah kami jelaskan maksud dari Fir’aun dan Hamman menurut mereka adalah Abu Bakar dan Umar RA. Dan Qarun menurut Al Kasyani,” Abdurrahman Bin Auf qarunnya umat ini ,” [253]

Ucapan ini jelas bertentangan dengan Sabda Rasul dalam hadits sahih yang mengatakan bahwa beliau adalah ahli Jannah[254], juga dengan apa yang mereka sebutkan sendiri dalam sebagian kitab-kitab Syi’ah  bahwa Rasulullah  Shollalahu ‘alahi wasallam berdoa untuk Abdurrahman,” Ya Allah berilah Abdurrahman minum dari As Salil dari  Jannah”.[255]Hal ini jika dilandaskan pada maksud hadits ini secara bahasa.Ia melanjutkan dengan berkata,” As Salil adalah air minum yang sangat jernih…dst”.[256]

Jika Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam mengetahui bahwa Abdurrahman Bin Auf akan masuk neraka bersaa Fir’aun Hamman niscaya beliau tidak akan mendoakan Abdurrahman agar diberi minum dari air surga yang jernih juga tidak mengkhabarkan bahwa abdurahman adalah ahli Jannah karena beliau tidak berbicra menurut hawa nafsunya, hanya wahyu yang diwahyukan padanya Shollalahu ‘alahi wasallam .

4.      Sikap Mereka terhadap Abu Ubaidah, Amir bin Al Jarrah Al Qursy  RA.

Abu Ubaidah yang bernama Amir bin Al Jarrah adalah sahabat yang masuk Islam diawal –awal rasul mendakwahkannya. Telah banyak berjuang dalam berbagai perang bersama Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam dan dijanjikan menjadi salah satu penghuni Jannah. Memiliki banyak keutamaan yang tidak cukup tempat untuk menyebutkan keseluruhannya tapi cukuplah julukan yang diberikan oleh Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam kepadanya “ Aminu Hadzihil Ummah” ( kepercayaan umat ini). Imam Bukhari da Muslim juga selainnya mentakhrij hadits dari Anas bin Malik Al Anshari RA ia berkata,” Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda,” setiap umat memiliki orang kepercayaan, dan orang kepercayaan kita wahai umatku adalah Abu Ubaidah bin Al Jarrah”.[257]

Akan tetapi kaum Syi’ah tetap tidak mau mengakui keutamaan-keutamaan ini dan tidak peduli dengan martabat beliau sebagai seorang sahabat Nabi. Bahkan dengang kejam mereka hujamkan ke wajah beliau panah-panah hinaan yang sangat beracun dan menyakitkan sebagaimana yang telah mereka lakukan terhadap sahabat yang lain.

Mereka mengatakan gelar yang disandangkan Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bukanlah pujian tapi justru celaan. Mereka menyandarkan sebab penamaan ini dari sebuah kisah dusta : Sekelompok sahabat berkumpul guna mengadakan konspirasi agar setelah Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam wafat kekhilafan tidak di serahkan pada Bani Hasyim dan keturuananya selamanya –yang mereka maksud Ali dan keturunannya- . Mereka menulisnya dalam sebuah lembaran  dan mereka kuburkan di tengah Ka’bah. Dan yang bertindak sebagai penulisnya adalah Abu Ubaidah Bin Jarrah, dialah yang membawa tulisan itu dan menguburnya di dalam Ka’bah. Lalu Allah memberitahukan konspirasi ini pada Rasulnya Shollalahu ‘alahi wasallam, maka Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda  kepada Abu Ubaidah Bin Al Jarrah,” Engkau adalah  kepercayaan dari sebagian umat ini dalam kebatilan yang mereka lakukan”.[258]

Maksudnya mereka mempercayakan lembaran itu pada Abu Ubaidah dan mengutusnya ke Makkah agar menimbunnya di tengah ka’bah, karena itu– menurut orang-orang syi’ah – beliau  dinamakan “Orang kepercayaan umat ini dalam kebatilan mereka”  bukan orang kepercayaan ummat dalam hal menyimpan rahasia. Yang mengatakan hal tersebut diantaranya: Al Bayadhi, Al Kasyani, Al Bahrani, At Tastary, Al Jaza’iri dan Asy Syairazi.[259]

