Teya Salat

TANBIH

Dan ketahuilah setelah itu semua bahwa tidak ada pertentengan perealisasian Millah Ibrahim degan sikap mengambil sebab-sebab sirriyyah (rahasia) dan kitman (penyembunyian) dalam gerakan yang serius untuk nushrah dien ini…. Perkataan kami ini semuanya tidak menolak sebab yang agung yang pernah dipakai oleh Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam, sedangkan dalil-dalil atas hal itu dari sirahnya adalah sangat banyak sekali. Namun yang dikatakan semestinya adalah bahwa sirriyyah ini wajib diletakan di tempat yang sebenarnya, yaitu sirriyyah dalam perencanaan (takhthith) dan persiapan (i’dad). Adapun Millah Ibrahim dan kufur kepada para thaghut, falsafah-falsafah mereka dan ilah-ilah mereka yang batil, maka ini tidak masuk dalam sirriyyah, namun ia tergolong dakwah yang harus dijaharkan, sehingga mesti menampakkannya semenjak awal perjalanan sebagaimana yang telah kami jelaskan. Dan atas hal itulah sabda Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam ini di tafsirkan:

Artinya: “Akan senantiasa segolongan dari umatku menang (nampak) diatas kebenaran.” (HR Muslim dan yang lainnya).

Adapun menyembunyikan dan merahasiakannya dalam rangka mudahanah terhadap para thaghut, masuk dalam barisan mereka serta bertengger di atas jabatan-jabatan meraka, maka ini bukan termasuk jalan Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam, namun ia tergolong jalan sirriyyah para aktivis organisasi-organisasi bumi yang wajib dikatakan kepada mereka juga:

“Bagi kalian agama kalian dan bagiku agamaku.”

Singkatnya yang mesti dipahami dalam hal ini adalah sirryyiah dalam ‘idad dan perencanaan lagi terang-terangan dalam dakwah dan penyampaian.

           Dan kami katakan hal itu karena banyak manusia, baik dari kalangan penebar kabar bohong atau kalangan orang-orang yang tidak memahami dakwah Nabi-Nabi yang sebenarnya, mereka mengatakan karena kajahilan mereka bahwa jalan yang kalian seru (manusia) kepadanya adalah membongkar dan membuka rencana-rencana kita mempercepat upaya pembabatan akan dakwah dan hasil-hasilnya.

           Maka dikatakan kepada mereka: Pertama; Sesungguhnya buah-buah hasil yang diklaim ini tidak akan matang tidak akan nampak kelayakannya sehingga penanamannya sesuai dengan minhaj an nubuwwah, sedangkan realita dakwah-dakwah gaya baru ini adalah dalil dan saksi terbesar atas hal itu setelah dalil-dalil syar’iy yang lalu dari Millah Ibrahim dan dakwah para Nabi dan Rasul shalawatullah wa salaamuhu ‘alaihim ajma’iin… dimana apa yang kita derita pada masa sekarang berupa kejahilan anak-anak kaum muslimim, terkaburnya al haq atas mereka dengan kebatilan, serta ketidak jelasan sikap-sikap al wala dan al bara’ adalah karena diamnya dan penyembunyian para ulama dan du’at terhadap kebenaran ini, seandainya mereka itu terang-terangan dan menyampaikan dengan lantang serta berani menanggung resiko sebagaimana keadaan para Nabi, tentulah jelas dan nampak di hadapan manusia seluruhnya, dan terujilah serta terpeliharalah dengan sebab itu ahlul haq dari ahlul batil, dan tentulah sampai risalah Allah serta lenyaplah talbis (pengkaburan) yang terjadi di hadapan manusia terutama dalam hal-hal penting dan paling berbahaya pada zaman ini, sebagai mana peribahasa:

“Bila orang alim berbicara denga taqiyyah (penyembunyian) dan orang jahil dengan kejahilannya, maka kapan kebenaran itu ditampakkan.”

Bila dienullah dan tauhid-Nya yang bersifat ‘amaliy dan ‘itiqadiy tidak nampak dihadapan manusia, maka buah hasil macam apa yang ditunggu dan diharapkan para du’at itu?

              Apakah ia (daulah Islamiyyah)? Sesungguhnya penampakan tauhidullah di hadapan manusia dan mengeluarkan mereka dari kegelapan-kegelapan syirik kepada cahaya-cahaya tauhid adalah tujuan terbesar dan maksud paling penting meskipun dakwah itu diberangus dan para du’atnya disiksa.

