Lamborghini Huracán LP 610-4 t

ADA YANG PERLU DIINGATKAN

PERINGATAN KEDUA:

Kebalikan dari bara’ah dari syirik dan para pelakunya… di sana juga ada (loyalitas pada dienullah dan para auliyanya, membela mereka, mendukungnya, memberikan nasehat buat mereka, menampakkan dan menyatakan terang-terangan akan hal itu) agar hati mereka selaras, dan barisan-barisan menjadi rapat. Meskipun kami menegur keras saudara-saudara kami al muwahiddin yang menyimpang dari kebenaran, dan bagaimanapun kami bersikap keras dalam menasehati mereka dan mengkritik jalan-jalan mereka yang menyelisihi jalan para Nabi. Maka orang muslim bagi muslim lainnya sebagaimana yang dikatakan oleh Syaikhul Islam adalah bagaikan dua tangan yang satu mencuci yang lainnya, dan bisa saja penyucian kotoran ini terkadang membutuhkan pada sikap sedikit keras yang berujung baik terpuji, karena yang dimaksud dibaliknya adalah keutuhan tangan dan kebersihannya. Dan kami tidak membolehkan sama sekali bersikap bara’ sepenuhnya dari mereka, karena orang muslim memiliki atas saudaranya hak loyalitas yang tidak bisa terlepas kecuali dengan kemurtadan dan keluar dari lingkungan Islam…. Dan Allah Subhanahu Wa Ta ‘Ala telah menilai besar status hak ini. Dia berfirman:

Artinya: “Bila kamu tidak melakukannya maka terjadilah fitnah di muka bumi dan kerusakan yang besar.” (Al Anfal, 8: 73)

Orang muslim yang menyimpang hanya di bara’ dari kebatilannya, bid’ahnya dan penyimpangannya saja dengan tetap menjaga pokok loyalitas. Tidaklah engkau lihat bahwa hukum memerangi para bughat (pembangkang) dan yang semisalnya berbeda dengan hukum-hukum memerangi murtaddin. Dan kami tidak akan membuat mata para thaghut berbinar-binar dan senang dengan sikap sebaliknya. Sebagaimana yang dilakukan oleh banyak orang-orang yang mengakui Islam dari kalangan yang sudah rusak pada mereka timbangan al wala dan al bara’ pada masa sekarang. Mereka sangat bara’ dan menjelek-jelekkan orang-orang yang menyelisihi mereka dari kalangan muwahiddin, dan mentahdzir (menghati-hatikan orang) dari (mendekati) mereka, bahkan mentahdzir dari banyak kebenaran yang ada pada mereka, dan bahkan dilakukan lewat lembaran koran-koran yang busuk yang memusuhi Islam dan kaum muslimin. Dan jangan tanya tindakan itu mendorong orang-orang dan para penguasa untuk menuduh mereka dari dakwahnya, sampai-sampai banyak para dai itu ikut serta dengan para penguasa dalam menghabisi mereka dan dakwahnya dengan cara melancarkan tuduhan-tuduhan yang tidak baik terhadap mereka atau menghaturkan fatwa-fatwa kepada thaghut untuk menumpas mereka, seperti peringatan mengatakan tentang muwahidien: bughat atau khawarij atau (mereka itu) lebih berbahaya bagi Islam daripada Yahudi dan Nasrani, serta tuduhan lainnya, dan saya tahu banyak di antara kalangan yang gembira dengan tertangkapnya orang-orang yang menyelisihi mereka dari kalangan muslimin ditangan para thaghut, dan mereka mengatakan: “Rasain kamu”, “Bagus biar mereka dihabisin” dan ungkapan-ungkapan lainnya yang bisa jadi menjerumuskan orangnya ke dalam jahannam (melayang-layang) tujuh puluh tahun tanpa dia sadari dan ambil peduli saat melontarkannya .

Ketahuilah sesungguhnya diantara ciri khusus Millah Ibrahim dan diantara hal terpenting yang mana kami melihat keumuman para du’at zaman kita ini menyepelekannya, bahkan mayoritas mereka meninggalkan dan mematikannya:

-          Penampakan bara’ah dari para pelaku syirik dan ma’buudat mereka yang batil.

-          Menyatakan terang-terangan sikap kafir terhadap mereka, tuhan-tuhannya, falsafah-falsafahnya, undang-undangnya serta hukum-hukumnya yang syirik.

-          Dan menampakkan permusuhan dan kebencian terhadap mereka, perbuatan-perbuatan dan sikap-sikap mereka yang kufur sampai mereka kembali kepada Allah, meninggalkan hal itu semuanya, berlepas diri darinya dan kafir terhadapnya.

Allah  Subhanahu Wa Ta ‘Ala berfirman:

Artinya: “Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: "Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja. Kecuali perkataan Ibrahim kepada bapaknya: "Sesungguhnya aku akan memohonkan ampunan bagi kamu dan aku tiada dapat menolak sesuatupun dari kamu (siksaan) Allah". (Ibrahim berkata): "Ya Rabb kami, hanya kepada Engkaulah kami bertawakal dan hanya kepada Engkaulah kami bertaubat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali,” (QS. Al Mumtahanah, 60: 4)

Al’Alamah Ibnul Quyyim rahimahullah berkata: “Tatkala Allah Subhanahu Wa Ta ‘Ala melarang kaum muslimin dari loyalitas terhadap orang-orang kafir, maka hal itu menuntut untuk memusuhi mereka, bara’ darinya dan terang-terangan memusuhi mereka disetiap keadaan.” (Badai-ul Fawaid 3/69)

Syaikh Hamd Ibnu ‘Atiq rahimahullah berkata: “Dan firman-Nya ”وبدا“ yaitu nampak dan jelas. Perhatikan penyebutan ‘adawah (permusuhan) mendahului baghdhaa’ (kebencian), karena yang pertama lebih penting dari yang kedua. Sesungguhnya orang terkadang membenci kaum musyrikin namun tidak memusuhinya, maka ia tidak mendatangkan apa yang menjadi kewajibannya sehingga ada darinya permusuhan dan kebencian. Dan juga permusuhan serta kebencian ini harus nampak jelas lagi terang. Dan ketahuilah meskipun sesungguhnya kebencian itu berkaitan dengan hati, maka sesungguhnya ini tidak bermanfaat sampai nampak pengaruhnya serta jelas tanda-tandanya. Sedangkan itu tidak menjadi seperti demikian sehingga disertai dengan permusuhan dan pemutusan. Maka dengan demikian permusuhan dan kebencian itu menjadi nampak“ (Dari kitab Sabilun Najah Wal Fikak Min Muwalatul Murtaddin Wa Ahlil Isyrak)

Syaikh Ishak Ibnu Abdurrahman berkata: “Dan kebencian dengan hati ini tidak cukup, akan tetapi harus menampakkan permusuhan dan kebencian - dan beliau menuturkan ayat Al-Mumtahanah yang lalu, terus berkata: - coba lihatlah penjelasan yang tidak ada penjelasan sesudahnya, dimana Dia berkata: (nampak diantara kami) yaitu jelas ini adalah idhharud dien, maka wajib terang-terangan menyatakan permusuhan dan mengkafirkan mereka secara terang-terangan serta memisahkan diri dengan badan. Sedangkan makna ‘adawah (permusuhan) keberadaan kamu di suatu lembah dan lawan di lembah yang lain, sebagaimana bahwa asal bara’ah adalah pemutusan (hubungan) dengan hati, lisan dan badan. Hati orang mukmin tidak (mungkin) kosong dari (sikap) memusuhi orang kafir. Dan yang menjadi inti perselisihan adalah hanya dalam hal penampakan permusuhan…” (Ad Durar hal 141 juz Al-Jihad)