Bahkan menurut mereka Abu Ubaidah adalah musuh keluarga Muhammad[260], beliau dituduh telah bersekongkol dengan Abu Bakar merampas kekhilafahan dari Ali RA[261]. Sebagai bukti dari itu perkataan seorang orientalis kristen –kelahiran Belgia berkebangsaan Prancis- Henry Lamens,” Sesungguhnya pasukan Quraisy yang di komadoi Abu Bakar, Umar Bin Al Khattab dan Abu Ubaidah Bin Al Jarrah tidak terlahir begitu saja atau secara kebetulan akan tetapi ini adalah sebuah konspirasi yang tersusun secara cermat dan teliti, dan yang menjadi komandan komplotan ini adalah Abu Bakar, Umar bin Al Khattab dan Abu Ubaidah Bin Al Jarrah dengan anggaotanya Aisyah dan Hafsah…”[262]

Klaim Syi’ah ini tak bisa dibenarkan dari berbagai sisi, baik itu bahasa maupun kesesuaiannya dengan realita.

1.      Al Amien secara bahasa berartidipercaya dan diridhoi.  Dikaitkan dengan Al Ummah menunjukkan bahwa ia dipercaya  dan diridhoi seluruh umat. Hal ini tidak berlaku pada cerita persekongkolan diatas, karena didalamnya ia hanya dipercaya oleh sebagian umat yang bersekongkol dan  tidak secara keseleruhan. Mereka pun mengerti dan mengetahui hal yang sangat kontradiktif ini sehingga mereka dengan segera merubh lafadz hadits yang sahih agar sesuai dengan hawa nafsu mereka dengan menambahkan “ Aminu qaumun min hadzhihl ummah ala bathilihim” ( Kepercayaan sebagian umat atas kebatilan mereka”.Ini adalah dusta atas Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam dengan  sengaja yang mana Allah telah mengancam degan neraka siapa saja yang berdusta dengan sengaja atas nama Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam sebagaimana dalam hadits Sahih

 

“ Barangsiapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja maka hendaklah ia mengambil tempatnya di neraka”.

2.      Kenyataan yang berlaku hingga menjadi sebab penamaan ini menyangkal klaim mereka.Imam Musim meriwayatkan dalam Sahihnya dari ans RA :” Ahlu yaman datang kepada Nabi Shollalahu ‘alahi wasallam dan berkata,” utuslah bersama kami seseorang yang akan mengajari kami As Sunnah dan Islam”. Anas berkata:” lalu nabi Shollalahu ‘alahi wasallam mengambil tangan Abu Ubaidah dan bersabda,” Dia adalah kepercayaan umat ini”.[263] Jelas tidak bisa dibenarkan mengutus seseorang untuk mengajarkan dien selain orang yang bisa di percaya. Beliaulah penasehat umat Muhammad Shollalahu ‘alahi wasallam .

Al bukhari dan Muslim mentakhrij hadits dari Hudzaifah Bin Yaman,” Ahlu Najran datang kepada Rasulullah Shollalahu ‘alahi wasallam dan berkata,” Ya Rasulullah, utuslah kepada kami seorang lelaki yang terpercaya. Nabi Shollalahu ‘alahi wasallam bersabda,” Aku benar-benar akan mengutus seseorang yang sangat terpercya, benar-benar terpercaya, benar-benar terpercaya”. Orang-orangpun sangat terkesan dan kagum padanya. Lalu beliau mengutus Abu Ubaidah Bin Al Jarrah”.[264]

Yang dimaksud “orang-orang” disitu adalah para sahabat Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam . Saat itu mereka sangat ingin tahu dan menginginkan kekusaan tersebut karena tamak akan sifat yang disebutkan tadi. Yaitu Al amanah bukan sekedar kekuasaan saja. Sampai-sampai Umar – dengan segala keutamaan dan keberaniannya atas yang lain- berkata,” Aku tidak menyukai kekuasaan  sama sekali melebihi kecintaanku akan kekuasaan itu pada hari tersebut demi mengharap aku menjadi pemlik gelar itu”.[265]

