Teya Salat

PASAL PENJELASAN II
[BAGIAN PERTAMA]

Ya…. Memang sesungguhnya Millah Ibrahim menuntut banyak pengorbanan… Namun dengannyalah pertolongan Allah dan keberhasilan besar digantungkan… dengannyalah manusia terpilih menjadi dua barisan… barisan iman dan barisan kufur, fusuq dan ‘ishyan (maksiat)… dan dengannya nampak jelas auliyaur Rahman dan auliyausy syaithan… dan begitulah dakwah para Nabi dan para rasul. Tidak ada pada mereka kondisi-kondisi yang sakit yang kita alami masa kini berupa berbaurnya tukang kayu bakar dengan tukang panah, orang baik dengan orang buruk, mudahanah dan mujalasah (duduk-duduk) orang-orang berjenggot bersama ahlu fusuq dan fujur, penghormatan terhadap mereka, penghargaan terhadapnya serta pengedepanan mereka atas orang-orang yang bertaqwa dan shalihin… padahal mereka itu secara terang-terangan menampakkan kebencian terhadap dien ini dan memusuhinya dengan berbagai cara selalu menunggu-nunggu bencana yang menimpa ahluddien. Akan tetapi dakwah para Nabi itu adalah bara’ah yang jelas dari kaum-kaumnya yang berpaling dari syari’at Allah, serta permusuhan yang nampak terhadap ma’budat mereka yang bathil, tidak ada pertemuan di tengah jalan serta tidak ada mudahanah dan mujamalah dalam menyampaikan syari’at Allah.

Dengarkan ucapan Nuh as pada masa silam saat ia mengkhithabi kaumnya sendirian lagi tidak takut terhadap kekuasaan dan kezaliman mereka… Ia berkata:

Artinya: “Hai kaumku, jika terasa berat bagimu tinggal (bersamaku) dan peringatanku (kepada kalian) dengan ayat-ayat Allah, maka kepada Allahlah aku bertawakal, karena itu bulatkanlah keputusanmu dan (kumpulkanlah) sekutu-sekutumu (untuk membinasakan aku). Kemudian janganlah keputusanmu itu dirahasiakan, lalu lakukanlah terhadap diriku, dan janganlah kamu memberi tangguh kepadaku.”  (QS. Yunus, 10: 71).

Apakah mengatakan seperti ini orang yang bermudahanah kepada kaumnya…? Itu sesungguhnya sebagaimana yang dikatakan oleh Sayyid Quthub rahimahullah: “…adalah tantangan yang jelas lagi mengusik (emosi) yang tidak dikatakan oleh orang yang mengatakannya kecuali dia itu memenuhi dirinya dengan kekuatan lagi penuh percaya diri dengan persiapannya sampai-sampai ia memanas-manasi lawannya dengan dia sendiri dan memprovokasi mereka dengan ucapan-ucapan yang mendorong mereka untuk menyerangnya, kemudian kekuatan dan perlengkapan apa yang ada di belakang Nuh?”, yang ada bersamanya adalah Allah, dan cukuplah Allah sebagai pembimbing dan penolong. Dan Allah Subhanahu Wa Ta ‘Ala telah memerintahkan Nabi-Nya Muhammad saw di awal ayat-ayat ini untuk membaca hal itu kepada kaumnya, dia berfirman:

Artinya: “Dan bacakan kepada mereka (tentang) Nuh, tatkala ia berkata kepada kaumnya…” (QS.  Yunus, 10: 71)

Dan lihatlah Hud AS saat menghadapi kaumnya yang mana mereka itu orang yang paling kuat dan paling kokoh, beliau menghadapi mereka sendirian… namun dengan keteguhan layaknya keteguhan gunung atau bahkan lebih dahsyat… Dengarkanlah beliau saat mengumumkan bara’ahnya yang lantang nan jelas dari kemusyrikan mereka dan memperdengarkan kepada mereka ungkapan-ungkapannya yang abadi:

Artinya: “Sesungguhnya aku jadikan Allah sebagai saksi ku dan saksikanlah oleh kalian sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kalian persekutuan dari selain-Nya, sebab itu jalankanlah tipu daya kalian semuanya terhadapku dan janganlah kalian memberi tangguh kepadaku.” (QS. Hud, 11: 54-55)

Bila beliau katakan hal itu sedang beliau sendirian… jalankanlah tipu daya kalian terhadapku dengan jumlah kalian, tentara kalian dan tuhan-tuhan kalian yang batil.“…Sesungguhnya aku bertawakal kepada Allah Tuhanku dan Tuhan kalian. Tidak ada suatu binatang melatapun melainkan Dialah yang memegang ubun-ubunnya. Sesungguhnya Tuhanku di atas jalan yang lurus.” (QS. Hud, 11: 56)