Al ‘Allamah Asy Syaikh Abdurrahman Ibnu Hasan Ibnu Syaikh Muhammad Ibnu Abdil Wahhab (penulis kitab Fathul Majid) berkata seputar ayat Al-Mumtahanah yang lalu: “Orang yang mentadabburi ayat-ayat ini, maka ia mengetahui tauhid yang dengannya Allah telah mengutus rasul-rasul-Nya dan menurunkan kitab-kitab-Nya, serta ia mengetahui keadaan orang-orang yang menyelisihi para rasul dan para pengikut mereka, dari kalangan orang-orang jahil yang terpedaya serta paling rugi. Syaikh kami Al Imam rahimahullah – yaitu kakeknya: Muhammad Ibnu Abdil Wahhab – berkata dalam konteks penuturan dakwah Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam terhadap Quraisy untuk bertauhid, serta apa yang muncul dari mereka saat beliau menyebutkan ilah-ilah mereka bahwa itu tidak bisa mendatangkan manfaat dan mudlarat bagi mereka, sesungguhnya mereka menjadikan hal itu sebagai celaan”. Bila engkau mengetahui ini maka engkau mengetahui bahwa orang tidak tegak Islamnya meskipun ia mentauhidkan Allah dan meninggalkan syirik kecuali dengan memusuhi orang-orang musyrik(6) dan terang-terangan menampakkan permusuhan dan kebencian terhadap mereka, sebagaimana firman-Nya:

Artinya: “Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. Dan dimasukkan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridla terhadap mereka dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan Allah itulah golongan yang beruntung.” (QS. Al Mujadilah,58:22)

Bila engkau memahami hal ini dengan pemahaman yang baik, maka engkau mengetahui bahwa banyak diantara orang yang mengaku Islam tidak mengetahuinya. Karena kalau bukan karena itu, maka apa yang mendorong kaum muslimin untuk sabar atas penindasan, ditawan dan hijrah ke Habsyah padahal  beliau adalah orang yang paling sayang dan seandainya beliau mendapatkan bagi mereka rukhshah (keringanan) tentulah beliau memberikan rukhshah kepada mereka, bagaimana itu bisa ada sedangkan Allah telah menurunkan kepadanya:

Artinya: “Dan diantara manusia ada yang berkata: "Kami beriman kepada Allah", maka apabila ia disakiti (karena ia beriman) kepada Allah, ia menggaanggap fitnah manusia sebagai adzab Allah.Dan sungguh jika datang pertolongan dari Rabbmu, mereka pasti akan berkata: "Sesungguhnya kami adalah besertamu". Bukankah Allah lebih mengetahui apa yang ada dalam dada manusia?” (QS. Al Ankabut,29: 10)

“Bila saja ayat ini berkenaan dengan orang yang setuju dengan lisannya, maka bagaimana dengan selain itu, yaitu orang yang menyetujui mereka dengan ucapan dan perbuatan tanpa ada penindasan, terus ia mendukung mereka, membantu mereka, dan membela-membela mereka dan orang yang setuju dengan mereka, serta mengingkari orang yang menyelisihi mereka sebagaimana itu realita yang terjadi”. (Ad Durar Juz Al Jihad hal: 93)

Dan saya katakan kepada mereka, benar sekali engkau seolah engkau berbicara di zaman kami ini.

Syaikh Muhammad Ibnu Abdullathif rh dalam Ad Durar As Saniyyah: ketahuilah - semoga Allah menunjukkan kami dan engkau pada apa yang Dia ridlai dan Dia cintai – sesungguhnya tidak tegak bagi seorang hamba Islam dan diennya kecuali dengan memusuhi musuh-musuh Allah dan Rasul-Nya(7)­. Serta loyalitas kepada wali-wali Allah dan Rasul-Nya, Allah Subhanahu Wa Ta ‘Ala berfirman:

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu jadikan bapak-bapak dan saudara-saudaramu pemimpin-pemimpinmu,jika mereka lebih mengutamakan kekafiran atas keimanan dan siapa yang di antara kamu yang menjadikan mereka pemimpin-pemimpinmu, maka mereka itulah orang-orang yang zalim. (QS. At-Taubah, 9: 23)

(Juz Al jihad hal: 208)

Ini adalah dien semua para rasul, dan inilah dakwah dan jalan mereka sebagaimana  yang ditunjukan oleh keumuman ayat ayat Al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi  Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam, dan begitu juga Firman-Nya  Subhanahu Wa Ta ‘Ala dalam ayat Al Mumtahanah ini والذين معه (dan orang-orang yang bersamanya) adalah para Rasul yang di atas dien dan millahnya. Ini dikatakan oleh banyak ahli tafsir.

Syaikh Muhammad Ibnu Abdillathif Ibnu Abdurahman berkata: “Dan ini adalah idhharud dien, bukan sebagaimana yang diduga oleh orang-orang jahil yaitu bahwa bila ia dibiarkan oleh orang-orang kafir dan mereka tidak menghalanginya dari sholat, membaca Al-Qur’an serta sibuk melaksanakan hal-hal sunnat bahwa ia telah mengidharkan diennya. Ini adalah kesalahan yang fatal, karena sesungguhnya orang-orang yang terang-terangan mengatakan permusuhan terhadap kaum musyrikin dan bara’ah dari mereka, sungguh mereka (kaum musyrikin) tidak akan membiarkannya berada di tengah-tengah mereka, namun bisa jadi mereka itu membunuhnya dan mengusirnya bila mereka memiliki jalan ke arah sana, sebagaimana yang Allah sebutkan tentang orang-orang kafir, Dia berfirman:

Artinya: “Orang-orang kafir berkata kepada rasul-rasul mereka: "Kami sungguh-sungguh akan mengusir kamu dari negeri kami atau kamu kembali kepada agama kami". Maka Rabb mewahyukan kepada mereka. "Kami pasti akan membinasakan orang-orang yang zalim itu” (QS. Ibrahim, 14: 13)

Dan Dia berfirman seraya mengabarkan tentang kaum Nabi Syu’aib :

Artinya: “Pemuka-pemuka dari kaum Syu'aib yang menyombongkan diri berkata: "Sesungguhnya kami akan mengusir kamu hai Syu'aib dan orang-orang yang beriman bersamamu dari kota kami, kecuali kamu kembali kepada agama kami". Berkata Syu'aib: "Dan apakah (kamu akan mengusir kami), kendatipun kami tidak menyukainya". (QS. Al A’raf,7: 88)

Dan Dia menyebutkan tentang Ahlul Kahfi bahwa mereka berkata:

Artinya: “Sesungguhnya jika mereka dapat mengetahui tempatmu, niscaya mereka akan melempar kamu dengan batu, atau memaksamu kembali kepada agama mereka, dan jika demikian niscaya kamu tidak akan beruntung selama-lamanya". (QS. Al Kahfi, 18: 20)