           Dien ini tidak bakal nampak kecuali dengan perhelatan dan ujian (pengorbanan):

Artinya: “Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebahagian manusia dengan sebagaian yang lain, pasti rusaklah bumi ini…” (QS. Al Baqarah, 2: 251)

Artinya: “Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku. (QS. Al Baqarah, 2: 152)

           Dan dengan hal itu terealisasilah I’laa Dinillah, penyelamatan manusia dan penyelamatan mereka dari syirik dengan berbagai ragamnya. Inilah tujuan utama yang karenanya terjadi ujian dan pengorbanan-pengorbanan bergelimpangan di pintu-pintunya. Sedangkan Daulah Islamiyyah tidak lain adalah salah satu sarana dari sarana-sarana atas tujuan yang agung ini. Dan dalam kisah Ashhabul Ukhdud terdapat pelajaran bagi orang-orang yang berakal. Sesungguhnya si Ghulam sang pandai yang jujur itu sama sekali tidak menegakkan daulah dan kekuatan, namun ia telah mengidhharkan tauhidullah dengan sebenarnya, membela dien yang haq dengan pembelaan yang kokoh serta meraih syahadat. Dan apa nilai kehidupan setelah ini dan apa harga kematian (pembunuhan), siksa dengan dibakar dan penyiksaan… bila sang da’i berhasil dengan kemenangan yang sangat (paling) besar… baik ada daulah atau tidak… dan meskipun kaum muslimim dibakar serta meski mereka dimasukan dalam parit, maka sesungguhnya mereka orang-orang yang menang, karena kalimat Allah adalah yang menang dan teratas di atas segalanya… ini di tambah bahwa syahadah adalah jalan mereka dan surga adalah tempat kembali mereka… sungguh bahagialah dengan hal itu.

            Dengan hal ini engkau mengetahui bahwa ucapan orang-orang jahil itu: “…sesungguhnya cara seperti ini bisa menghabisi dakwah ini dan mempercepat kehancuran hasil-hasilnya…”, adalah kebodohan dan penyebaran kebohongan, karena dakwah ini adalah dienullah yang mana Allah ‘Azza wa Jalla telah menjanjikan untuk memenangkan atas semua dien meskipun orang-orang musyik tidak menyukainya. Dan itu pasti terjadi lagi tidak ada keraguan di dalamnya. Pembelaan terhadap dienullah dan meninggikannya tidaklah tergantung pada sosok-sosok penebar kebohongan itu, yang bisa lenyap dengan lenyapnya mereka atau binasa dengan kebinasaan mereka atau keberpalinganya. Allah  Subhanahu Wa Ta ‘Ala berfirman:

Artinya: “Dan bila kalian berpaling niscaya Dia akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain, dan mereka tidak akan seperti kalian (lagi), (QS. Muhammad, 47: 38)

Dan firman-Nya Subhanahu Wa Ta ‘Ala:

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, barang siapa diantara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mu’min, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut terhadap celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, di berikan-Nya kepada siapa yang di kehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al Maidah, 5: 54. )

Dan Allah Subhanahu Wa Ta ‘Ala berfirman:

Artinya: “Dan siapa-siapa yang berpaling (dari perintah-perintah Allah), maka sesungguhnya Allah Dia-lah Yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” (QS.Al Hadid, 57: 24).

Dan inilah dakwah para Nabi dan Rasul serta para pengikutnya adalah saksi terbaik di setiap zaman. Mereka adalah manusia yang paling dahsyat ujian dan cobaannya. Cobaan ini tidak mempengaruhi cahaya dakwah mereka bahkan tidak menambah kecuali makin tampak, makin tersebar dan makin kokoh di hati manusia dan di tengah barisan mereka. Inilah buktinya hingga sekarang masih senantiasa menjadi cahaya yang menerangi orang-orang yang berada di jalan dakwah ilallah. Dan inilah kebenaran yang tidak diragukan lagi.