Ditujukan kepada orang-orang yang sering membanggakan diri dengan banyak perkataan Sayyid rahimahullah, dalam waktu yang mana mereka sangat berhasrat bahkan berlomba-lomba di dalamnya untuk memelas pada para thaghut yang berpaling dari syari’at Allah dalam rangka mereka menegakkan syari’at Allah dalam sebagian masalah, atau agar para thaghut itu memberikan mereka izin untuk berdakwah Ilallah atau dalam rangka mendapatkan kursi di majelis-majelis syirik, fusuq, dan maksiat… Kepada orang-orang itu kami tuturkan perkataan Sayyid seputar ayat-ayat ini… Dimana beliau berkata: “Sesungguhnya itu adalah reaksi bara’ah dari kaumnya, yang mana ia dulunya adalah bagian dari mereka dan ia adalah saudara mereka sebelumnya, dan reaksi rasa takut dari menetap bersama mereka sedangkan mereka telah menjadikan selain jalan Allah sebagai jalan, serta itu adalah reaksi saling melepas antara dua kubu yang tidak bisa bersatu… dan dia menjadikan Allah sebagai saksinya atas keberlepasan dirinya dari kaumnya yang sesat, sikap menjauhnya dari mereka dan keterlepasannya dari mereka… dan ia juga menjadikan mereka sebagai saksi atas bara’ahnya ini dari mereka di hadapan mereka sendiri agar tak tersisa dalam diri mereka sedikitpun syubhat dari kekhawatiran dan rasa takutnya bahwa ia bagian dari mereka”.

Dan setiap orang pasti tercengang dari orang yang menghadapi kaum yang sangat percaya terhadap tuhan-tuhan mereka yang diada-adakan, terus ia malah mencela keyakinan mereka dan mengagetkan mereka, kemudian memprovokasi emosi mereka dengan tantangan seraya tidak meminta kesempatan agar ia bisa bersiap-siap seperti kesiapan mereka, serta ia tidak membiarkan mereka menenangkan diri sehingga kemarahan mereka turun. Sesungguhnya para pengemban dakwah ilallah di setiap tempat dan masa sangat membutuhkan untuk diam sementara waktu dihadapan sikap yang dahsyat ini… satu sosok orang yang hanya disertai sedikit saja orang yang beriman, menghadapi penduduk bumi yang paling kuat, paling kaya lagi paling maju peradaban materinya di zaman itu… mereka itu adalah para durjana lagi bengis yang selalu menghantam tanpa ada kasih sayang, mereka adalah orang yang telah dibuat congkak oleh nikmat dan merekalah yang membangun pabrik-pabrik seraya mengharapkan tambahan kemakmuran dan hidup abadi di baliknya…

Sesungguhnya itu adalah iman, percaya tinggi dan ketegaran… iman kepada Allah, percaya benar akan janjinya serta tegar tentram pada pertolongan Allah… “…Sesungguhnya aku tawakkal kepada Allah Tuhanku dan Tuhan kalian. Tidak ada suatu binatang melatapun melainkan Dia-lah yang memegang ubun-ubunnya. Sesungguhnya Tuhanku di atas jalan yang lurus.” (QS. Hud, 11: 56)

Dan orang-orang yang kasar lagi bengis dari kalangan kaumnya tidak lain mereka itu adalah binatang-binatang melata dari binatang-binatang melata yang ubun-ubunnya dipegang oleh Tuhannya dan dikendalikan secara paksa dengan kekuatan-Nya. Apa alasan rasa takut dia dari binatang-binatang ini dan apa alasan ia ihtifal dengannya? Sedangkan binatang-binatang itu tidak bisa menguasainya bila ia menguasai kecuali dengan izin Rabbnya? Dan apa alasan ia mau menetap di tengah-tengahnya sedangkan jalan binatang-binatang itu berbeda dengan jalannya?” (diringkas dari Adh Dhzilal)

Begitulah realita para Rasul Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersama kaum-kaumnya yang membangkang, dan begitulah dakwah-dakwah mereka, perhelatan yang selalu berlangsung bersama kebatilan, jelas dalam dakwah, serta pernyataan terang-terangan akan permusuhan dan bara’ah…. Dakwah mereka tidak mengenal mudahanah atau ridla terhadap sebagian kebatilan atau bersatu bersamanya di tengah jalan.

Permusuhan ahlul haq terhadap ahlul bathil dan kebatilannya serta sikap ahlul haq menjauhi mereka adalah masalah yang sudah lama sekali yang Allah fardlukan semenjak Dia menurunkan Adam ‘Alaihis Salam ke bumi ini… dan Allah menghendakinya secara taqdir dan syar’iy supaya wali-wali-Nya memisahkan diri dari musuh-musuh-Nya, juga golongan-Nya memisahkan diri lawan-Nya, dan yang buruk dari yang baik, serta dia menjadikan para syuhada dari kalangan kaum mukminin. Dia ‘‘Azza wa Jalla berfirman:

Artinya: “Turunlah kamu sekalian, sebahagian kamu menjadi musuh bagi sebahagian yang lain.” (QS. Al A’raf, 7: 24).

Dan di atas hal ini kafilah para rasul berlalu dan berjalan seluruhnya, dan ini adalah dien mereka sebagaimana yang engkau ketahui. Allah  Subhanahu Wa Ta ‘Ala berkata:

Artinya: “Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap Nabi itu musuh, yaitu syaithan-syaithan (dari jenis) manusia dan (dari jenis jin.)” (QS. Al An’am, 6: 112).