Dan dahsyatnya permusuhan antara para Rasul dengan kaumnya tidaklah terjadi kecuali setelah terang-terangan mencela dien mereka, membodoh-bodohkan ajaran mereka dan menghina tuhan-tuhan mereka.” (Ad Durar Juz  Al Jihad hal 207)

Syaikh Sulaiman Ibnu Sahman rahimahullah berkata juga saat menjelaskan ayat Al Mumtahanah: “Inilah Millah Ibrahim yang Allah Firmankan tentangnya:

Artinya: “Dan tidak ada yang benci kepada agama Ibrahim, kecuali orang yang memperbodoh dirinya sendiri, dan sungguh Kami telah memilihnya di dunia dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang yang saleh. (QS. Al baqarah, 2:130)

Maka wajib atas orang-orang muslim untuk memusuhi musuh-musuh Allah, menampakkan permusuhan terhadap mereka, menjauh dari mereka, tidak loyal kepada mereka, tidak bermu’asyarah dengan mereka dan tidak berbaur dengan mereka.” (Juz Al Jihad 221 Ad Durar As Saniyyah)

Dan Allah Subhanahu Wa Ta ‘Ala berfirman mengabarkan tentang Ibrahim ‘Alaihis Salam dalam tempat lain:

Artinya: “Ibrahim berkata: "Maka apakah kamu telah memperhatikan apa yang selalu kamu sembah, kamu dan nenek moyang kamu yang dahulu?” (QS. Asy-Syu’ara, 26: 75-76)

Dan ditempat ketiga Allah Subhanahu Wa Ta ‘Ala berfirman:

Artinya: “Dan ingatlah ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya:  "Sesungguhnya aku tidak bertanggung jawab terhadap apa yang kamu sembah tetapi (aku menyembah Rabb) Yang menjadikanku; karena sesungguhnya Dia akan memberi hidayah kepadaku". (QS. Az-Zukhruf, 43: 26-27)

Asy Syaikh Al ‘Allamah Abdurrahman Ibnu Hasan Ibnu Muhammad ‘Ibnu Abdil Wahhab berkata: Allah Subhanahu Wa Ta ‘Ala telah memfardlukan bara’ah dari syirik  dan kaum musyrikin, kafir terhadap mereka, memusuhi mereka, membenci mereka dan menjihadi mereka:

“Namun orang-orang yang dholim merubah ucapan dengan selain apa yang dikatakan kepada mereka”.

Artinya: “Lalu orang-orang yang mengganti perintah dengan (mengerjakan) yang tidak diperintahkan kepada mereka. Sebab itu Kami timpakan atas orang-orang yang zalim itu siksaan dari langit, karena mereka berbuat fasik” (QS.Al Baqarah, 2: 59)

Mereka justeru loyal kepada orang-orang musyrik, membantunya, menopangnya, meminta bantuannya atas kaum mukminin, membenci kaum mukminin dan mencelanya karena sebab hal itu. Dan semua hal-hal ini membatalkan ke-Islaman sebagaimana yang ditujukan oleh Al-Kitab dan As Sunnah dalam banyak tempat.”

Ada syubhat yang dilontarkan oleh banyak orang-orang yang terlalu tergesa-gesa, yaitu ucapan mereka bahwa Millah Ibrahim ini adalah fase terakhir dari fase-fase dakwah yang didahului penyampaian dengan penuh hikmah dan jidal dengan cara yang lebih baik. Dan seorang dai kelak menerapkan Millah Ibrahim ini, yaitu berupa bara’ah dari musuh-musuh Allah dan ma’budat mereka, kufur terhadapnya serta menampakkan permusuhan dan kebencian terhadap mereka, setelah kehabisan seluruh metode-metode dan hikmah.

Maka kami katakan dengan memohon taufiq Allah: Sesungguhnya ‘isykal ini hanyalah terjadi dengan sebab tidak jelasnya Millah Ibrahim pada diri orang-orang itu, dan dengan sebab percampuradukan antara metode mendakwahi orang-orang kafir di awal mula dakwah dengan metodenya terhadap orang-orang yang mu’anid (membangkang) di antara mereka, dan juga perbedaan antara hal itu semua dengan sikap orang muslim terhadap ma’budat, falsafah-falsafah dan undang-undang kuffar yang batil itu.     

Millah Ibrahim yang mana ia adalah pemurnian ibadah kepada Allah saja dan kufur terhadap segala yang diibadahi selain-Nya tidak boleh diakhirkan atau ditangguhkan, akan tetapi seyogyanya tidak boleh dimulai kecuali dengannya, karena itu adalah yang dikandung oleh kalimat laa ilaaha illallah  berupa penafian dan itsbat (penerapan), dan ia adalah inti dien, pusat roda putaran dalam dakwah para Nabi dan rasul. Dan agar segala ‘isykal lenyap dari dirimu, maka ada dua hal yang meski diketahui:

Pertama   : Adalah bara’ah dari segala thaghut dari ilah-ilah yang diibadati selain Allah ‘Azza wa Jalla dan kufur terhadapnya. Maka hal ini tidak boleh diakhirkan dan ditangguhkan. Namun mesti ditampakkan dan dinyatakan terang-terangan di awal titik perjalanan (dakwah)

Kedua     : Bara’ah dari orang-orangnya yaitu kaum musyrikin bila mereka bersikeras di atas kebatilannya. Dan inilah rinciannya :

Masalah pertama: Yaitu kufur terhadap thaghut-thaghut  yang diibadati selain Allah ‘Azza wa Jalla…, sama saja baik thaghut-thaghut ini patung dari batu, matahari, bulan, kuburan, pohon atau hukum-hukum dan undang-undang buatan manusia, maka Millah Ibrahim dan dakwah para Nabi dan rasul mengharuskan penampakkan sikap kufur terhadap ma’budat ini semuanya dan menampakkan permusuhan dan kebencian terhadapnya, meremehkan kedudukannya, menjatuhkan status dan keberadaannya, serta menampakkan kepalsuan, kekurangan dan cacat-cacatnya diawal titik perjalanan (dakwah) dan inilah keadaan para Nabi diawal dakwah terhadap kaumnya, di mana mereka mengatakan: 

Artinya: “Ibadahlah kalian kepada Allah dan jauhi “thaghut” (QS. An Nahl, 16: 36)

Dan diantaranya firman Allah Subhanahu Wa Ta ‘Ala tentang Al Hanif Ibrahim AS.

 Artinya: “Ibrahim berkata: "Maka apakah kamu telah memperhatikan apa yang selalu kamu sembah kamu dan nenek moyang kamu yang dahulu?” (QS. Asy-Syu’ara, 26: 75-76)

 Dan firman-Nya dalam surat Al-An’am:

Artinya: “Kemudian tatkala dia melihat matahari terbit dia berkata: "Inilah Rabbku, ini yang lebih besar", maka tatkala matahari itu telah terbenam, dia berkata: "Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.” (QS. Al An’am, 6: 78)

Artinya: “Maka Kami binasakan mereka maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan itu. Dan ingatlah ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya: "Sesungguhnya aku tidak bertanggung jawab terhadap apa yang kamu sembah, tetapi (aku menyembah Rabb) Yang menjadikanku; karena sesungguhnya Dia akan memberi hidayah kepadaku.” (QS. Az-Zukhruf, 43: 25-27)

Artinya: “Mereka berkata: "Siapakah yang melakukan perbuatan ini terhadap ilah-ilah kami, sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang zalim.” Mereka berkata: "Kami dengar ada seorang prmuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim". (QS. Al Anbiya’, 21: 59-60)

Para ahli tafsir berkata: (يذكرهم) yaitu menghinanya, memperolok-olokannya dan mencelanya, Al Kitab dan As Sunnah sarat dengan dalil-dalil atas hal itu. Dan cukuplah bagi kita tuntunan Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam di Mekkah, dan bagaiman beliau mencela tuhan-tuhan Quraisy dan menampakkan bara’ah darinya dan kufur terhadapnya sehingga mereka menggelarinya shabi’.