Para sahabat pun mengakui hal ini:

Imam Ahmad meriwayatkan dari Umar bin Khattab, Ia berkata,” Jika saja aku masih bertemu Abu Ubaidah aku akan mengangkatnya menjadi penggantiku tanpa musyawarah. Jika kau tanyakan padaku aku akan menjawab aku telah mengangkat Kepercayaan Allah dan kepercayaan Rasul"”[266]

Dalam riwayat lain ,” Jika aku mengangkat Abu Ubaidah menjadi Khalifah dan Rabku menayakan kepadaku mengapa kau lakukan itu? aku akan menjawab aku mendengar NabiMU bersabda dia adalah kepercayaan umat ini.”[267]

Adapun perkataan seorang orientalis, Lamens yang dijadikan landasan Hasyim Al Huseini untuk menguatkan hujjahnya maka hal itu adalah batil, karena musuh Islam tidak bisa menjadi saksi atau penguat hujjah atas kaum muslimin.

Dan tak bisa disangkal para orientalis itu sebenarnya mengambil dari referensi Syi’ah untuk memunculkan Syubhat dan keraguan dalam agama kemudian mendatangkan satu pemikiran yang merusak dan menyelewengkan manusia dari pemikiran Islam yang sebenarnya.

 


[225] Hadits ini diriwayatkan sekian sahabat diantarnya Said bin Zaid,haditsnya ditakhrij Abu Daud dan At Tirmidzi beliau berkata : hasan sahih. Ditakhrij pula oleh Ahmad dan disahihkan Ahmad Syakir, Sunan Abu Daud 5/37/40. Kitab as sunnah dan Jami’u At Tirmidzi 5/651. Kitab Al Manaqib.

[226] Kifayatul Atsar, Al Khazaz hal115. Al Iqtishad , At Tusi hal.364.

[227] Ditakhrij Al Hakim dalam Mustadraknya3/364. Beliau berkata,” Sanadnya Sahaih”.

[228] Fadhoilu Sahabah, Imam Ahmad2/735,  Al Isti’ab, Ibnu Adil Barr 1/581. Al Mustadrak , Al Hakim 3/360-361. Daru As Shabah, Asy Syaukanihal.241.

[229] Sunan At Tirmidzi 5/646.kitab Al Manaqibbab manaqibu Az Zubair beliau berkata hadits hasan sahih. Fadhoilu sahaba, Imam Ahmad2/737-738. Tabaqat Ibnu Sa’ad 105-106. Al Mu’jamu Al Kabir, At Tabrani 1/78. Al Mustadrak, Al Hakim 3/367. Beliau berkata “ sahaih disepakati Adz Dzahabi.

[230] Sahih Al Bukhari 5/94. Kitab fadhoilu sahabah bab dzikru Talhah.

[231] Jami’u Tirmidzi 5/643-644 kitab manaqib bab Manaqibu Talhah. Tirmidzi berkata hadits hasan Sahih gharib. AL Mustadrak, Al Hakim3/374. Musnad Ahmad 1/165. Fadhoilu sahabah 2/744. Tabaqat Ibnu Sa’ad 3/218.

[232] AR Riyadh An Nadharah, Al Muhib At Tabari 2/252.

[233] Asy Syafi lil Imamah, Al Mutadho hal.287. Talkhis Asy Syafi, At Tusi hal 462.

[234] Al Jumal, Al Mufid hal 225.

[235] Fie dzilali At Tasyayu,’, Muhammad Ali Al Hasani hal.112-113.

[236] Ihqaqu Al Haq, At Tustury hal 297.

[237] Sahih Muslim 4/1880 kitab Al Fadhoil bab Min Fadhoilu Talhah.

[238] Istilah yang dipakai untuk wanita yang melacurkan dirinya di zaman Jahiliyah.

[239] Mizanul I’tidal, Adz Dzahabi 4/304. Diwanu Ad Dhu’afa’ hal 419.