Dan firman-Nya Subhanahu Wa Ta ‘Ala:

Artinya: “Dan seperti itulah, telah Kami adakan bagi tiap-tiap Nabi, musuh dari orang-orang yang berdosa.” (QS. Al Furqan, 25: 31).

Di antara mereka ada Nabi-Nabi yang Allah ceritakan kisah bersama musuh-musuhnya kepada kita, dan ada yang tidak Dia ceritakan. Dan ini dikuatkan oleh hadits Abu Hurairah yang muttafaq ‘alaih bahwa Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam berkata:

 “Para Nabi adalah anak-anak dari ibu-ibu yang berlainan.”

Ullat adalah dlarrah, yang diambil dari ‘ulal yaitu tegukan yang kedua kalinya. Seolah si suami telah meneguk darinya setelah sebelumnya ia meneguk dari yang lainnya. Aulad ‘Ullat adalah anak dari isteri-isteri yang berlainan dari satu ayah…. Ini menguatkan bahwa para Nabi itu pokok dien mereka dan dakwahnya serta jalannya adalah satu namun cabang-cabangnya beraneka ragam.

Dan begitulah penutup para Nabi dan rasul  Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam dan diantara sifat beliau yang ada dalam nash adalah bahwa beliau:

Artinya: “Memecah belah di antara manusia.” (Al Bukhari)

dan dalam satu riwayat:

Artinya: “Pemecah belah di antara manusia”

Beliau telah memenuhi perintah Allah Subhanahu Wa Ta ‘Ala untuk mengikuti Millah Ibrahim ‘Alaihis Salam sehingga tidak pernah diam dari syirik dan para pelakunya, atau bermudahanah atau bermujamalah terhadap mereka atau yang lainnya. Justeru beliau saat di Mekkah meskipun pengikutnya sedikit lagi tertindas, beliau menyatakan terang-terangan bara’ahnya dari kuffar dan ma’budat mereka yang bathil… Beliau menjelek-jelekkannya dan mengatakan sebagaimana yang Allah Subhanahu Wa Ta ‘Ala perintahkan untuk mengatakannya seraya berlepas diri dari syirik dan terang-terangan mengkafirkan para pelakunya dan bara’ah mereka dari diennya serta bara’ah diennya dari mereka:

Artinya: Katakanlah: “Hai orang-orang kafir!” aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Ilah yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Ilah yang aku sembah. Untukmulah agamamu, dan untukkulah agamaku.” (QS.  Al Kafirun, 109: 1-6)

Beliau tegaskan bahwa ia tetap teguh di atas jalannya ini lagi berlepas diri dari orang yang menyelisihinya, dan bahwa beliau tergolong kaum mukminin yang mana mereka itu adalah musuh orang-orang kafir dan ajarannya:

Artinya: “Katakanlah: “Hai, manusia, jika kalian masih dalam keraguan tentang agamaku, maka (ketahuilah) aku tidak beribadah pada apa yang kalian ibadahi selain Allah, tetapi aku beribadah kepada Allah yang akan mematikan kalian dan aku diperintahkan supaya termasuk orang-orang yang beriman.” (QS. Yunus, 10: 104).

Dan Allah Subhanahu Wa Ta ‘Ala berfirman seraya mengkhithabi Rasulullah  Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam:

Artinya: “Jika mereka mendustakan kamu, maka katakanlah: Bagiku amalanku dan bagi kalian amalan kalian. Kalian  berlepas diri dari apa yang aku kerjakan dan aku berlepas diri dari apa yang kalian kerjakan.” (QS. Yunus, 10: 41).

Dan Dia  Subhanahu Wa Ta ‘Ala berfirman seraya mengajarkan kaum mukminin untuk mengatakan:

Artinya: “Allahlah Tuhan kami dan Tuhan-tuhan kalian, bagi kami amalan-amalan kami dan bagi kalian amalan-amalan kalian.” (QS. Asy-Syura, 42: 15).

Ada di dalam hadits shahih yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan yang lainnya bahwa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam berkata kepada salah seorang sahabatnya, “Baca Qul yaa ayyuhal kaafiruun” kemudian tidur setelah selesai membacanya, karena sesungguhnya ia adalah bara’ah dari syirik.”

Dan ada dalam risalah “Asbaabu Najatis Sa-Uul Minas Saiful Masluul” yang ringkasannya: “Sesungguhnya kalimat ikhlas (laa ilaaha illallah) telah dibatasi dengan batasan-batasan (syarat-syarat) yang sangat berat, sehingga Imamul Hunafa tidak merasa cukup dengan sekedar pengucapannya dan belum sempurna baginya kecintaan dan loyalitas padahal beliau adalah imamul muhibbin kecuali dengan mu’aadah (melakukan permusuhan), sebagaimana Allah Subhanahu Wa Ta ‘Ala mengabarkan tentangnya:

Artinya: “Ibrahim berkata: “Maka apakah kamu memperhatikan apa yang selalu kamu ibadati, kamu dan nenek moyang kamu yang dahulu,? Karena yang kamu ibadati itu adalah musuhku, kecuali Tuhan semesta alam.” (QS. Asy Syu’ara, 42: 75-77).