Dan bila engkau mau mengecek hal itu dan meyakinkan hal itu, maka silakan rujuk dan tadabburiy ayat-ayat Al Qur’an Al Makkiy yang baru saja turun beberapa ayat darinya kepada Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam sehingga langsung menyebar ke timur, barat, utara, dan selatan serta pindah dari mulut ke mulut di pasar-pasar, di majelis-majelis dan di tempat-tempat pertemuan. Ayat-ayat tersebut mengkhitabi orang-orang Arab dengan bahasa Arab yang mereka pahami…, dengan jelas dan lantang menjelek-jelekkan tuhan-tuhan mereka dan yang terbesar adalah Latta, Uzza, dan Manat pada zaman itu. Ayat itu mengumumkan bara’ah darinya, keterputusan hubungan darinya atau keridlaan dengannya, dan Nabi SAW tidak pernah menyembunyikan sedikitpun darinya. Beliau hanyalah pemberi peringatan.

Orang-orang yang memposisikan dirinya untuk dakwah pada masa sekarang sangat membutuhkan untuk mentadabburi hal ini baik-baik, dan mengintrospeksi diri mereka atas hal tersebut, karena dakwah yang berupaya membela dienullah kemudian ternyata melempar jauh-jauh inti yang paling mendasar ini adalah tidak mungkin sesuai dengan metode para Nabi dan Rasul. Sekarang kita pada zaman ini menyaksikan merebaknya syirik tahakum (perujukan hukum) pada UUD dan undang-undang buatan di tengah-tengah kita, sehingga dakwah-dakwah ini mau tidak mau harus mencontoh Nabi kita dalam mengikuti Millah Ibrahim dengan cara menjelek-jelekan kedudukan UUD dan undang-undang buatan, menyebut keburukannya pada manusia, menampakkan kekafiran terhadapnya, menampakan dan mengumumkan permusuhan terhadapnya dan menjelaskan penipuan para pemerintah, serta pengkaburannya dihadapan manusia. Kalau tidak demikian maka kapan lagi kebenaran ini ditampakkan dan bagaimana manusia mengetahui dien mereka dengan benar dan bisa memilah kebenaran dari kebatilan serta musuh dari kawan. Mungkin saja mayoritas mereka berdalih dengan maslahat dakwah dan fitnah. Coba fitnah apa yang lebih besar dari penyembunyian tauhid dan pengkaburan dien ini di hadapan mereka. Maslahat apa yang lebih besar dari penegakan Millah Ibrahim dan penampakkan loyalitas terhadap dienullah serta (penampakkan) permusuhan terhadap para thaghut yang diibadati dan ditaati selain Allah.

Dan bila kaum muslimin tidak diuji karena hal itu dan bila pengorbanan tidak dipersembahkan di jalannya, maka karena apa ujian itu. Kufur terhadap thaghut-thaghut seluruhnya adalah wajib atas setiap orang muslim sebagai separuh syahadatul Islam dan mengumumkan hal itu, menampakkan serta mengidharkannya adalah kewajiban yang agung juga yang mesti digemborkan oleh jama’ah-jama’ah kaum muslimin atau satu kelompok dari setiap jama’ah mereka itu paling minimal. Sehingga itu terkenal dan tersebar serta menjadi syiar dan ciri khusus bagi dakwah-dakwah ini, sebagaimana keadaan Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam, bukan pada zaman tamkin (jaya) saja namun pada masa istidlaf (ketertindasan) juga, sehingga menjadi buah bibir, ditahdzir dan dituduh memusuhi tuhan-tuhan itu dan yang lainnya.

Dan kami sangat heran, macam dakwah apa ini yang mana para du’atnya manangisi maslahatnya dan dien macam apa yang ingin mereka tegakkan serta tampakkan, sedangkan mayoritas mereka ini latah memuji undang-undang – ooh musibah besar – dan sebagian mereka memujinya, bersaksi atas kebersihannya, dan banyak dari mereka bersumpah untuk menghormatinya dan komitmen dengan poin-poin dan batasan-batasannya, kebalikan akan masalah yang seharusnya dan jalan sebenarnya. Seharusnya mereka itu menampakkan dan menyatakan permusuhan serta kufur terhadapnya, justeru mereka menampakkan loyalitas padanya dan ridla dengannya, maka apakah orang-orang seperti itu menebarkan tauhid atau menegakkan dien…?! Ilallahil Musytaka

Menampakkan dan menyatakan terang-terangan hal ini tidak ada kaitannya dengan pengkafiran hakim dan pengototannya untuk tetap berhukum dengan selain hukum Allah yang Maha Pengasih, karena ini berkaitan dengan UUD, hukum atau undang-undang yang berlaku dan dihormati yang diterapkan dan diagungkan serta dijadikan rujukan diantara manusia.

Masalah kedua: Yaitu bara’ah dari kaum musyrikin, kufur terhadap mereka, dan menampakkan permusuhan dan kebencian terhadap mereka itu. Al ‘Allamah Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata dalam Ighatsatul Lahafan: ”Dan tidak selamat dari kemusyrikan syirik akbar ini kecuali orang yang memurnikan tauhidnya terhadap Allah, memusuhi kaum musyrikin karena Allah serta mendekatkan diri kepada Allah dengan cara mencela mereka.” Dan beliau menisbatkannya kepada Syaikhul Islam. Dan masalah ini – yaitu bara’ah dari kaum musyrikin – lebih penting dari yang pertama, yaitu bara’ah dari ma’budat mereka.

Syaikh Hamd Ibnu ‘Atiq rh. Berkata dalam “Sabilun Najah Wal Fikak” saat menjelaskan Firman-Nya Subhanahu Wa Ta ‘Ala: “Sesungguhnya kami berlepas diri dari kalian dan dari apa yang kalian ibadati selain Allah.” (Al Mumtahanah : 4). “Dan disini ada faidah  yang sangat indah, yaitu bahwa Allah  Subhanahu Wa Ta ‘Ala mendahulukan bara’ah dari kaum musyrikin yang beribadah kepada selain Allah terhadap bara’ah dari berhala yang diibadati selain Allah, karena yang pertama lebih penting dari yang kedua. Sebab sesungguhnya dia bila Tabarra (berlepas diri) dari berhala dan tidak Tabarra dari yang mengibadatinya, maka dia tidak mendatangkan kewajiban dia. Adapun bila ia tabarra’ dari kaum musyrikin, maka ini memastikan bara’ah dari ma’budat mereka. Begitu juga Firman-Nya:

Artinya: “Dan saya tinggalkan kalian dan apa yang kalian seru selain Allah.” (QS. Maryam, 19: 48)

Dia mendahulukan sikap meninggalkan mereka terhadap sikap meninggalkan apa yang mereka seru selain Allah.