 Kemudian bersama penjelasan ini semua… ada masalah lain yang mesti diketahui di sini… yaitu bahwa terang-terangan dengan penampakan permusuhan dan bara’ah dari orang-orang kafir mu’anid serta penampakan sikap kufur terhadap ma’budat mereka dan kebatilannya yang beraneka ragam di setiap zaman, Meskipun ini adalah hukum asal bagi keadaan dai yang muslim… dan ini adalah sifat para Nabi dan cara dakwah mereka yang lurus lagi jelas… dan dakwah-dakwah ini tidak akan berhasil dan tujuan serta keadaannya tidak akan layak, juga  dienullah tidak akan nampak dan manusia tidak akan mengetahui al haq kecuali dengan cara komitmen dan mengikuti hal itu. Bersama ini semua di katakan bahwa bila ada sekelompok ahlul haq telah menyatakannya dengan terang-terangan, maka kewajiban itu gugur dari yang lainnya… apalagi orang-orang yang tertindas diantara mereka. Dan itu adalah menjaharkan dien ini. Adapun hal itu sendiri adalah wajib atas setiap muslim di setiap zaman dan tempat, karena ia sebagaimana uraian kami yang lalu adalah termasuk laa ilaha ilallah yang mana keIslaman seseorang tidak sah kecuali dengannya. Adapun penjaharaan dienullah ini ditelantarkan dan digugurkan secara total dengan mengorbankan dakwah - padahal ia adalah pokok yang paling inti dalam dakwah para Nabi - maka ini adalah hal yang asing lagi muhdats (bid’ah) yang sama sekali bukan dari ajaran Islam. Bahkan ini masuk pada para du’at yang berdakwah dengan selain tuntunan Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam dengan sebab taqlid mereka dan sikap membeo terhadap partai-partai bumi dan cara-caranya yang memegang taqiyyah dalam setiap keadaan dan tidak peduli dengan mudahanah atau tidak merasa sungkan dengan nifaq.

Pengecualian kami ini bukan bersumber dari hawa nafsu dan akal-akalan, namun (bersumber) dari nash-nash syar’iyyah naqliyyah yang banyak…. Dan orang yang mengamati sirah Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam pada masa ketertindasan akan jelas nyata hal itu baginya…. Dan sebagai contoh saja silakan lihat: Kisah keIslaman ‘Amr Ibnu Abasah As Sulamiy dalam Shahih Muslim. Bukti dari hal itu atas masalah ini adalah ucapannya. Saya berkata: ”Sesungguhnya aku mengikutimu.” Rasulullah berkata: “Sesungguhnya kamu tidak mampu hal itu pada hari kamu ini, apa engkau tidak melihat kondisiku dan kondisi manusia, namun pulanglah kamu ke keluargamu kemudian bila kamu mendengar bahwa aku telah menang, maka datanglah kamu padaku…” hingga akhir hadits.

An Nawawiy berkata: ”Maknanya: saya berkata kepadanya: sesungguhnya saya mengikutimu untuk mengidhharkan Islam di sini dan saya tinggal bersamamu,” maka Rasulullah berkata : “Kamu tidak mampu akan hal itu karena lemahnya kekuatan kaum muslim dan kami khawatir atas dirimu dari penindasan orang-orang kafir Quraisy, akan tetapi pahalamu telah teraih, oleh sebab itu tetaplah di atas keIslamanmu dan pulanglah ke kaummu serta teruslah diatas Islam di tempatmu sampai kamu mengetahui saya telah menang, maka datanglah kepadaku….”

           Ini adalah seseorang yang telah di izinkan oleh Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam untuk tidak menyatakan terang-terangan (I’lan) dan (tidak) menampakan diennya… karena dien Allah dan dakwah Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam telah tersebar, terkenal lagi nampak pada saat itu, dan ini ditunjukan oleh ucapan beliau Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam dalam hadits itu: “Apakah kamu tidak melihat kondisiku dan kondisi manusia…”