Dan inilah makna laa ilaaha ilallah sebagaimana firman-Nya Subhanahu Wa Ta ‘Ala:

Artinya: “Dan ingatlah ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya: “Sesungguhnya aku tidak bertanggung jawab terhadap apa yang kalian ibadati, tetapi (aku beribadah) pada Tuhan yang menjadikanku, karena sesungguhnya Dia akan memberi hidayah kepadaku. Dan (Ibrahim) menjadikan kalimat tauhid itu kalimat yang kekal pada keturunannya supaya mereka kembali kepada kalimat tauhid itu.” (QS. Az Zukhruf, 43: 26-28).

Maka Imamul Hunafa mewariskannya pada para pengikutnya yang selalu di wariskan para Nabi, sebagian dari sebagian yang lainnya.

Dan tatkala Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam diutus maka Allah memerintahkannya untuk mengucapkannya sebagaimana yang dikatakan oleh ayah kita Ibrahim terus Allah menurunkan satu surat penuh, yaitu surat Al Kafiruun.” (Dari Majmu’ah At Tauhid)

Dan Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam telah menjaharkannya dan mengumumkannya serta tidak menyembunyikannya. Beliau dan para sahabatnya memikul apa yang menimpa mereka berupa penindasan atas hal itu dan beliau tidak bermudahanah karena hal itu, dan mana mungkin beliau bermudahanah pada mereka, justeru beliau meneguhkan kaum mukminin itu dan mengingatkan mereka dengan janji Allah Subhanahu Wa Ta ‘Ala dan surga-Nya serta sikap-sikap orang-orang yang teguh dari kalangan umat terdahulu, seperti ucapannya: “Bersabarlah wahai keluarga Yasir, karena sesungguhnya janji (buat) kalian adalah surga.” (Diriwayatkan oleh Al Hakim dan yang lainnya)

Dan perkataannya kepada Khabbab: “Sungguh pada umat sebelum kalian, seorang laki-laki ditangkap, terus digalikan lubang baginya di tanah kemudian ia dimasukkan kedalamnya. Terus di datangkan gergaji, diletakkan di atas kepalanya kemudian dibelah menjadi dua (kepalanya itu), dan antara daging dan tulangnya di sisir dengan sisir besi, namun itu tidak memalingkan dia dari diennya. Demi Allah sungguh Allah akan sempurnakan urusan (Islam) ini sehingga pengendara berjalan dari San’a ke Hadramaut, dia tidak takut kecuali kepada Allah dan serigala (yang dikhawatirkan) menyerang kambing-kambingnya, namun kalian adalah orang-orang yang tergesa-gesa.”(11)

Beliau katakan itu kepada para sahabatnya… dan dalam waktu itu juga beliau katakan kepada orang-orang Quraisy sebagaimana Allah Subhanahu Wa Ta ‘Ala memerintahkannya:

Artinya: Katakanlah: "Bahwasanya aku hanyalah seorang manusia seperti kamu, diwahyukan kepadaku bahwasanya Ilah kamu adalah Ilah Yang Maha Esa, maka tetaplah pada jalan yang lurus menuju kepada-Nya dan mohonlah ampun kepada-Nya. Dan kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang mempersekutukan-Nya,” (QS. Fushilat, 41: 6).

Dan ayat-ayat ini adalah Makiyyah. Dan Dia berfirman:

Artinya: "Panggilah berhala-berhalamu yang kamu jadikan sekutu Allah, kemudian lakukanlah tipu daya (untuk mencelakakan)ku tanpa memberi tangguh (kepadaku), Sesungguhnya pelindungku adalah Allah yang telah menurunkan Al-Kitab (al-Qur'an) dan Dia melindungi orang-orang yang saleh. Dan berhala-berhala yang kamu seru selain Allah tidaklah sanggup menolongmu, bahkan tidak dapat menolong dirinya sendiri". (QS. Al A’raf, 7: 195-197).

Dan ayat-ayat ini Makiyyah.

Oleh sebab itu semua dan dikarenakan dakwahnya adalah seperti itu maka sesungguhnya orang-orang yang dzalim tidak pernah suka kepadanya seharipun, jiwa mereka tidak mau menerimanya, atau mata mereka berbinar-binar dengan dakwahnya…, justeru emosi mereka naik dan amarahnya memuncak… sering sekali mereka melakukan tawar menawar terhadap beliau…, namun beliau berdiri tegar seraya melihat pada kebatilan mereka dan kerumunan mereka yang dengannya mereka siap memperdaya beliau…. Meskipun beliau sangat ingin mereka mendapatkan hidayah namun beliau sangat enggan bersatu bersama mereka di atas kebatilan di tengah jalan atau mengikuti sedikit dari sebagian apa yang mereka inginkan atau mereka sukai dari kebatilan mereka. Bahkan beliau mengatakan setelah itu dan selalu sebagaimana beliau diperintahkan Rabb-nya untuk mengatakan:

Artinya: “Katakanlah kepada orang-orang yang kafir: "Kamu pasti akan dikalahkan (di dunia ini) dan akan digiring ke dalam neraka Jahannam. Dan itulah tempat yang seburuk-buruknya". (QS. Ali Imran, 3: 12.)