[240] Sahih Muslim 4/1876 Kitab Al Fadhoil bab Sa’ad.

[241] Sahih Muslim 4/1876 Kitab Al Fadhoil bab Sa’ad.

[242] Sunan At Tirmidzi 5/6496.kitab Al Manaqibbab manaqibu Az Zubair beliau berkata hadits hasan sahih. Fadhoilu sahaba, Imam Ahmad2/751. Tabaqat Ibnu Sa’ad 105-106. Al Mu’jamu Al Kabir, At Tabrani 1/78. Al Mustadrak, Al Hakim 3/498. Disahihkan beliau dan  disepakati Adz Dzahabi.

[243] Sunan At Tirmidzi 5/649.

[244] Sahih Muslim 4/1875 Kitab Al Fadhoil bab Sa’ad.

[245] Sahih Muslim 4/1878 Kitab Al Fadhoil bab Sa’ad.

[246] Muqaddimah Al Burhan , Abi Al Hasan Al Amili hal 280.

[247] As Saqifah, Sulaim bin Qais hal 211. Al jumal Al Mufid hal 45-46. Al Amali, At Tusi 2/327.

[248] idem

[249] Al Kasyani berkata tentang dia ,” dia orang diistimewakan Amirul Mukminin Ali RA”. Ikhtiyaru Ma’rifati Ar Rijal, At Tusi hal.5,98,103.

[250] Al Amali, As Saduq hal. 133.

[251] Ihqaqu Al Haq, At Tusturi 205.

[252] Al Khishal, Ash Shaduq 2/361-362. Haqqul Yaqin, Abdullah Sybr 2/169.

[253] Ilmul Yaqin, Al Kasyani  2/732.

[254] Hadits sepuluhorang yang dijanjikan Jannah seperti yang telah kami sebutkan.

[255] Ikmalu AD Dien, Ash Shaduq hal 243.

[256] idem

[257] Sahih Al Bukhari 5/100Kitab Al Manaqib Bab Manaqibu Abu Ubaidah. Sahih Muslim 4/1881 kitab Al Fadhoil    Bab Fadhoilu Abu Ubaidah

[258] Perhtikanlah lafal hadits ini sama sekali bertentangan dengan lafal aslinya” dan orang kepercayaan umat ini wahai umatku adalah Abu Ubaidah Bi Al Jarrah”.

[259] Lihat As Shirat Al Mustaqim, Al bayadhi 1/296,3/154. Ilmu Al Yaqin, Al Kasyani 2/658. Tafsir Ash Shafinya 2/570. Al Burhan, Al Bahrani 4/187. As Sawarim Al Muhriqah, At Tustury hal 77-78. Al Anwar An Nu’maniyah, Al Jaza’iri 4/340-343 Ad Darajat Ar Rafi’ah Asy Syairazi 302-303.

[260] Al Kasykul, Haidar Al Amali hal 160.

[261] As Saqifah, Sulaim Bi Qais hal76.

[262] Sirah Al Aimah Al Itsna Asyriyah, Hasyim Al Huseini hal 281.Lihat orientali Lamens yang dinukil oleh Hasyim l huseini –seorang Syi’ah muashir-  yang berjudul “ Al hukkam Ats Tsalatsah: Abu Bakar, Umar bin Al Khattab dan Abu Ubaidah Bin Al Jarrah”, Munawi’at Kuliyah Asy Syarqiyah 4/1910.

[263] Sahih muslim 4/188 kitab Al Fadhoil bab Fadhoilu Abu Ubaidah.

[264] Sahih Bukhari 5/100 kitab Al manaqib bab manaqibu abu Ubaidah. Sahih muslim 4/188 kitab Al Fadhoil bab Fadhoilu Abu Ubaidah.

[265] Idem. Lihat Ar Riyadh An Nadhrah fie manaqibi Al Asyrah, Al Muhib At Tabari 2/374.

[266] Fadhoilu Sahabah Imam Ahmad2/742-743. Musnad Ahmad 1/18. Al Mustadrak, Al Hakim 3/268.

[267] idem

 

Islamic Media Ibnuisa
Kritik & Saran
Counter
HOME