Kisah keIslaman Abu Dzar dalam Al Bukhari juga. Dan yang menjadi bukti atas hal itu darinya adalah ucapan beliau Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam: “Wahai Abu Dzar sembunyikan hal ini dan kembalilah ke negerimu, kemudian bila berita kemenanganku telah sampai kepadamu, maka datanglah…” hingga akhir hadits. Namun demikian Abu Dzar tetap saja menampakannya di tengah-tengah orang kafir sebagai bentuk mengikuti akan tuntunan Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam dan jalannya dalam hal itu, dan oleh karenanya mereka memukulinya agar ia mati sebagaimana ada dalam hadits. Dan meskipun beliau melakukan penjaharan itu berulang-ulang namun Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam sama sekali tidak mengingkari perbuatannya itu, beliau tidak mematahkan semangatnya, dan beliau tidak mengatakan kepadanya seperti apa yang dikatakan para da’i zaman kita, “…sesungguhnya kamu dengan perbuatan kamu ini akan membawa petaka pada dakwah, dan bisa menimbulkan reaksi fitnah serta membahayakan mashlahat dakwah atau membuat mundur dakwah 100 tahun ke belakang…“, tidak mungkin beliau mengatakan seperti itu…. Beliau adalah talaudan bagi manusia serta contoh buat mereka hingga hari kiamat dalam jalan ini…. Sikap bersembunyi-sembunyi sebagian kaum mustadl’afin dari kalangan pengikut dakwah adalah suatu hal, dan nampaknya dien serta pengi’lanannya adalah hal lain pula, sedangkan dakwah Nabi adalah nampak, terkenal lagi tersebar. Dan semua mengetahui bahwa intinya dan pusat roda putarnya adalah kufur kepada para thaghut zaman itu dan tauhidul ibadah dengan segala macamnya bagi Allah ‘Azza wa Jalla… sampai-sampai beliau ditahdzir dan diperangi dengan berbagai macam sarana. Dan kaum mustadl’afin dari kalangan para pengikutnya sama sekali tidak butuh sembunyi-sembunyi dan hijrah serta apa yang mereka alami berupa penyiksaan dan penganiayaan itu tidak terjadi kecuali karena sebab jelasnya dakwah ini dan tersebar intinya dan seandainya ada sedikit saja mudahanah dari mereka sebagaimana yang dilakukan orang sekarang, tentulah itu semua tidak terjadi pada diri mereka.

          Dan dengan pemahaman engkau akan rahasia makna yang agung ini maka jelaslah di hadapanmu faidah lain yang sangat urgent: Yaitu bolehnya memperdaya orang-orang kafir dan menyusupnya sebagian kaum muslimin di tengah-tengah barisan mereka saat muwajahah (bersitegang/berperang berhadap-hadapan) dan situasi perang bila dien ini nampak jelas dan inti dakwah telah terkenal…. Maka dalam keadaan ini sah-lah berdalil dengan kisah pembunuhan Ka’ab Ibnu Asyraf serta yang semisalnya. Adapun banyak dari para du’at menyia-nyiakan umur mereka dalam barisan tentara para thaghut seraya loyalitas lagi mudahanah, mereka hidup dan mati sedang mereka dalam keadaan mengabdi kepada para thaghut dan kepada lembaga-lembaga mereka yang busuk dengan dalih dakwah dan nashruddien, maka mereka itu mengkaburkan dien manusia di hadapan khalayak serta mengubur tauhidnya. Jalan ini ada di barat sedangkan dakwah Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam dan tuntunannya ada di timur.

Ia berjalan ke arah timur sedang aku jalan ke barat…

Sungguh jauh antara timur dan barat…

        Jadi Millah Ibrahim adalah cara dakwah yang benar… yang konsekuensi di dalamnya adalah meninggalkan para kekasih dan terpenggalnya leher-leher ini.