Dan juga Firman-Nya:

Artinya: “Maka tatkala dia menjauhi mereka dan apa yang mereka ibadati selain Allah” (QS. Maryam, 19: 49)

Dan Firman-Nya:

Artinya:Dan apabila kalian meninggalkan mereka dan apa yang mereka ibadati selain Allah.” (QS. Al Kahfi, 18: 16).

Pahamilah faidah (rahasiah) ini, karena sesungguhnya ia membukakan bagimu pintu untuk memusuhi musuh-musuh Allah. Berapa banyak yang tidak pernah muncul kemusyrikan darinya, akan tetapi dia tidak memusuhi para pelakunya, maka dia tidak menjadi muslim dengan itu karena ia telah meninggalkan dien semua para rasul.”(8)

Syaikh Abdullathif Ibnu Abdurrahman berkata dalam risalahnya yang ada dalam Ad Durar As Saniyyah: “Orang terkadang selamat dari syirik dan mencintai tauhid, tapi kekurangan muncul padanya dari sisi tidak bara’ah dari para pelaku syirik dan meninggalkan loyalitas pada ahli tauhid dan membela mereka, sehingga ia menjadi orang yang mengikuti hawa nafsu lagi masuk dalam syirik pada cabang-cabang yang merobohkan diennya dan (merobohkan) apa yang telah ia bangun, lagi meninggalkan dari tauhid ini inti-inti dari cabang-cabang yang mana tidak tegak bersamanya iman dia yang diridlainya, sehingga ia tidak mencintai dan tidak membenci karena Allah serta tidak memusuhi dan tidak loyalitas karena keagungan Dzat yng menciptakan dan menyempurnakannya. Dan semua ini di ambil dari syahadat Laa Ilaaha Illallah“. (Dari Juz Al Jihad: 681)

Beliau berkata lagi dalam risalah lain masih dalam kitab itu juga hal 842: “Dan bentuk taqarrub kepada Allah yang paling utama adalah mencela musuh-musuh-Nya yang musyrik, membenci mereka, memusuhi mereka dan menjihadinya. Dan dengan (sikap) ini si hamba selamat dari loyalitas terhadap mereka dengan meninggalkan kaum mukminin. Bila dia tidak melakukan hal itu, maka dia memiliki loyalitas terhadap mereka sesuai dengan kadar kewajiban yang dia tinggalkan itu, maka hati-hatilah dari apa yang bisa menghancurkan Islam dan mencabut akarnya”.

Syaikh Sulaiman Ibnu Sahman berkata:

Siapa yang tidak memusuhi kaum musyrikin dan tidak…

Loyalitas dan tidak membenci serta tidak menjauhi…

Maka ia tidak berada di atas minhaj sunnah Ahmad…

Dan tidak berada di atas jalan yang lurus lagi jelas…

Syaikh Muhammad Ibnu Abdil Wahhab rahimahullah berkata: “Orang muslim harus terang-terangan menyatakan bahwa ia adalah bagian dari thaifah mukminah ini sehingga ia mengokohkannya dan thaifah itu kokoh dengannya serta membuat kaget para thaghut yang mana mereka belum mencapai puncak pada permusuhannya sehingga ia terang-terangan menyatakan terhadap mereka bahwa ia adalah bagian dari thaifah yang memerangi mereka.“ (Majmu’ah At Tauhid)

Syaikh Husein dan Syaikh Abdullah putra Syaikh Muhammad Ibnu Abdil Wahhab ditanya tentang orang yang masuk dalam dien (tauhid) ini, dia mencintainya dan mencintai ahlinya, namun ia tidak memusuhi kaum musyrikin, atau ia itu memusuhinya namun tidak mengkafirkannya?, maka diantara jawaban mereka adalah:  “Siapa yang menyatakan saya tidak memusuhi para pelaku syirik, atau ia memusuhinya namun tidak mengkafirkannya, maka dia bukan orang muslim, dan ia tergolong orang-orang yang telah Allah Firmankan tentang mereka:

Artinya: “Dengan mengatakan:”kami bariman kepada sebahagian dan kami kafir terhadap sebahagian (yang lain).” Serta bermaksud (dengan perkataan itu) mengambil jalan (tengah) diantara yang demikian (iman atau kafir), merekalah orang-orang yang kafir sebenar-benarnya. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir itu siksaan yang menghinakan.“ (QS. An Nisa, 4: 150-151).  (Ad Durar)(9)

Syaikh Sulaiman Ibnu Sahman berkata:

Musuhilah orang yang memusuhi dien Muhammad…

Loyalilah orang yang loyal padanya dari setiap orang yang dapat hidayah…

Cintailah karena dasar cinta pada Allah orang yang beriman…

Bencilah karena dasar benci karena Allah orang-orang yang membangkang…

Sebab dien itu tidak lain adalah cinta, benci dan loyalitas…

Begitu juga bara’ dari setiap orang binasa dan melampaui batas…

Dan beliau berkata juga :

Ya, andai kau jujur pada Allah dalam apa yang engkau klaim…

Tentulah engkau musuhi orang yang kafir terhadap Allah…

Dan engkau loyali ahlul haq secara rahasia dan terang-terangan…

Dan tentu engkau tidak serang mereka seraya membela kekafiran…

Tidak setiap seorang yang mengatakan apa yang engkau ucapkan itu muslim…

Namun dengan syarat-syarat yang disebutkan di sana…

Menyelisihi orang-orang kafir disetiap tempat…

Dengan inilah telah datang kepada kita nash shahih yang menyatakannya…

Mengkafirkan mereka terang-terangan dan menghina pola pikir mereka…

Dan menyesat-nyesatkan mereka tentang apa yang mereka lakukan dan tampakkan…

Engkau menyatakan ketauhidan di tengah-tengah mereka…

Dan menyeru mereka padanya dengan sembunyi-sembunyi dan terang-terangan…

Inilah dien hanif dan petunjuk…

Serta Millah Ibrahim andai engkau merasakan…

Tentunya kami tidak mengatakan bahwa penampakkan bara’ah dan permusuhan ini mencakup termasuk bagi al mu’allaf quluubuhum atau orang-orang yang menampakkan penerimaan (akan tauhid) dan tidak menampakkan permusuhan akan dienullah, meskipun yang wajib adalah keberadaannya di dalam hati bagi setiap orang musyrik, sehingga membersihkan diri dari syiriknya, namun pembicaraan di atas adalah tentang penampakkan, i’lan, mujaharah dan pernyataan terang-terangan. Mereka dan bahkan orang-orang yang diktator (pembangkang) dan orang-orang yang dhalim diajak untuk taat kepada Allah dengan cara bijaksana dan wejangan yang baik di awal mulanya dakwah, kemudian bila mereka menerima maka mereka adalah saudara-saudara kami, kami mencintainya sesuai kadar ketaatan mereka, hak mereka sama dengan hak kami dan kewajiban mereka sama dengan kewajiban kami. Dan bila mereka menolak padahal hujjah telah jelas, mereka keras hati dan bersikukuh di atas keyakinan mereka yang batil dan syirik serta berdiri di barisan yang memusuhi dienullah, maka tidak ada mujamalah (basa - basi) dan mudahanah (sikap lembut) terhadap mereka, akan tetapi saat itu wajib menampakkan dan menyatakan terang-terangan bara’ah dari mereka. Dan mesti membedakan di sini antara keinginan kuat agar kaum musyrikin dan kafirin mendapatkan hidayah serta upaya mendapatkan pendukung bagi dien ini juga lembut dalam menyampaikan, bijaksana dan wejangan yang baik, (wajib) membedakannya dengan masalah cinta, benci, loyalitas dan permusuhan dalam dienullah, karena banyak dari manusia masih ngawur dalam hal itu, sehingga mereka mendapatkan kesulitan dalam memahami banyak nash, seperti: “Ya Allah beri petunjuk kaumku, sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang tidak mengetahui”. Dan yang lainnya.