Syaikh Abdurrahman Ibnu Hassan berkata setelah menuturkan sebagian sikap-sikap terang-terangan dan keteguhan para sahabat Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam: “Inilah keadaan para sahabat Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam dan apa yang mereka dapatkan dari kaum musyrikin berupa dahsyatnya penindasan. Maka mana ini bila dibandingkan dengan keadaan orang-orang yang sesat yang selalu bersegera kepada kebatilan, bergegas di dalamnya, maju, mundur, bermanis-manis muka, mudahanah, cenderung, mengagungkan dan memuji? mereka itu sungguh serupa dengan apa yang Allah  Subhanahu Wa Ta ‘Ala firmankan:

Artinya: “Kalau (Yatsrib) diserang dari segala penjuru, kemudian diminta kepada mereka supaya murtad, niscaya mereka mengerjakannya; dan mereka tiada akan menunda untuk murtad itu melainkan dalam waktu yang singkat.” (QS. Al Ahzab, 33: 14).

Kita minta kepada Allah keteguhan di atas Islam, dan berlindung dari kesesatan fitnah, yang nampak dan yang tersembunyi darinya. Dan termasuk hal yang diketahui bahwa orang-orang yang masuk Islam dan beriman kepada Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam serta kepada apa yang beliau bawa, seandainya mereka tidak bara’ah dari syirik dan para pelakunya serta mengejutkan kaum musyrikin dengan celaan terhadap ajaran mereka dan hinaan pada tuhan-tuhan mereka, tentulah kaum musyrikin tidak menampakan berbagai penindasan terhadap mereka.” (Ad Durar Juz Al Jihad 124)

Syaikh Hamd Ibnu ‘Atiq berkata saat menjelaskan surat Al Bara’ah Minasy Syirki: “Allah Subhanahu Wa Ta ‘Ala memerintahkan Rasul-Nya untuk mengatakan kepada orang-orang kafir: dien kalian yang sedang kalian pegang, saya berlepas diri darinya. Dan dien saya yang saya pegang, kalian berlepas diri darinya. Dan yang dimaksud adalah pernyataan terang-terangan terhadap mereka bahwa mereka itu di atas kekafiran, dan bahwa beliau bara’ dari mereka dan dari dien mereka. Maka orang yang mengikuti Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam wajib mengatakan hal itu, dan ia tidak dikatakan telah menampakkan diennya kecuali dengan hal itu. Dan oleh sebab itu tatkala para sahabat dikenal dengan hal itu dan disakiti oleh orang-orang musyrik maka beliau memerintahkan mereka untuk hijrah ke Habasyah, dan seandainya beliau mendapatkan rukhshah bagi mereka untuk diam dari (mengomentari) orang-orang musyrik, tentulah beliau tidak memerintahkan mereka hijrah ke negeri Ghurbah.” (Sabilun Najah wal Fikak: 67)

Ada syubhat yang selalu didengung-dengungkan oleh orang yang tidak memahami Millah Ibrahim ‘Alaihis Salam dan tidak mengetahui isinya, yaitu ucapan banyak orang-orang bodoh bahwa Millah Ibrahim itu telah dinasakh (dihapus) bagi kita, dan atas hal itu mereka berdalih dengan berhala-berhala yang ada di sekitar Ka’bah yang mana Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam tidak menghancurkannya menurut klaim mereka selama beliau tinggal di Mekkah pada masa istidl’af (ketertindasan)… sampai-sampai saya mendengar salah seorang dari mereka dan ia tergolong sebagai Syaikh yang terkenal yang mana buku-bukunya telah memenuhi pasaran, saya mendengar dia dalam ceramah yang direkam uring-uringan seraya berkata yang isinya: Sesungguhnya Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam adalah orang yang pertama berpaling dari Millah Ibrahim yang kalian dengung-dengungkan ini, di mana beliau duduk tiga belas tahun di Mekkah diantara patung-patung itu dan beliau tidak menghancurkannya …”

Maka kami katakan kepadanya dan kepada orang-orang yang seperti dia: “Sesungguhnya yang menghalangi kalian dari memahami dan mengetahui Millah Ibrahim adalah berkerutnya pemahaman kalian serta sempitnya wawasan akal kalian, bahwa Millah Ibrahim yang kami maksud adalah hanya diambil dari perbuatan nya AS saat menghadapi berhala-berhala kaumnya seraya memukulnya dengan keras dengan tangan kanannya, sehingga beliau AS jadikan mereka berantakan kecuali yang paling besar dengan harapan mereka menuduh kepadanya… dan tatkala menurut kalian tidak shahih bahwa Rasulullah saw, melakukan hal itu terhadap patung-patung kaumnya…, maka millah ini dalam pandangan kalian telah dihapus semuanya bagi kita… dan kita sama sekali tidak dituntut untuk mengamalkan sedikit darinya. Jadi konsekuensi ucapan kalian ini bahwa semua ayat-ayat di atas yang memerintahkan kita untuk mengikuti Millah Ibrahim dan menghati-hatikan dari berpaling darinya, juga rincian dakwah Ibrahim AS dan orang-orang yang bersamanya dan sikap mereka terhadap kaumnya serta sikap para Nabi dan yang lainnya terhadap kaum mereka…, semua itu adalah sia-sia belaka dan tambahan yang tidak ada makna di dalamnya serta tidak ada faidah di baliknya di dalam Kitabullah. Maha Suci Engkau Ya Allah Tuhan kami, ini adalah kedustaan yang amat besar… dan semoga Allah merahmati Ibnul Qoyyim rahimahullah saat berkata:

“Siapa orang yang ini adalah kadar ilmunya…

Maka hendaklah  menutupi diri dengan diam dan sembunyi…”

Allah Subhanahu Wa Ta ’Ala Maha Suci dari berbuat sia-sia dan dari adanya sesuatu yang tidak berfaidah penyebutannya di dalam Kitab-Nya ‘Azza wa Jalla.