           Adapun selainnya, berupa cara-cara dan metode-metode yang bengkok serta jalan-jalan yang timpang lagi menyimpang itu yang mana para pengusungnya ingin menegakan dienullah tanpa meninggalkan posisi-posisi dan jabatan-jabatannya, dan tanpa membuat geram para penguasa… atau tanpa kehilangan istana-istana, istri-istri dan kemesraan di tengah keluarga, rumah dan tanah air, maka itu sama sekali bukan termasuk Millah Ibrahim meskipun para pembawa dakwahnya mengklaim bahwa mereka berada diatas manhaj salaf serta diatas dakwah para Nabi dan Rasul. Demi Allah sungguh kami telah melihat mereka…. Kami melihat mereka bagaimana mereka berseri-seri di hadapan kaum munafiqin dan dhalimin bahkan di hadapan orang-orang kafir yang memerangi Allah dan Rasul-Nya, bukan untuk mendakwahi mereka dan harapan mereka dapat hidayah… namun duduk bersama mereka dalam rangka mudahanah dan pengkuan akan kebathilan mereka, bertepuk tangan untuk mereka, berdiri dalam rangka memuliakan mereka seraya mengagungkannya dan memanggil dengan gelar-gelar mereka seperti: Shahibul Jalalah (Paduka Yang Mulia)… Sri Baginda Raja… Presiden yang terpercaya… Pangeran… bahkan Imamul Muslimin dan Amirul Mukminin… padahal mereka itu memerangi Islam dan kaum muslimin…(10) Ya demi Allah sungguh kami telah melihat mereka… orang diantara mereka pulang pergi menjual diennya dengan harga yang tidak senilai dengan sayap nyamuk… pada sore hari dia mukmin mempelajari tauhid dan bisa jadi mengajarkannya, serta pada pagi harinya dia bersumpah untuk menghormati UUD dengan hukum-hukumnya yang kafir, dia menyatakan kesucian undang-undang buatan, memperbanyak jumlah orang-orang dholim, dan menemui mereka dengan wajah berseri-seri dan lisan yang manis… padahal mereka itu siang malam selalu membaca ayat-ayat Allah yang melarang cenderung kepada orang-orang dhalim atau mentaati mereka dan ridla dengan bagian kebathilan mereka.

           Mereka itu membaca ayat-ayat ini:

Artinya: “Dan janganlah kalian cenderung pada orang-orang yang dhalim yang menyebabkan kamu di sentuh api neraka.” (QS. Hud, 11: 113)

Dan firman-Nya:

Artinya: “Dan sungguh Allah telah menurunkan kepada kalian di dalam Al Qur’an bahwa apabila kalian mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diolok-olokan (oleh orang-orang kafir) maka janganlah kamu duduk bersama mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan lain. Karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian) tentulah kalian serupa dengan mereka. (QS. An  Nisa, 4: 140)

Syaikh Sulaiman Ibnu Abdillah Ibnu Muhammad Ibnu Abdil Wahhab rahimahullah berkata tentang makna firman Allah  Subhanahu Wa Ta ‘Ala “…karena sesungguhnya (kalau kalian berbuat demikian) tentulah kalian serupa dengan mereka…” “Ayat ini sesuai dengan dhahirnya, yaitu bahwa bila orang mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan, terus dia duduk di sisi orang-orang kafir yang memperolok-olokan itu tanpa paksaan dan tanpa pengingkaran serta tanpa pergi dari mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain, maka dia itu kafir seperti mereka meskipun tidak melakukan apa yang mereka  lakukan…” (Ad Durar juz Al Jihad: 79)

           Dan firman Allah Subhanahu Wa Ta ‘Ala:

Artinya: “Dan apabila kalian melihat orang-orang yang memperolok-olok ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan yang lain.” (QS. Al An’am, 6: 68)

           Al Hasan Al Bashri berkata: “Tidak boleh duduk bersama mereka, baik mereka memperolok-olokan atau tidak, berdasarkan firman-Nya:

Artinya: “Dan jika syaitan menjadikan kamu lupa (akan larangan ini), maka jannganlah kamu duduk bersama orang-orang yang zalim itu setelah teringat (akan larangan itu).” (QS. Al An’am, 6: 68)

Dan juga firman-Nya:

Artinya: “Dan kalau Kami tidak memperkuat (hati) mu, niscaya kamu hampir-hampir condong sedikit kepada mereka, kalau terjadi demikian, benar-benarlah Kami akan rasakan kepadamu  (siksaan) berlipat ganda di dunia ini dan begitu (pula siksaan) berlipat ganda sesudah mati, dan kamu tidak akan medapat seorang penolongpun terhadap Kami. (QS. Al Isra’, 17: 74-75)

Syaikh Sulaiman Ibnu Abdillah berkata: “Bila saja khithab ini terhadap makhluk paling mulia Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam, maka apa gerangan dengan yang lainnya” (Ad Durar Juz Al Jihad: 47)

Dan mereka itu membaca firman-Nya Subhanahu Wa Ta ‘Ala yang mensifati kaum Mukminin:

Artinya: “Dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna.” (QS. Al Furqan, 25: 47)

Dan firman-Nya Subhanahu Wa Ta ‘Ala:

AArtinya: “Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksiaan palsu, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaidah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.” (QS. Al Furqon, 25: 72)