Ibrahim AS telah bara’ah dari keluarga terdekatnya tatkala jelas baginya bahwa ayahnya itu bersikukuh di atas syirik dan kekafirannya. Allah Subhanahu Wa Ta ‘Ala berfirman:

Artinya: “Kemudian tatkala jelas baginya bahwa ia adalah musuh Allah, maka ia bara’ah darinya.” (QS. At Taubah, 8: 114)

Ini setelah beliau mengajaknya dengan penuh bijaksana dan wejangan yang baik, maka engkau bisa mendapatkannya mengkhitabi ayahnya dengan perkataannya.

Artinya: “Wahai Bapakku, sesungguhnya telah datang kepadaku sebahagian ilmu.” (QS. Maryam, 19: 43)

Artinya: “Wahai bapakku, sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan ditempa adzab dari Tuhan yang maha pemurah.”  (QS. Maryam, 19: 45)

Dan begitu juga Musa AS kepada Fir’aun setelah Allah mengutusnya kepadanya dan berfirman:

Artinya: “Maka katakan kepadanya ungkapan yang lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut.” (QS. Thaha, 20: 44)

Ia memulainya dengan ungkapan yang lemah lembut terhadapnya dalam rangka memenuhi perintah Allah, dia berkata:

Artinya: “Adakah keinginan bagi dirimu untuk membersihkan diri (dari kesesatan). Dan kamu akan ku pimpin ke jalan Tuhanmu agar supaya kamu takut kepada-Nya.” (QS. An Nazi’at, 79: 18-19).

Dan tatkala ia memperlihatkan kepadanya mukjizat-mukjizat yang besar dan tatkala Fir’aun menampakkan pendustaan, pembangkangan dan pengototan di atas kebatilan, maka Musa AS berkata kepadanya sebagaimana yang dikabarkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta ‘Ala:

Artinya: “Sesungguhnya kamu telah mengetahui, bahwa tiada yang menurunkan mukjizat-mukjizat itu kecuali Tuhan yang memelihara langit dan bumi sebagai bukti yang nyata dan sesungguhnya aku mengira kamu, hai Fir’aun seorang yang yang akan binasa.” (QS. Al Isra’ 17: 102).

Bahkan dia berdo’a untuk membinasakan mereka:

Artinya: Musa berkat: “Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau telah memberi kepada Fir’aun dan pemuka-pemuka kaumnya perhiasan dan harta kekayaan dalam kehidupan dunia, ya Tuhan kami akibatnya mereka menyesatkan (manusia) dari jalan Engkau, Ya Tuhan kami, binasakanlah harta benda mereka dan kunci matilah hati mereka, maka mereka tidak beriman hingga mereka melihat siksaan yang pedih.” (QS.Yunus, 10:  )

Orang-orang yang selalu mengembar-gemborkan nash-nash tentang lemah lembut dan kemudahan secara mutlak serta menempatkannya bukan pada tempat dan posisinya, seyogyanya bagi mereka untuk diam lama mentadabburi masalah ini, mempelajarinya dan memahaminya baik-baik bila memang mereka itu ikhlas.

Dan setelah itu hendaklah mereka mengetahui baik-baik bahwa orang yang diajak bicara dengan berbagai metode dan umumnya adalah tergolong metode lembut dan halus, baik lewat jalan risalah-risalah, buku-buku dan langsung berhadapan lewat perantaraan banyak para du’at serta dijelaskan kepadanya bahwa al hukmu bighairi ma anzalallah adalah kekafiran… dan dia tahu bahwa tidak boleh baginya berhukum dengan selain syari’at Allah, namun demikian dia tetap ngotot dan bersikukuh… meskipun pada dhahirnya pada banyak kesempatan dia menertawakan dagu-dagu orang miskin dengan janji-janjinya yang kosong lagi dusta dan ucapan-ucapannya yang di reka-reka serta dalih-dalih yang lemah lagi palsu… sedangkan lisan realitanya mendustakan ucapannya. Dan itu dengan cara pengakuannya serta diamnya dari merebaknya kekafiran dan kerusakan di tengah-tengah negeri dan masyarakat hari demi hari… pengekangannya terhadap para du’at dan kaum mukminin, sikap mempersulit terhadap orang-orang yang melakukan perbaikan dan pengintaiannya terhadap mereka dengan dinas intelejen dan aparat kepolisiannya… dan dalam waktu bersamaan pelapangannya bagi setiap orang yang memerangi dien Allah, memberikan kemudahan bagi sarana-sarana kerusakan dan pengrusakan untuk dikelola musuh-musuh Allah, bahkan mempersilakan sarana-sarana informasi bagi mereka, kerusakan mereka dan kekafiran mereka… serta menggulirkan undang-undang dan aturan-aturan yang memberikan sangsi bagi setiap orang yang menyerang “Yasiqnya” (undang-undangnya) Al Wadl’iy yang syirik, atau menyatakan kufur dan bara’ah darinya, atau menghinanya atau menjelaskan kebatilannya pada manusia… dan sikap bersikukuhnya untuk menjadikan undang-undang buatan (yasiq modern)nya sebagai pemutus diantara manusia dalam hal darah, harta dan kemaluan, padahal undang-undang itu penuh dengan kekafiran yang nyata…. Dan tidak berserah dirinya pada syari’at Allah serta tidak mau menjadikan sebagai rujukan padahal dia mengetahui akan wajibnya hal itu serta tuntutan kaum muslihin terhadapnya… maka orang seperti ini tidak boleh mudahanah (basa-basi) terhadapnya, muhadanah (berdamai) dengannya, mujamalah terhadapnya, mengagungkannya dengan gelar-gelar, mengucapkan selamat terhadapnya saat hari-hari raya dan munasabat atau menampakkan loyalitas terhadapnya atau pemerintahannya… Namun tidak boleh dikatakan kepadanya kecuali sebagaimana yang dikatakan oleh Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya kepada kaumnya: “Sesungguhnya kami berlepas diri dari kalian, UUD kalian, undang-undang kalian yang syirik dan pemerintahan kalian yang kafir…. kami kafir terhadap kalian (kami kafirkan kalian)… dan tampak antara kami dengan kalian permusuhan dan kebencian selama-lamanya sampai kalian kembali kepada Allah Subhanahu Wa Ta ‘Ala, menyerahkan diri dan tunduk kepada syari’at-Nya saja.”