Celotehan murah ini sebenarnya bukanlah tergolong syubhat yang butuh bantahan yang panjang dan terperinci. Ini tidak lain hanyalah kontradiksi–kontradiksi di pikiran para pengusungnya yang menghalangi mereka dari memahami millah yang agung ini dengan berbagai rinciannya…, terutama engkau sudah mengetahui dalam uraian yang lalu tentang Millah Ibrahim dan engkau telah memahami kendungannya dan apa yang dituntut dengannya…, engkau mengetahui bahwa ia adalah Ashlul Islam, makna laa ilaaha illallaah dan bahwa di dalamnya terdapat apa yang dikandung oleh kalimat ini berupa penafian dan penetapan, yang mana keduanya itu adalah berlepas diri dari syirik dan para pelakunya serta menampakkan permusuhan terhadap mereka dan memurnikan ibadah kepada Allah saja serta loyal kepada wali-wali-Nya. Engkau juga mengetahui bahwa ini adalah ashlud dien sehingga ia adalah syariat yang muhkam (paten) yang seandainya berkumpul untuk menolaknya orang yang ada di muka bumi ini, baik orang ‘alim atau jahil, tentulah mereka tak kuasa sama sekali untuk menolaknya  dengan alasan apapun.

Dan telah kami jelaskan kepadamu bahwa Allah Subhanuhu wa Ta ’Ala telah menyebutkan kepada kita keadaan Ibrahim AS dan orang-orang mukmin yang bersamanya terhadap kaum mereka. Bagaimana mereka itu bara’ah dari mereka dan menampakkan permusuhan dan kebencian terhadap mereka dan Dia Subhanuhu Wa Ta ’Ala berfirman sebelum menuturkan sikap mereka ini langsung:

Artinya: “Sungguh telah ada bagi kamu suri tauladan yang baik pada diri Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya.” (QS. Al Mumtahanah, 60: 4)

Dan Dia Subhanahu Wa Ta ‘Ala berkata setelah itu juga:

Artinya: “Sesungguhnya pada mereka itu (Ibrahim dan umatnya) ada tauladan yang baik bagimu; (yaitu) bagi orang yang mengharap (pahala) Allah dan (keselamatan pada) hari kemudian.” (Al Mumtahana, 60: 6)

Kemudian Dia Subhanahu Wa Ta ‘Ala berfirman… dan perhatikan apa yang Dia firmankan:

Artinya: “Dan barang siapa yang berpaling, maka sesunggunya Allah, Dialah yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” (QS. Al Mumthanah, 60: 6)

Dan engkau telah mengetahui juga bahwa ini adalah inti Millah Ibrahim yang kami maksudkan dan kami dakwahkan, serta kami melihat mayoritas penduduk bumi melakukan taqshir di dalamnya… dan engkau telah mengetahui bahwa ia adalah satu-satunya jalan yang terdapat di dalamnya pertolongan Allah ‘Azza wa Jalla, pengibaran (panji) dien-Nya serta penghancuran syirik dan para pelakunya…

Dan bila keadaannya seperti ini, maka penolakan akan jalan ini adalah dengan cara si Syaikh itu meluruskan terlebih ungkapannya tersebut terus dia mengatakan: “Sesungguhnya Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam tinggal 13 tahun di Mekkah di tengah-tengah patung-patung itu, beliau tidak bara’ darinya, dan tidak menampakkan sikap kufur terhadapnya serta permusuhan terhadapnya, supaya dikatakan kepada Syaikh itu setelahnya: Anggaplah dirimu Nasrani atau Yahudi atau Majusi, atau apa yang kamu kehendaki, adapun Millatul Islam maka katakan kepadanya “’Alaikis Salam…