Mereka mengklaim bermanhaj salaf, padahal salaf itu selalu lari dari pintu-pintu penguasa dan jabatan-jabatannya di masa penguasa yang menegakkan syari’at dan kebenaran, bukan di masa-masa kezaliman dan kegelapan. Dan demi Allah pedang tidak diletakan di leher mereka, mereka tidak digantung dan mereka tidak dipaksa atas hal itu… justeru mereka melakukannya dengan sukarela, mereka mendapatkan gaji yang besar dan kekebalan diplomasi… kami berlindung kepada Allah dari hawa nafsu dan rabunnya bashirah… dan seandainya mereka mengumumkan dan mengatakan: “…kami lakukan ini karena demi dunia…”, tentulah masalahnya menjadi jelas tidak mengkaburkan… tapi mereka mengatakan: “…maslahat dakwah dan pembelaan dien ini...”. Siapa yang kalian permainkan wahai orang-orang miskin… apakah terhadap kami… kami ini orang-orang lemah? sesungguhnya kami dan yang seperti kami adalah tidak memiliki manfaat dan mudlorat bagi kalian… atau kalian ini mempermainkan Penguasa langit dan bumi yang tak ada yang samar bagi-Nya sedikitpun… dan Dia mengetahui rahasia dan pembicaraan rahasia kalian.

Dan sungguh kami telah mendengar mereka menuduh orang yang menyelisihi mereka atau yang mengingkari mereka dengan tuduhan bahwa mereka itu sempit pemikiran dan kurang pengalaman serta tuduhan bahwa mereka itu tidak memiliki hikmah dalam dakwah, tidak punya kesabaran dalam memetik buah (dakwah) atau tidak memiliki bashirah akan waqi’ (realita) dan sunnah kauniyyah, atau (tuduhan) bahwa mereka tidak memiliki cukup ilmu akan politik, dan bahwa mereka itu kurang ahli dalam memandang realita yang ada. Orang-orang miskin itu tidak mengetahui bahwa mereka dengan ucapan itu tidaklah menuduh sosok-sosok tertentu saja… namun dengan hal itu  mereka menuduh dien seluruh Rasul dan Millah Ibrahim yang di antara hal terpentingnya adalah penampakkan bara’ah dari musuh-musuh Allah, kufur terhadap mereka dan ajaran-ajarannya yang bengkok dan menampakkan permusuhan dan kebencian kepada falsafah-falsafah mereka yang kafir, mereka tidak mengetahui bahwa ucapan mereka ini mengandung konsekuensi tuduhan bahwa Nabi Ibrahim AS dan orang-orang yang bersamanya tidak memiliki hikmah dalam dakwah, tidak punya pengetahuan akan waqi’ dan bahwa mereka itu ekstrim lagi tergesa-gesa… padahal Allah  Subhanahu Wa Ta ‘Ala telah mentazkiyah mereka dan memerintahkan kita untuk mencontoh mereka, Allah  Subhanahu Wa Ta ‘Ala berfirman:

Artinya: “Sungguh telah ada bagi kalian suri tauladan yang baik pada diri Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya.” (QS. Al Mumtahanah, 60: 4)

Dan firman-Nya Subhanahu Wa Ta ‘Ala:

Artinya: “Dan siapakah yang lebih baik diennya daripada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan dan ia mengikuti Millah Ibrahim yang lurus? Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayangan-Nya.” (QS. An  Nisa, 4: 125)

Dan Allah Subhanahu Wa Ta ‘Ala telah mensucikan Ibrahim dari Safah (memperbodoh diri sendiri), serta Dia mensifatinya dengan Rusyd (mendapat petunjuk kebaikan),

Allah Subhanahu Wa Ta ‘Ala berfirman:

Artinya: “Dan sesungguhnya telah kami anugerahkan kepada Ibrahim hidayah kebenaran sebelum (Musa dan Harun), dan adalah kami mengetahui (keadaan)nya.” (QS. Al Anbiya, 21 : 51)

Kemudian Dia menuturkan dakwahnya, bahkan Dia Subhanahu Wa Ta ‘Ala menjelaskan sebagaimana yang telah Kami ketengahkan bahwa Millah Ibrahim tidak ada orang yang benci kepadanya kecuali orang yang memperbodoh diri sendiri…. Dan bagaimana mungkin orang yang memperbodoh diri sendiri memiliki hikmah dakwah, jelasnya pandangan akan realita ke depan, benarnya manhaj serta lurusnya jalan yang diklaim…??