Masuk dalam kategori ini juga pentahdziran (mengingatkan orang lain) untuk (tidak) loyal pada mereka, taat patuh kepada mereka, tentram dengan mereka, berjalan dalam alur mereka dan dari memperbanyak dari jumlah mereka dengan cara pekerjaan-pekerjaan yang membantu mereka untuk mengokohkan kebatilannya atau melanggengkan pemerintahannya dan menjaga atau menerapkan undang-undangnya yang batil seperti: tentara, polisi, intelejen dan yang lainnya.

Bila saja sikap-sikap salaf terhadap para penguasa zamannya – yang sama sekali tidak sah disamakan dengan ini dan yang semisal dengannya – adalah sikap-sikap yang tegas, jelas lagi bersih… mana hal itu bila dibandingkan dengan sikap-sikap banyak para tokoh dakwah pada zaman kita ini… padahal mereka itu masyhur dan disanjung oleh para pengikutnya… padahal para salaf itu tidak pernah alumni dari fakultas-fakultas ilmu-ilmu politik atau HAM, mereka tidak pernah membaca koran dan majalah-majalah yang kotor dengan dalih mempelajari tipu daya musuh…. Namun dengan demikian mereka itu lari dari penguasa dan pintu-pintunya sedangkan penguasa itu mencari mereka dan dengan harta dan yang lainnya. Adapun orang-orang yang mengaku salafiy sekarang dari kalangan yang mana dien mereka dipermainkan syaithan, mereka itu justeru mencari kebaikan dunia mereka dengan rusaknya dien mereka, mereka mendatangi dan mencari pintu-pintu penguasa sedangkan penguasa itu menghinakan mereka dan berpaling dari mereka.

Para salaf itu – semoga Allah meridlai mereka – melarang dari masuk pada penguasa yang dzalim, termasuk bagi orang yang ingin memerintahkan yang ma’ruf dan melarang dari yang mungkar, karena khawatir terkena fitnah mereka sehingga ia bermudahanah atau bermujamalah terhadap mereka untuk memuliakan mereka atau diam membiarkan sebagian kebatilannya atau mengakuinya, dan para salaf memandang bahwa menjauh dari mereka dan meninggalkan mereka adalah bentuk bara’ah dan pengingkaran terbaik terhadap keadaan mereka…. Dan silakan dengarkan Sufyan Ats Tsauri saat ia menyurati ‘Abbad Ibnu ‘Abbad, beliau berkata dalam suratnya: “Hati-hatilah kamu mendekati penguasa atau bergaul dengan mereka dalam hal sekecil apapun, dan hati-hatilah dari dikatakan kepadamu jadilah perantara dan tolonglah orang-orang yang didhalimi atau permintaan hak dikembalikan, karena sesungguhnya hal itu adalah tipu daya iblis… dan itu hanyalah dijadikan tangga oleh para ahli baca Al-Qura’an (yang fajir)…“ (Dari Siyar A’lam An Nubalaa 13/586 dan Jami’ Bayan Al ‘Ilmi Wa Fadllihi 1/179)

Lihatlah Sufyan rahimahullah menamakan apa yang dinamakan maslahat dakwah oleh para du’at hari ini sebagai tipu daya (khadi’ah) Iblis… dan beliau tidak mengatakan pada pelakunya sebagaimana yang dilakukan oleh banyak du’at sekarang yang menyia-nyiakan umurnya dalam rangka mencari maslahat dakwah dan membela dien disamping musuh-musuh dien ini dan orang-orang yang memeranginya: ”Jangan (keluar) wahai akhi…!!! tetaplah keberadaanmu dan mendekatlah kepada mereka, siapa tahu kamu berhasil dapat jabatan atau kursi di kabinet atau DPR dan bisa jadi kamu memperkecil kedhaliman, atau engkau memberikan manfaat buat saudaramu, jangan biarkan jabatan ini buat orang-orang ahli maksiat dan orang-arang bejat nanti mereka memanfaatkannya… dan… dan…”, justeru Sufyan mensifati hal itu bahwa ia adalah tangga untuk dunia bagi para ahli baca AL-Qur’an yang bejat, bila ini di zaman beliau maka apa gerangan di zaman kita. Kita memohon ‘afiyah kepada Allah Subhanahu Wa Ta ‘Ala, dan berlindung dari kejahatan orang-orang zaman sekarang dan kebusukan talbis-talbis mereka… dan semoga Allah Subhanahu Wa Ta ‘Ala melimpahkan rahmat kepada orang-orang yang berkata: 

Orang-orang yang kamu lihat mereka bergegas memenuhi panggilan majelis…

Di dalamnya terdapat kebinasaan dan setiap kekafiran yang dekat...

Bahkan di dalamnya ada undang-undang nasara sebagai acuan…

Tanpa ada nash yang terdapat dalam Al Qur’an…

Enyahlah kalian karena sebab gerombolan orang-orang yang telah merusak padanya. Cinta penyelisihan dan sogokan penguasa…

Syaikhul Islam Muhammad Ibnu ‘Abdil Wahhab rahimahullah seringkali mengutip ucapan Sufyan Ats Tsauriy: “Siapa yang duduk pada ahli bid’ah maka ia tidak akan selamat dari salah satu yang tiga:”

        Bisa jadi ia menjadi fitnah bagi yang lain dengan sebab duduk bersamanya, sedangkan telah ada dalam hadits:

“Siapa yang memberikan contoh yang baik dalam Islam ini, maka baginya pahalanya dan pahala orang yang mengamalkan setelahnya tanpa mengurangi sedikitpun dari pahala mereka. Dan siapa yang memberikan contoh yang buruk di dalam Islam ini, maka ia memikul dosanya dan dosa-dosa orang yang mengamalkannya setelah dia tanpa mengurangi sedikitpun dari pahala mereka.”  (HR. Muslim.)

        Bisa saja ada sedikit penganggapan baik di dalam hatinya, sehingga ia tergelicir dengannya kemudian Allah menjerumuskannya ke dalam api neraka dangan sebab itu.

        Bisa saja dia berkata: “Demi Allah saya tidak peduli dengan apa yang mereka katakan, dan sesungguhnya saya percaya dengan diri saya.”

Siapa orang yang merasa aman dari Allah sekejap saja atas diennya maka Allah mencabutnya  dari dirinya.“ (Dari Ad Durar dan yang lainnya)

Bila saja ini adalah ungkapan mereka tentang majelis-majelis bid’ah padahal bid’ahnya tidak mukaffirah sebagaimana yang telah diketahui dalam banyak tempat dari ucapan mereka, maka apa gerangan dengan duduk-duduk bersama dengan kaum murtaddun dari kalangan budak-budak undang-undang dan kaum musyrikin lainnya.

Perhatikan ucapannya:”…sesungguhnya saya pecaya dengan diri saya…” dalam nomor ke tiga...!!!, berapa banyak orang yang jatuh dari kalangan du’at zaman kita dengan sebabnya dan dengan yang sepertinya… oleh sebab itu carilah selamat… carilah selamat.