Dan kami berkata: “Adapun penghancuran patung sebenarnya juga kongkritnya sebagaimana yang dilakukan Ibrahim, maka telah sah dari Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam bahwa beliau pernah melakukannya tatkala memiliki kesempatan dan mampu untuknya saat waktu lengahnya orang-orang kafir Quraisy, dan saya tidak maksudkan hal itu setelah Futuh Makkah, namun di Mekkah pada masa ketertindasan (Istidl’af), sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Abu Ya’la, dan Al Bazzar dengan isnad yang hasan dari Ali Ibnu Abi Thalib ra, berkata : “Saya dan Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam berangkat sampai kami tiba di Ka’bah, maka Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam berkata kepada saya: “Duduklah” dan beliau naik ke atas pundakku, terus saya berupaya untuk mengangkatnya, namun beliau melihat saya lemah, maka beliau turun dan duduk untuk saya naiki, beliau berkata: “Naiklah ke atas pundak saya.” Ali berkata: “Maka saya naik ke atas pundaknya. Terus beliau bangkit mengangkat saya”. Ali berkata: “Dikhayalkan pada saya  bahwa bila saya mau tentu saya bisa mencapai langit, sehingga akhirnya saya naik ke atas Al Bait yang mana di atasnya ada patung kuningan atau tembaga, terus saya berupaya menariknya dari arah kanan, kiri, depan dan belakang, sehingga setelah saya menguasainya, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam berkata kepada saya: “lemparkanlah,” maka saya melemparkannya sehingga ia pecah layaknya botol pecah, kemudian saya turun, dan terus saya dan Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam berlarian sampai kami bersembunyi di balik rumah-rumah karena khawatir ada orang menemui kami.” (Al Haitsami membuat bab dalam Majma’ Az Zawaid: Bab Zaksiirahu Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam al Ashnam) dan beliau menuturkan riwayat “Di atas Ka’bah ada patung-patung, terus saya berupaya memanggul Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam, namun saya tidak kuat, terus beliaulah yang mamanggul saya, kemudian saya memotong-motongnya…” Dan dalam satu riwayat beliau tambahkan: “Maka setelahnya tidak ada yang dipasang di atasnya lagi, yaitu patung…” Beliau berkata: “Para perawi semuanya adalah tsiqat… Dan Abu Ja’far Ath Thabariy menuturkannya dalam Tahdzib Al Atsar, dan beliau berbicara tentang beberapa faidah fiqhiyyah di dalamnya. (Lihat hal 236 dari Musnad Ali didalamnya)

Oleh sebab itu kami sama sekali tidak berkeberatan untuk menyatakan bahwa hal itu dituntut dari kita juga saat mampu terhadapnya pada masa istidl’af dan yang lainnya… baik berhala itu patung (arca), atau kuburan atau thaghut atau aturan atau yang lainnya sesuai beragam dan bermacam-macamnya bentuk di setiap zaman dan tempat… Dan saya maksudkan dengannya jihad dan perang yang mana ia adalah tingkatan tertinggi pada idhhar (penampakkan) permusuhan dan kebencian terhadap musuh-musuh Allah….

Namun demikian seandainya kita menerima bahwa tidak sah dari Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam penghancuran berhala di Mekkah pada istidl’af, kita katakan sesungguhnya beliau Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam sangat ittiba’ pada Millah Ibrahim seraya memegangnya dengan kuat… beliau tidak pernah mudahanah sekalipun terhadap orang-orang kafir dan tidak pernah diam dari kebatilan mereka atau tuhan-tuhannya… Justeru perhatian dan aktivitasnya yang menyibukkan beliau pada tenggang 13 tahun itu dan yang lainnya adalah “Ibadahlah kepada Allah dan tinggalkan thaghut.” (An-Nahl: 36).

Keberadaan beliau pada masa tenggang 13 tahun itu tidak berarti beliau memujinya atau menyanjungnya atau bersumpah untuk menghormatinya, sebagaimana yang dilakukan banyak orang-orang jahil yang intisab pada dakwah terhadap yasiq modern (UU/UUD) masa kini…. Namun beliau menyatakan bara’ahnya dari kaum musyrikin dan perbuatannya secara terang-terangan, serta menampakkan kekafirannya terhadap tuhan-tuhan mereka padahal beliau dan para sahabatnya tertindas… dan hal ini telah kami rinci terhadapmu dalam uraian yang lalu. Dan seandainya engkau mengamati ayat-ayat Makiyyah tentulah makin nampak jelas di hadapanmu hal seperti itu. Sebagai contoh saja darinya adalah firman Allah  Subhanahu Wa Ta ‘Ala yang mensifati Nabi-Nya Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam di Makkah bersama orang-orang kafir:

Artinya: “Dan apabila orang-orang kafir itu melihat kamu, mereka hanya membuat kamu menjadi olok-olok. (Mereka mengatakan):"Apakah ini yang mencela ilah-ilahmu?", padahal mereka adalah orang-orang yang inkar mengingat Allah Yang Maha Pemurah”. (QS. Al Anbiya’, 21: 36)

Ibnu Katsir berkata: “Mereka maksudkan apakah orang ini yang mencela tuhan-tuhan kamu dan membodoh-bodohkan ajaran kamu…”

Dan ambil contoh juga apa yang ada dalam musnad Al Imam Ahmad dan yang lainnya dengan Isnad yang shahih tentang sifat dan keadaan beliau Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam di Mekkah pada masa istidl’af… amatilah dan tadabburilah serta lihat bagaimana orang-orang kafir mensifati Nabi kita Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam dengan sebab celaannya terhadap tuhan-tuhan mereka dan hinaan terhadap ajaran mereka dan sebagainya, dan lihatlah mereka saat mereka mengelilingi beliau sendirian seraya mengintrogasi beliau terhadap apa yang beliau ucapkan, dan mereka mengatakan kepadanya “Apakah kamu mengatakan ini dan itu?” maka beliau menjawab mereka tanpa mudahanah atau segan atau takut atau risih, namun dengan segala ketegaran, keteguhan dan kejelasan: “Ya, sayalah yang mengatakan hal itu.”