 

(10) Faidah penting yang membongkar (kesesatan) ulama-ulama pemerintah: ketahuilah semoga Allah menjaga kami dan engkau dari talbis kaum mulabbisin (para pembuat pengkaburan dien) – sesungguhnya apa yang dilakukan oleh banyak orang-orang jahil – meskipun mereka itu digelari dengan gelar Syaikh dan mengaku sebagai pengikut salafiyyah – berupa penyebutan banyak dari thaghut-thaghut zaman ini dengan sebutan amirul mukminin atau imamul muslimin… dengan cara seperti ini mereka hanya mengikuti manhaj Khawarij dan Mu’tazilah dalam hal tidak memperhatikan syarat Quraisy untuk Al Imam … silakan rujuk hal itu dalam shohih Al Bukhari kitab Al Ahkam Bab Al Umara min Quraisy, dan yang lainnya dari kitab As Sunnah, Al Fiqh, dan Al Ahkam As Sulthaniyyah, karena hal itu adalah terkenal dan tak akan susah payah dalam merujuknya. Al Hafid Ibnu Hajar dalam Al Fath menukil perkataan Al Qadli ‘Iyadl: “Pensyaratan status imam dari Quraisy adalah madzhab para ulama seluruhnya dan mereka menilainya sebagai masalah-masalah yang telah di ijmakan, dan beliau tidak menukil penyelisihan dari seorang salaf pun dalam hal ini dan begitu pula orang-orang yang setelah mereka di seluruh negeri, Beliau berkata: “Dan tidak usah dianggap ungkapan Khawarij dan orang-orang yang sepaham dengan mereka dari kalangan Mu’tazilah.” (31/91)

                Kemudian saya melihat Syaikh Abdullah Aba Buthain – sedang beliau adalah tergolong ulama dakwah najdiyyah – membantah terhadap sebagian orang-orang yang komplein lagi mengingkari penggelaran Syaikh Muhammad Ibnu Abdil Wahhab – dan Abdul Aziz Ibnu Muhammad Ibnu Su’ud dengan gelar (laqab) Al Imam, sedangkan keduanya bukan dari Quraisy… Beliau berkata: “Muhammad Ibnu Abdil Wahhab rahimahullah tidak pernah mengklaim sebagai imam umat ini, namun beliau adalah hanya alim (orang berilmu) yang mengajak pada petunjuk dan berperang di atasnya, dan beliau pada masa hidupnya tidak pernah diberi gelar dengan sebutan Al Imam, begitu juga Abdul Aziz Ibnu Muhammad Ibnu Suud. Tidak seorangpun diantara mereka selama hidupnya dinamakan Al Imam, dan hanya terjadi penamaan orang yang menjabat sebagai Al Imam setelah kematian mereka berdua“. (Lihat Ad Durar juz Al Jihad hal :240)

Coba lihat al ‘alim ar rabbaniy ini bagaimana beliau berlepas diri dari hal itu dan mengingkarinya padahal keduanya tergolong para penyeru kepada petunjuk dan beliau tidak keras kepala seperti keras kepalanya banyak dari para Syaikh pemerintah pada massa sekarang yang bersikeras tetap menamakan para thaghut mereka sebagai Imam dan Amirul Mukminin…

Bahagialah mereka dengan sikap mereka berjalan di atas manhaj Khawarij… itulah cap yang selalu mereka tudingkan pada thalabul ‘ilmi dan para du’atul haq yang menentang thaghut mereka. Dan mereka menuduhnya dengan tuduhan yang mana si penuduhnya… lebih layak untuk menjauhkan darinya perbuatan si pelaku… dia tuduh orang bebas dengan apa yang ia lakukan seraya membungkamnya… dan oleh karenanya keduanya serupa menurut orang yang belang mukanya…

                Ini berkaitan dengan syarat Quraisyiyyah, maka apa halnya bila di tambah dengan tidak adanya sifat adil, ilmu, bijaksana dan syarat-syarat pemimpin lainnya? Dan apa gerangan bila Islam dan Iman tidak ada ? Bagaimana…? Bagaimana…?

 

 

Islamic Media Ibnuisa
PUSTAKA ISLAM
HOME