Dan bagaimanapun sungguh Allah Subhanahu Wa Ta ‘Ala telah menggugurkan semua jalan-jalan yang bengkok ini yang mana para pelakunya menyampaikan pembelaan akan dien di baliknya, maka Allah Subhanahu Wa Ta ‘Ala telah menjelaskan bahwa tidak ada pembelaan yang diharapkan dan tidak ada maslahat diniyyah selama-lamanya dalam sikap taqarrub kepada manusia yang dholim, Allah Subhanahu Wa Ta ‘Ala berfirman dalam surat Hud yang membuat Nabi SAW beruban:

Artinya: “Dan janganlah kalian cenderung kepada orang-orang dhalim yang menyebabkan kalian disentuh api neraka, dan sekali-kali kalian tiada mempunyai seorang penolong selain daripada Allah, kemudian kamu tidak akan diberi pertolongan.” (QS. Hud, 11: 113)

Maka dibalik mudahanah-mudahanah dan jalan-jalan yang timpang ini tidak ada pembelaan buat dien Allah dan tidak ada maslahat meskipun hal itu diduga oleh orang-orang yang menduga… kecuali bila sentuhan api neraka itu adalah maslahat dakwah bagi mereka. Maka sadarlah kamu dari tidur kamu, dan janganlah kamu terpedaya oleh setiap orang yang berceloteh dan berbicara.

Para ahli tafsir berkata tentang firman-Nya Subhanahu Wa Ta ‘Ala. “ولاتركنوا” Ar Rukuun adalah kecenderungan yang sedikit.

Abul ‘Aaliyah berkata: “Janganlah kalian cenderung pada mereka dengan kecenderungan yang banyak dalam kecintaan dan perkataan yang lembut.”

Sufyan Ats Tsauriy berkata: “Atau mengambilkan kertas baginya, maka ia telah masuk dalam hal itu.”

Syaikh Hamd Ibnu ‘Atiq berkata: “Maka Allah  Subhanahu Wa Ta ‘Ala mengancam dengan sentuhan api neraka orang yang cenderung kepada musuh-musuh-Nya dengan ucapan yang lemah lembut.”

Syaikh Abdullathif Ibnu Abdurrahman - dan beliau tergolong Aimmah Dakwah Najdiyyah Salafiyyah - juga berkata setelah menuturkan sebagian perkataan al mufassirun yang lalu tentang makna cenderung. ”Itu dikarenakan dosa syirik adalah dosa terbesar yang dengannya Allah didurhakai dengan beragam tingkatannya, maka apa gerangan bila hal itu ditambah dengan apa yang lebih buruk, yaitu perolok-olokan terhadap ayat-ayat Allah, menggeser hukum-hukum dan perintah-perintah-Nya, serta menamakan hukum yang menyelisihinya dengan keadilan, sedangkan Allah, Rasul-Nya dan kaum mukminin mengetahui bahwa itu adalah kekafiran, kejahilan dan kesesatan. Orang yang sedikit memiliki penjunjungan (pada dien) dan di hatinya ada sedikit kehidupan tentu dia cemburu terhadap Allah, Rasul-Nya, kitab-Nya dan Dien-Nya, serta dahsyatlah pengingkaran dan bara’ahnya di setiap kesempatan dan majelis. Ini tergolong jihad yang mana menjihadi musuh tidak terealisasi kecuali dengannya. Maka pergunakanlah kesempatan idhhar dienullah, mudzakarah dengannya, mencela orang yang menyalahinya, bara’ah darinya dan dari para pelakunya. Perhatikanlah sarana-sarana yang menjerumuskan pada kerusakan terbesar ini dan perhatikanlah nash-nash syari’at yang menjelaskan sarana-sarana dan jalan-jalan (yang menghantarkannya), karena mayoritas manusia meskipun dia tabara’ darinya dan dari pelakunya namun ia adalah tentara bagi orang-orang yang loyal pada mereka, tenang dengan mereka dan tinggal dengan perlindungan mereka, Wallahul musta’an.“ (Ad Durar Juz Al Jihad hal 161). Sungguh  indah sekali, seolah beliau berbicara tentang zaman kita.

Syaikh Muhammad Ibnu ‘Abdil Wahhab rahimahullah berkata; takutlah kepada Allah… takutlah kepada Allah… Wahai sudara-saudaraku, pegang teguhlah ashlu dien  kalian, yang paling awal dan pangkalnya serta kepalanya, yaitu syahadat Laa Ilaha Illallaah, ketahuilah maknanya dan cintailah ia dan cintailah orang-orangnya serta jadikanlah mereka itu sebagai saudara-saudara kalian meskipun mereka jauh dari kalian secara keturunan. Dan kufurlah kepada para thaghut, musuhilah mereka, bencilah mereka dan bencilah orang yang mencintai mereka atau membela-membela mereka atau tidak mengkafirkan mereka atau mengatakan,”apa urusan saya dengan mereka” atau mengatakan, “ Allah tidak membebani saya untuk mengomentari mereka”, Sungguh orang ini telah berdusta dan mengada-ada atas nama Allah dengan dosa yang nyata, sungguh Allah telah mewajibkan setiap muslim untuk membenci orang-orang kafir, dan memfardlukan atasnya untuk memusuhi mereka, mengkafirkan mereka dan bara’ah dari mereka, meskipun mereka itu ayah-ayah mereka atau anak-anak mereka atau saudara-saudara mereka. Oleh sebab itu takutlah pada Allah… takutlah pada Allah… pegang teguhlah hal itu… mudah-mudahan kalian bertemu dengan Rabb kalian, seraya kalian tidak menyekutukan sesuatupun dengan-Nya.” (Dari Majmu’ah At Tauhid)


(6) Lihat catatan kaki sesudahnya

(7) Bila yang dimaksud adalah inti permusuhan, maka ucapan itu sesuai ithlaqnya. Dan bila yang dimaksud adalah umumnya permusuhan, menampakannya dan segala rinciannya serta terang-terangan dengannya, maka ucapan itu adalah tentang istiqomah Islam bukan tentang hilang intinya. Syaikh Abdullathif  dalam kitabnya “MISHBAH ADH-DHALAM” memiliki rincian seputar masalah ini, maka silakan orang yang mau merujuknya dan di dalamnya ada ucapan: “Orang yang memahami pengkafiran orang yang tidak terang-terangan dengan permusuhannya dari perkataan Syaikh, maka pemahamannya batil dan pendapatnya sesat”. Dan nanti dalam lembaran ini akan datang rincian perkataannya. Sedangkan kami hanya menuturkan ucapan-ucapan mereka dalam pasal ini dalam rangka menjelaskan pentingnya inti ini yang ciri-cirinya telah hilang pada mayoritas du’at zaman ini. Kemudian kami cantumkan penjelasan-penjelasan ini - padahal ungkapan itu sangat jelas - untuk menutup jalan di hadapan orang-orang yang berupaya memancing di air yang keruh, terus mereka mencari-cari perkataan-perkataan umum dan hal-hal yang menopang mereka untuk menuduh kami beraqidah Khawarij. 

(8) Yang dimaksud Syaikh disini wallahu a’lam adalah dia itu tidak memusuhi mereka dan tidak membencinya sama sekali termasuk di hatinya, bahkan justeru dia menyimpan di hatinya terhadap mereka itu sikap sebaliknya, yaitu cinta dan kasih sayang. Maka tidak diragukan lagi dia itu telah membatalkan keimanannya dan telah meninggalkan dien seluruh para rasul. Allah  Subhanahu Wa Ta ‘Ala berfirman:

“Engkau tidak dapatkan orang-orang yang beriman kepada Alllah dan hari akhir menjalin kasih sayang dengan orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya.”

(9)  Lihat catatan kaki yang lalu

Islamic Media Ibnuisa
PUSTAKA ISLAM
HOME