Abdullah Ibnu Ahmad Ibnu Hanbal berkata: “Ayahku telah memberitahuku, Ya’qub berkata: telah memberitahukan kepada kami ayahku dari Ibnu Ishaq, berkata: dan telah memberitahukan kepadaku Yahya Ibnu Urwah Ibnu Az Zubair dari ayahnya Urwah dari Abdullah Ibnu ‘Amr Ibnul ‘Ash, berkata: Saya berkata kepadanya: “Tindakan apa yang kamu lihat sering dilakukan orang-orang Quraisy terhadap Rasulullah saat beliau menampakkan permusuhannya?” Dia berkata: “Saya telah hadir di tengah mereka sedang para pembesarnya telah berkumpul suatu hari di Al Hijr, mereka menyebut-nyebut Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam, mereka berkata: “Kita sudah terlalu bersabar dari (gangguan) laki-laki ini, dia menjelek-jelekkan ajaran kita, menghina ayah-ayah kita, mencela dien kita, memecah belah persatuan kita dan mencaci tuhan-tuhan kita. Kita telah banyak bersabar terhadapnya atas hal besar itu…” atau ucapan yang mendekati itu. Dia (Ibnu ‘Amr), berkata: “Tatkala mereka sedang demikian, tiba-tiba muncul Rasulullah mendekati mereka, beliau maju seraya berjalan sehingga beliau mengusap rukun (Yamani) terus melewati mereka seraya thawaf di Baitullah, dan tatkala beliau sudah melewati mereka, mereka mencelanya dengan isyarat dengan sebab sebagian apa yang beliau katakan, dia berkata: “Saya mengetahui hal itu di wajahnya, terus beliau lewat, dan tatkala telah melewati mereka yang kedua kalinya, mereka mencelanya dengan hal yang sama, sehingga saya mengetahui hal itu di wajahnya, terus beliau berlalu, kemudian melewati mereka yang ketiga kalinya, dan mereka mencelanya dengan hal serupa, maka beliau berkata:

Artinya: “Kalian dengar wahai sekalian Quraisy, sungguh demi Dzat yang jiwa Muhammad ada di tangan-Nya aku telah datang kepada kalian dengan (tugas) menyembelih (kalian)”.

Maka ucapan itu menyentakkan mereka, sampai-sampai semua mereka diam seribu bahasa dan sehingga orang yang paling benci kepada beliau sebelumnya diantara mereka berupaya melunakan beliau dengan ucapan yang paling indah yang ia dapatkan, sampai ia mengatakan: “Pulanglah wahai Abal Qasim, pulanglah dengan penuh petunjuk, demi Allah engkau ini tidak samar lagi,” maka Rasulullah pun pulang sehingga keesokan harinya mereka berkumpul di Al Hijr dan saya ada bersama mereka, sebagian mereka berkata kepada sebagian yang lain : “Kalian telah menyebut apa yang sampai dari kalian dan apa yang sampai kepada kalian darinya, sehingga tatkala dia menghantam kalian dengan apa yang tidak kalian sukai, kalian malah membiarkannya..!” Saat mereka sedang seperti itu, tiba-tiba muncul Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam, maka mereka langsung menyerbunya bersama-sama, terus mereka mengepungnya seraya mengatakan kepadanya : “Kamu yang mengatakan ini dan itu”. Ini tatkala telah sampai berita kepada mereka tentang beliau berupa celaan terhadap tuhan-tuhan mereka dan dien mereka.

Dia berkata: Maka Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam berkata: “Ya, sayalah yang mengatakannya.”

Dia berkata: Sungguh saya telah lihat seorang di antara mereka memegang leher bajunya.

Dia berkata: Dan Abu Bakar Ash Shiddiq Radhiyaallahu ‘Anhu berusaha menghalanginya seraya berkata sambil menangis: “Apakah kalian akan membunuh orang karena mengatakan Rabb saya Allah? Kemudian mereka pergi meninggalkannya. Sesungguhnya itu adalah hal paling dahsyat yang dilakukan terhadap beliau”. (7036 dari Al Musnad) Tahqiq Ahmad Syakir, beliau berkata: “Isnadnya shahih.” Dan dalam satu riwayat dalam Al Musnad juga 2/204 bahwa Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam dalam kedua kalinya saat shalat di pinggir Ka’bah, tiba-tiba muncul ‘Uqbah Ibnu Mu’aith dan terus menarik pundak Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam dan melilitkan baju beliau pada lehernya, terus dia mencekiknya dengan keras, kemudian muncullah Abu Bakar Radhiyaallahu ‘Anhu dan beliau menarik pundak ‘Uqbah dan terus menyingkirkannya dari Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam dan berkata: “Apakah kalian akan membunuh orang yang mengucapkan tuhanku adalah Allah sedang dia telah datang kepada kalian dengan bukti-bukti dari Rabb kalian.”

LANJUT >>

Islamic Media Ibnuisa
PUSTAKA ISLAM
HOME